Monday, April 25, 2005

Divorce Court Judge Mablean Ephriam, ESQ

Image hosted by Photobucket.com

"When Michael met Carissa, he thought she was a complete knockout. He loved showing her off but when she became pregnant and gained 100lbs., he began calling her names. He gained weight as well, but believed it was okay for a man to be large. Carissa was sick of his treatment and how she felt physically, so she decided to make a change and go on a diet. Unfortunately, Michael never changed his attitude towards her, so Carissa packed up his belongings and told him to get out!"

***

Image hosted by Photobucket.com

Begitulah sekilas cerita hari ini tentang pasangan yg mengajukan cerai di pengadilan dng Judge Mablean Ephriam, ESQ sebagai hakimnya dan direkam sebagai sebuah acara televisi yg cukup memikat mengikuti jalannya persidangan yg kadang alot, menggemaskan dan kadang mengharukan. Episode tadi siang yg aku tonton adalah tentang seorang pria, Michael, yg digugat cerai istrinya selama 7 tahun, Carissa, dengan alasan bahwa Michael "meninggalkannya" setelah ia gain weight saat hamil anak Michael, dan setelah melahirkan sang anak, Michael pun masih melecehkan bentuk badan Carissa yg memang bertambah berat 100 pounds dibanding saat Carissa masih perawan dulu dan belum punya anak. Bila dilihat dari penampilannya, Carissa, biarpun terlihat gemuk, tapi masih menyisakan kecantikan dari raut wajahnya, bukti kejayaannya di masa lalu. Sedangkan Michael, masih terlihat tampan rupawan, tegap dan berbody tegap aduhai terjaga dengan baik, biarpun ia mengaku kalau ia juga bertambah berat setelah menikah dengan Carissa.

Dari pembicaraan yg aku dengar, jelas2 Michael menganggap Carissa, dalam hal ini adalah istri, sebagai TROPHY, yg hanya pantas bersandang di sampingnya sbg pria, bila dalam keadaan yg rupawan. Bila sudah jelek dan kusam, lantas dicampakkan. Ia sendiri mengakui bila ia tidak lagi tertarik pada istrinya yg gemuk itu, dan beralih ke perempuan lain. Ia bilang ia tidak suka perempuan jelek yg gemuk dan tidak bisa menjaga badannya.

Sungguh kasihan ya si Michael itu? Aku yakin umurnya sudah mencapai 30 tahun, tapi mengapa masih berpikir layaknya seorang remaja saja? Yang membuat aku makin ngga mengerti, kenapa kalau dia ngga suka liat istrinya gemuk lantas ngga nyaranin istrinya ikutan program diet atau yg sejenisnya, kan banyak banget di Amerika ini? Toh yg dikandung itu anak dia sendiri, bukan anak orang lain?

Agak geram aku melihat gaya pria necis tersebut di layar televisi. Dan memang jelas tergambar dari kata2 yg dia ucapkan kalau dia itu type2 pria yg masih termakan teman. Kalau teman dia bilang A ya dia ikut A. Lucu ya? Uda nikah kok masih lebih berat teman dari pada istri. Dia mengaku malu waktu temannya bilang istrinya overweight. Dia ingin teman2nya memuji istrinya as a hot mama sehingga egonya sebagai laki2 bisa terpuaskan. What the hell?

Judge Mablean pun terlihat geram terhadap si Michael ini, kok tega2nya ninggalin anaknya, darah dagingnya sendiri, sejak si Marcus (nama anaknya) berusia 3 tahun, sampai sekarang pun ia belum pernah menjenguk Marcus lagi. Seenggak2nya kalo ngga mau sama mamanya, dia harus tetap bertanggung jawab kepada anaknya donk?

Waktu ditanya berapa penghasilan bulanan si Michael ini, dia jawab "twelve hundreds dollar per month" ... yikes! aku jadi mikir,

"Gile nih cowok dah kere, eh kekanak2an lagi .. uda ah, mbak, tinggalin aja"

Tapi aku agak ngenes juga pas si Carissa bilang kalo dia jg gak kerja ... waduh, what's wrong with that people sih? Padahal penampilannya necis2, keren2, punya anak, masak iya gak niat kerja dng gaji yg lebih dari itu, terutama buat menghidupi si Marcus dan menabung buat masa depan Marcus kelak?

Di saat terakhir acara, Judge Mablean mempertemukan Michael dng anaknya, Marcus di ruang kerja pribadi Judge. Mengharukan, Michael yg tadinya kelihatan menggemaskan (minta ditabogh!!!), luluh dalam tangis dan tak mampu berkata apa2. Dia hanya minta maaf krn tidak bisa hadir di sisi Marcus selama ini. Dan ketika Judge bilang pada Marcus, apakah ada yg ingin disampaikan pada ayahnya, si kecil itu bilang: "I love you" ....

Bayangkan saja, perbuatan ayahnya yg telah mentelantarkannya selama 4 tahun dibalas dengan kata cinta oleh seorang anak sekecil Marcus itu.

***
Sebagai seorang istri, Carissa juga terlihat kurang pandai memanfaatkan keadaan, terlihat dari saat ia ditinggal suaminya, ia tidak bekerja, tapi mengandalkan bantuan dari gereja untuk hidup sehari2. Terlihat ketidakmandiriannya dalam hidup, dan juga ketika Michael menambahkan selama mereka menikah Carissa tidak pernah memasak untuknya (biarpun ditegaskan kalau emang Carissa ngga bisa masak sejak gadis, tapi seenggak2nya kenapa ngga nyoba sih?), terus katanya Carissa juga tidak pernah bersih2 rumah. Lha terus ngapain donk tuh perempuan di rumah sehari2nya? Tidur? Memang kita ngga bisa nyalahin si Michael atau Carissa, mereka harus begini harus begitu. That's their life!

Yg membuat aku berpikir dalam adalah, ternyata masih ada orang yg lebih bodoh daripada aku dan suamiku dalam membina rumah tangga. Ternyata masih ada pria yg lebih kekanak2an daripada suamiku yg selama ini aku tuntut untuk "lebih dewasa dan bertanggung jawab sebagai seorang laki2 dan suami, serta seorang ayah" bila bersikap. Tapi aku sadar, suamiku adalah seorang dengan pribadi yg baik, dan berharap agar semakin hari kepribadiannya terbentuk lebih baik lagi dan berusaha memaafkan hal2 menyakitkan yg pernah ia lakukan padaku di masa lalu. Semoga aku bisa, aku kan lebih beruntung daripada Carissa ...

"I lose weight because I've tried very hard to lose it
and didnot gave up so fast,
but most of all, I lose weight because I wanted to,
for the sake of myself, not for anyone else".


***

Ide cerita dan foto courtessy of: http://divorcecourt.com/

Saturday, April 23, 2005

Siapa yg Lebih Beruntung

Bila aku sedang bercakap2 dengan teman2ku, via chatting atau pesan2 email, seperti biasa, kadang kala kami terlibat obrolan yg isinya temanku itu bilang kalau dia iri kepadaku, atau dia bilang aku beruntung sekali (daripada dia?). Kalau temanku bilang seperti itu, aku biasanya hanya tersenyum (emoticons smile mode on), biarpun dalam hati beribu sanggahan terhadap pujian temanku itu muncul, tapi aku lelah untuk berdebat. Biarlah orang lain menganggap aku beruntung, bukankah itu suatu karunia? Merasa beruntung, biarpun kenyataannya sungguh biasa2 saja, tak lebih dan tak kurang dari sesama teman2ku yg lainnya? (biarpun kalau dibanding dng orang2 yg tidak mampu, yg hidup di bawah kolong jembatan, dan kesusahan spt di perumahan kumuh Jakarta, jelas aku lebih beruntung "di satu sisi" yaitu bisa hidup layak dan tak kekurangan sandang, pangan dan papan - biarpun apt masih ngontrak). Dan dibanding orang2 kelas atas di Jakarta, yg hidupnya tidak pernah "tidur" barang sedetik pun krn otaknya terus berjalan memikirkan strategy bisnisnya, atau karena mereka selalu sibuk mengumpulkan materi, mengejar popularitas dan menghambur2kan uangnya untuk hal2 yg kurang perlu, jelas aku lebih beruntung. Karena aku bisa tidur nyenyak tiap malam tanpa harus takut bisnisku merugi dan aku tidak mengejar materi di dunia ini spt cara mereka mengumpulkan duit. Jadi aku lebih bebas stress daripada mereka).

***

Silvy bilang kepadaku,

"Waduh May, aku iri melihat foto2 kamu sekeluarga di Disneyland. Rasanya kepingin sekali ke sana jadinya. Mudah2an nanti ada yg mau menyeponsori aku lagi ya?"

Aku lagi2 tersenyum ... kali ini senyum pahit. Bayangkan saja, temanku Silvy, adalah sekretaris orang nomor satu di lembaga perbankan Indonesia yg baru2 ini dibubarkan. Kamu bisa bayangkan donk, gajinya berapa, dan bahkan aku mendengar kalau setelah kantornya dibubarkan, para pegawai di sana ramai2 jalan ke luar negri, menghambur2kan uang pesangon mereka yg jumlahnya bikin aku merinding (ternyata Indonesia itu kaya ya?).

Pernah aku berbincang2 dengan dia, dulu, dan lagi2 dia iri kepadaku. Dia bilang aku beruntung bisa tinggal di negri orang, sementara dia masih terpuruk di Jakarta2 saja. Waktu itu aku menghiburnya, aku bilang:

"Ah , sama aja kok, biarpun aku sudah ke Amerika, tapi aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di pulau Bali"

Kali itu dia yg tertawa ... mentertawakan kepolosanku, dan kebodohanku mungkin. Masak iya orang Indonesia belum pernah ke Bali? Eh, aku jujur kok, aku memang belum pernah liburan ke Bali, karena aku ngga punya uang untuk dihambur2kan untuk kesenanganku belaka. Aku bekerja so far, untuk menghidupi anak2ku, dan aku perlu banyak menabung buat rencana2 kami dan untuk anak2 ku kelak. Kebetulan saja sih sebelum sempat liburan ke Bali, aku sudah hengkang ke Amerika duluan.

Aku teringat saat aku lihat foto2nya di Friendster, dengan latar belakang jalan2 khas Eropa. Pastinya foto itu diambil saat dia dan rekan2 kantornya liburan ke luar negri ketika kantornya dibubarkan. Katanya sih ada yg membayari or bahasa kerennya "menyeponsori" perjalanan mereka. Jadi dia lebih beruntung donk daripada aku, yg pergi kemana2 harus merogoh kocekku sendiri dalam2 (sampai recehan2nya pun kepake buat membayar biayanya), sementara dia, tinggal duduk manis saja di pesawat tanpa pusing memikirkan biaya akomodasinya. So, siapa yg lebih beruntung dalam hal ini?

***
Seorang sahabat pernah berkata kepadaku,
"May, kamu beruntung banget bisa hidup di luar Indonesia yg kacau balau ini, macet dimana2, persaingan super ketat, polusi, kolusi, KKN ... memuakkan sekali."
Aku tersenyum .. kali ini manis sekali. Tapi lagi2 aku mengeluarkan kata2 untuk menghibur dia,
"Ah ngga juga kok Min, di sini memang enak, semua serba teratur, tapi kalau masalah persaingan ya sama, ketat juga. Kerjaan susah. dan terutama yg aku hadapi adalah masalah RASISME. Karena wajahku mirip dengan ras hispanik, maka bertambahlah perlakuan rasis terhadapaku, yg dianggap sebagai warga kelas sekian2 di negara ini."
Aku yakin ia pasti mengiyakan ucapanku. Biarpun aku tahu di lain kesempatan, ia akan mengulang lagi perkataan bahwa "aku beruntung" lebih daripada dia.
"Kamu beruntung May, punya suami keren, cakep, tinggal di negri semaju Amerika, dan punya kesempatan tinggal di rumah mengurus anak2mu, dibanding aku, tiap hari banting tulang jadi buruh, dikerjai dan diperbudak atasan, dianggap remeh karena bukan berasal dari ras yg sama dengan mereka, dan yg pasti sampai di rumah aku sudah capek sekali mau ngurusin anakku dan suamiku ... "
Aku ingat dia mengucapkan kalimat2 itu kepadaku, hal yg sama dengan yg pernah dia ucapkan kepadaku. Lalu akupun berkata, kali ini agak tajam dan lebih dalam daripada kata2 yg biasa aku ucapkan,
"Kamu jangan begitu Min, harusnya kamu bersyukur bisa diterima bekerja di institusi asing, yg gaji kamu jauh lebih besar daripada pekerja lain yg setara dengan kamu. Kamu diantar jemput pulang pergi, ngga usah repot mikirin pergi dapat omprengan atau ngga, pulang ntar naik apaan biar cepet sampe rumah. Kamu juga beruntung bisa pulang teng-go ... sementara orang lain sibuk mencari lemburan atau sengaja lembur biar pulangnya ngga terjebak macet. Masih banyak hal2 yg bisa kamu syukuri dari keadaan kamu sekarang ini, terlepas dari apa yg kamu banding2kan terhadap keadaanku."
Sekali lagi ia mengiyakan ucapanku.
Satu kalimat lagi aku tambahkan yg mungkin telak melegakan perasaannya,
"Biarpun suami kamu biasa2 aja bila kamu bandingkan dng suamiku, harusnya kamu bersyukur dia ayah yg baik bagi anakmu, dan setia sama kamu, daripada suamiku yg pernah berselingkuh ..."
Kali ini ia terdiam, aku rasa ia membenarkan ucapanku.
Bukan karena ia sahabatku maka aku tak bosan2nya menguatkan hatinya dan menghiburnya apabila timbul rasa iri akan keadaan orang lain yg "lebih" daripada dirinya. Menurut aku, tidak ada yg lebih dan tidak ada yg kurang, semuanya berbanding seimbang kecuali orang tersebut memang tidak mau berusaha dalam hidupnya dan tidak memiliki skala prioritas dalam meraih sesuatu. Dan tentu saja, tidak tahu bagaimana caranya mensyukuri apa yg telah ia raih, apa yg telah ia dapatkan, atau apa yg telah gagal ia lakukan di masa lalu. Menurutku semuanya patut disyukuri. Itu mungkin kunci senyumku selama ini bila mendengar teman2ku berkeluh kesah dan membanding2kan keadaan mereka denganku.
Syukurilah .... Baik dan buruknya hidupmu. Karena semua itu adalah karunia. Rumput tetangga memang selalu kelihatan jauh lebih hijau daripada rumput di halaman kita sendiri ... (tapi kita kan ngga merumput aka makan rumput, so why bother?????)

Wednesday, April 20, 2005

Laki laki dan Bra

Tadi sore, akhirnya, setelah sekian lama aku merengek2 kepada suamiku, minta dibelikan baju dalam perempuan a.k.a. bra baru, dengan alasan badanku sudah mulai mengurus sekarang, sehingga bra2 maternity yg aku pakai semenjak hamil dan melahirkan anak keduaku sudah kebesaran semua. Rasanya ngga nyaman sekali dan ketiakku suka sakit tergesek2 bra yg kebesaran itu. Belum lagi bagian belakang bra yg suka naik sampai ke ujung punggung, cukup menggangguku, padahal harusnya kan sampai di tengah2 punggung saja? Tadinya suamiku menawarkan aku membeli bra di Victoria Secret, suatu counter pakaian dalam yg WAH dan terkenal baik brand dan koleksinya yg cantik2, sexy dan tentu saja harganya juga bagus. Tunggu punya tunggu, temanku yg kebetulan bekerja di salah satu counter Victoria Secret, yg berjanji mau memberikan jatah employee discount-nya buatku, ngga ada waktu juga hingga kini untuk pergi belanja bra bersama2 dengan aku. Maklum lah, aku sibuk, apalagi dia. Sementara kebutuhan akan bra baru semakin mendesak, akhirnya aku memutuskan membeli di salah satu toko favorit ku, ROSS Dress for less, yg bagiku merupakan "surga belanja" dan "tempat menggali harta karun" ... maksudnya, kalau kita sedang mujur atau sabar memilih dan teliti mengorek2 diantara barang2 yg bejibun itu, bisa jadi kita akan mendapatkan very good bargain. Barang bagus, bermerk, harga ala kaki lima. Itulah sebabnya aku paling suka pergi ke ROSS biarpun hanya sekali sebulan saja (jangan sering2, bisa bokek nanti).

Sesampainya di ROSS, aku pun memisahkan diri dari suami dan anak2ku, aku langsung menuju ke rak pakaian dalam, sementara suami dan anak2ku pergi ke rak mainan dan buku. Tanpa membuang waktu, aku pun langsung bergerak memilah2 bra dari ujung rak yg satu ke ujung yg lain. Dari baris yg atas, sampai yg bawah. Biarpun sudah ada tanda yg memisahkan masing2 ukuran, bukan jaminan ukuran yg kita inginkan ada di lokasi tersebut. Namanya juga ROSS. Acak adul, tapi mengasyikkan. Pertama2 aku tertarik pada sebuah bra, keluaran Calvin Klein, warnanya hitam dan putih, dan ketika aku intip nomornya: Voila! ukuranku ... Kandidat nomer satu masuk ke dlm keranjang belanjaanku. Kemudian aku bergerak lagi, memilah2 lagi, dan menemukan satu lagi bra bermerk Calvin Klein, yg rasanya nyaman bila dipakai, ditilik dari jenis bahannya dan modelnya. Aku intip lagi nomernya, yes! nomerku. Masuk lagi ke dalam keranjang belanjaanku kandidat bra nomer dua. Sehelai bra putih dari bahan renda menarik perhatianku, keluaran Tommy Hilfiger. Hmmm, bagus juga nih, pikirku. Tapi setelah aku korek2 seluruh rak, aku tidak menemukan ukuranku untuk model tersebut. Agak kecewa aku jadinya, tapi perburuan jalan terus. Sampai akhirnya aku menemukan sembilan kandidat bra yg sesuai dng ukuranku, dan satu bra yg menurutku unik, tapi bukan ukuranku. Yah siapa tahu ternyata cukup, pikirku dalam hati. Lalu beranjaklah aku ke kamar ganti setelah sebelumnya aku menelpon suamiku, memberi tahu dia kalau aku mau mencoba dulu dan pastinya agak lama berada di kamar ganti.

Di dalam kamar ganti, aku mematut2 diriku dengan kandidat bra pertama yg aku pilih. Ah, terlalu ketat, modelnya juga aku kurang suka. Maka tidak lolos sensorlah kandidat bra yg pertama aku coba itu. Demikian pula dengan kandidat bra nomor dua dan tiga, terlalu ketat di badan, padahal nomornya sama. Hanya memang merknya berbeda. Itulah sebabnya penting sekali mencoba dahulu sebelum membeli, karena biarpun ukurannya sama, ternyata bila merk-nya berbeda akan berpengaruh juga terhadap kenyamanannya bila dipakai dibadan. Aku jatuh cinta pada bra Calvin Klein hitam putih tadi, dan setelah aku coba, benar2 luar biasa. Langsung tanpa ragu lagi aku memutuskan memasukkannya ke dalam list "to buy" ku. Juga terhadap bra putih berenda2 yg manis sekali dan nyaman aku pakai. Dan setelah mencoba kesembilan kandidat tersebut, aku memutuskan membeli lima buah bra yg paling nyaman dan pas di badanku.

Ah, rasanya susah sekali dan ribet sekali ya, padahal cuma beli bra doank? Itulah perempuan. Biarpun aku termasuk perempuan yg ngga terlalu concern terhadap penampilan, tapi untuk urusan bra dan baju dalam adalah hal yg primer buatku. Masak cantik2 tapi bra-nya butut? Kan malu? Lalu aku berpikir, memilih bra buat perempuan itu rasanya sama dengan memilih laki2.

Kenapa bisa begitu?

Begini, untuk memilih bra2 yg sesui dng ukuran dan nyaman di badan kita, kita perlu waktu yg cukup lama untuk memilih dan mencoba bukan? Bila kita suka pada satu model bra, jatuh cinta sekali, bisa saja kita kecewa bila ternyata ukuran kita tidak tersedia atau habis. Kebayang kan gondok dan sakit hatinya .... Atau, bila sudah menemukan model yg disuka, nomer yg dimaui, ternyata sewaktu dicoba hasilnya kurang memuaskan? Kurang terlihat sexy atau jatuhnya jelek di badan kita? Kecewa bukan? Tentu saja. Satu pemikiran lagi, bila kita sudah mencoba bra yg kita inginkan, model yg kita cintai sepenuh hati (tau kan rasanya kalo dah ngebet pengen beli barang?) dan ukuran yg sesuai dengan badan kita, tiba2 setelah kita pakai perdana ada yg membuat kita kurang nyaman memakai bra tersebut? Yg akhirnya kita mencampakkan bra kesayangan itu begitu saja di sudut lemari (sambil menggerutu kesal: "Uda mahal2 gue beli, eh gak enak lagi dipakenya, padahal gue dah nyoba lho?"

Demikian pula dengan laki2, untuk menemukan laki2 yg sesuai dengan yg kita ingikan, susah2 gampang, dan dalam kasus ini aku ibaratkan bagaikan seorang perempuan sedang memilih2 bra di ROSS dress for less. Misalnya sudah ketemu pria yg diidam2kan, belum tentu kan dia naksir sama kamu? Kalau sudah ngebet pengen kenal lebih jauh sama seorang pria tampan, eh taunya dia sudah merit atau uda punya pacar? Kesel kan? Atau sudah nunggu lama banget berjomblo2 ria, sampai akhirnya datang pria yg menurut kamu lumayan lah buat dijadikan kecengan, eh taunya diajak ngomong ngga nyambung? Atau sudah dapat pria yg sesuai, cocok diajak bertukar pikiran dan seiman, taunya hobby selingkuh? Atau laki-laki yg tampan dan berwibawa, bau harum parfum bermerk semerbak dari badannya, baju2 trendy yg dipakainya, belum lagi bawaannya mobil sekelas BMW, menambah rangkaian nilai plus di mata para perempuan, tapi ternyata dia tidak mau terikat oleh perkawinan, hanya mau berteman saja atau bersahabat, atau teman tapi intim? Ugh! Atau bila kamu setelah sekian lama mencari, menemukan satu kandidat pria yg pantas dipacari, tapi ternyata dia berasal dari suku dan agama yg berbeda dng kamu, shg impossible bagimu untuk menjalin hubungan lebih lanjut?
Ck ck ck .. susah ya jadi perempuan ...

Saturday, April 16, 2005

"Elo kan gak kerja, May?"

Aku ingat sekali waktu aku, suamiku dan seorang teman kami sedang bercakap2 di suatu sore, sembari menunggu makanan pesanan kami tiba, di sebuah restoran yg biasa kami singgahi,

Suamiku bilang "Aku ada tugas kuliah nih, gak dikerjain sejak kemarin, harusnya sih kemarin sore due-nya, tapi aku cuek aja ..."

Aku pun menimpali, "Duh, aku juga belum ngerjain tugas nih ... due datenya malam nanti ... gimana donk, Yang?"

Temanku ikut urun bicara, "Elo kan gak kerja, May?"

Bingung ya? Gini kondisinya, aku sekarang memang tidak bekerja kantoran lagi. Udah lama malahan, dan fokus sebagai ibu rumah tangga, mengurus kedua anakku dan satu suami (masih satu kok hehehe). Kira2 awal bulan September lalu, aku ambil kuliah untuk memperdalam bahasa inggrisku, sekalian aku berencana bila telah selesai dua kuarter per kuliahan, aku akan ambil test dan score IELTS-ku. Siapa tahu hasilnya bagus, jadi bisa dipakai untuk tambahan dokumen buat nglamar2 kerjaan kantoran lagi. Nah, kebetulan suamiku kemudian mengambil satu kelas di winter quarter, jadi kita sama2 ambil kelas online di term itu. Karena suamiku kerja di luar rumah, jadi otomatis dia jarang pegang komputer, sehingga lebih tidak ada waktu buat ngerjain tugas2nya dibanding aku, yg seharian ngendon di rumah dan bisa buka internet setiap saat. Mungkin itu sebabnya temanku bilang gitu ... karena aku ngga kerja.

Tapi ketahuilah wahai temanku, kadang aku mikir, memang aku ngga kerja seperti kamu, atau teman2 lain yg kerja di luar rumah, teman2 lain yg kerja dengan mendapatkan insentif - gaji dalam bentuk mata uang dan bonus2 lainnya. Aku memang tidak seperti itu. Tapi tetap saja aku BEKERJA. biarpun gajinya berbentuk kepuasan batin dan keikhlasan menjalaninya. Capeknya? Jangan ditanya. Bosannya? Sama lah kaya kamu bosan kerja di kantor yg itu2 aja. Bedanya? Aku ngga bisa quit dan ganti kantor seperti kamu bila bosan dng kantor dan kerjaan kamu maka bisa seenaknya aja kasih surat pengunduran diri ke HRD dan cari kerjaan lain.

Aku sudah mengalami gimana sih kerja kantoran itu, dan aku juga beruntung sudah mengalami sendiri gimana rasanya jadi ibu rumah tangga secara penuh dengan dua anak kecil yg badung (tapi lucu2 ...), jadi aku bisa membuat perbandingan diantara keduanya, dan kalau aku boleh memilih aku pasti akan pilih KERJA DI KANTOR.

Kenapa kok gitu?

Di rumah terus sama anak2 memang enak banget, capek tapi dibawa senang. Hanya saja buatku yg sudah terbiasa kerja kantoran, ketemu banyak orang, bersosialisasi ngga hanya sama yg itu2 aja dan ketemu orang2 dari berbagai bangsa, rasanya ada penurunan kualitas dalam diri aku ketika aku hanya di rumah saja mengurus anak2. Biarpun kalau dibandingkan menjalankan management rumah tangga jauh lebih bikin pusing daripada management perkantoran yg paling hanya aku amalkan 60%-nya sesuai dng di bagian mana aku ditempatkan di perusahaan tersebut. Kalau management rumah tangga? 100% harus diterapkan, dan yg njalanin kan cuma dua orang dewasa beserta dua nak kanak nan badung tapi lucu itu :)
Image hosted by Photobucket.com
Sama seperti ketika bekerja kantoran, aku pun punya schedule tetap setiap harinya, bahkan tidak pernah berhenti biarpun sedang weekend sekalipun. Rutinitas sehari2 yg membosankan juga aku alami di rumah, sama spt waktu kerja kantoran, kadang rutinitas yg itu2 aja membuat kita kurang tertantang shg memutuskan untuk keluar dari kantor itu dan mencari kerja di tempat lain. Kalau aku, mana bisa quit dari tanggung jawab yg sedang aku pikul ini?

Emang ngapain aja sih lo May seharian itu?

Biasanya sih hari2 ku dimulai dengan membuka mataku yg masih melekat erat kelopaknya atas dan bawah, karena mau ngga mau aku harus nggendong bayiku keluar dari cribnya dan mulai menggantikan diapers dan memberinya susu. Setelah itu, nemenin dia main sampai tiba waktunya makan siang. Lalu anak pertamaku harus ke sekolah, emang sih tugas mengantar diambil alih bapaknya, tapi tetap aja aku pada saat yg bersamaan harus menyiapkan makan siang buat keluarga, yg kadang aku persiapkan sejak malamnya sehingga siang harinya tinggal manasin atau manggang aja. Setelah itu makan siang sama2, nidurin si kecil dan aku mandi. Bersih2 ruangan wajib dilakukan karena aku punya bayi yg super jahil. Bila ada barang imut yg ditemukannya tergeletak di karpet maka dng cepat akan dilahapnya masuk ke mulut. Jadi aku harus ekstra bersih dan mem-vacum karpet setiap hari. Cucian piring (hal yg paling aku benci seumur hidup karena tempat cuci piring ngga pernah sepi dari piring2 kotor) harus bersih. Kalau ngga cepat2 dicuci maka sisa makanannya bisa menimbulkan bau. Gak enak donk kalau dapurnya bau dan kotor? Mencuci baju aku lakukan seminggu sekali, karena aku harus keluar ruangan untuk menuju ke ruang cuci bersama. Agak malas juga karena mesti bolak balik, dan prefer ngerjain pas ada suami shg anak2 ada yg jagain. Trus lipet2 baju deh. Kalau ngga cepet dilipet resikonya numpuk, or mesti aduk2 tumpukan cucian bersih kalau mau cari baju idaman yg pengen dipake hari itu.

Ngurusin bayi kecilku agak2 menyita waktu karena dia menderita eczema yg cukup parah, sehingga aku tidak boleh alpa mengoleskan moisturizer super tebal ke seluruh permukaan kulitnya. Belum lagi masalah diapers, dikit2 ngganti karena kalau pipis sekali aja dia sudah ngek ngok (kaya biola rusak hehehe). Sekarang si kecil sangat manja karena harus ditimang2 sebelum tidur. Tapi aku lakukan saja, karena dulu anak pertamaku pun aku perlakukan demikian, supaya adil dan merata.

Kegiatan yg berhubungan dengan diriku pribadi baru bisa aku lakukan setelah anak2 tidur malam. Jadi aku biasanya berolah raga sekenanya, lalu menikmati makan malamku dan nongkrong di depan computer, mengutak-atik blogku, atau mengkoordinir blog dan account situs pertemanan eks teman2 ku di akademi, kadang chatting dengan teman2 di tanah air selain tentu saja ngobrol dengan sesama orang gila di ngupils :p Kebiasaanku yg satu ini sangat menyita waktuku sehingga bisa jadi sampai subuh aku masih terpaku didepan computer dengan asyiknya. Kadang kala aku nginternet sembari masak, supaya waktunya efisien. Kadang aku buat cake dan kue2 untuk sangu suamiku bekerja, sekaligus menyiapkan masakan utama untuk makan siang esok harinya, terutama kalau suamiku kerja aku harus masak agak banyak supaya ada sisa untuk dibawanya bekerja. Kadang aku membuat roti dan kue2 ekstra bila ada teman suamiku yg "special request" kepingin dibuatin kue2 khas Indonesia. Bila ada kesempatan mengerjakan sesuatu yg menghasilkan uang, spt misalnya membantu mengerjakan paper atau membuat kue2 pesanan teman, dengan senang hati aku lakukan sampai subuh menjelang.
Kadang aku sampai tidak ada waktu tenang untuk sekedar nangkring di atas kloset, atau untuk menggosok kakiku dan menggunting kuku, karena dua bocah itu selalu ada disampingku dan meminta perhatian penuhku. Aku sampai lupa kapan terakhir aku mengoleskan lotion di kulitku sehabis mandi, kapan terakhir aku mengoleskan krim di kakiku, kapan aku terakhir mencukur bulu mataku.
What a hectic life, tapi aku senang.
Pokoknya aku baru bisa menghela nafas lega setelah si kecil tidur malam, dan diikuti si kakak beranjak ke peraduannya.

Hikmah buatku setelah mengalami itu semua?

Aku jadi bisa menghargai profesi pembantu dan baby sitter serta tidak lagi meremehkan para ibu yg tinggal di rumah karena aku mengalami sendiri gimana capeknya ngurusin tetek bengek rumah tangga dari A sampe Z sendirian. Apalagi aku ngga dibayar kan? Kalau aku capek, sapa yg mau bantuin aku? Ngga ada. Jadi mau ngga mau ya harus aku kerjakan semuanya. Ngga mungkin aku tega minta bantuan suamiku kalau ngga bener2 kepaksa. Karena kita emang sudah membagi2 tugas, dia yg kerja di luar mencari uang, dan aku yg kerja di rumah mengurus rumah tangga. Tapi aku tidak pernah mengeluh, buat apa mengeluh karena toh aku mau mengeluh kepada siapa? Biarpun kadang kala bosan, aku jugamikir kalau bekerja kantoran pun pasti suatu saat akan mengalami kebosanan juga bukan?

Jadi aku dan suamiku sama2 bekerja . Suamiku di luar rumah, aku di dalam rumah.

So jangan bilang aku ngga kerja lho, bisa marah aku nanti.

Thursday, April 14, 2005

Bercerai, Semudah itukah?

"Gile lu May, dikit2 minta cerai ... kasihan anak2 loe, masih kecil2 ... bla bla bla brugh brugh brugh gedubragh!"

Gitu deh jawaban sahabat2ku kalau aku cerita tentang perselisihanku sama Roy yg ujung2nya aku selalu mengancam CERAI ajah! Rasanya semakin lama hubunganku dengan dia semakin jauh. Aku sudah lupa tuh yg namanya romantic dinner bareng, atau emang dulu kita ngga pernah makan malem berduaan doank? Iya juga sih, waktu kita pacaran ngga ada yg namanya tiap malem minggu jalan ke Jakarta buat sekedar menghabiskan malam berduaan aja. Nonton bioskop? Cuma sekali. Makan di cafe? Dua kali saja. Sisanya? Ngendon di rumah tanteku yg nun jauh di ujung sana. Alasannya? Ngga ada mobil.

Emang aku ini sematre apa sih????

Image hosted by Photobucket.com

Aku bukan perempuan yg melihat materi dari seorang pria. Hanya saja waktu itu aku diwajibkan untuk memuaskan keinginan tanteku terhadap kriteria calon pria yg akan dijadikan pacarku.

"Harus seiman", katanya.

Itu aja kok syaratnya. Tapi gara2 dibutakan oleh keimanan itu, aku lupa menilai hal2 yg lain yg ternyata tak kalah penting dari prioritas utama tadi.

Aku salah memilih? Bisa jadi.
Bodohkah aku? Bisa jadi.

Aku salah karena terlalu mengikuti diktean orang lain daripada mengikuti kata hatiku sendiri. Aku salah karena tidak sabar menunggu datangnya my soul mate ( I do believe in soul mate ) dan ngga bisa menahan nafsu dan tidak tahu kontrasepsi tapi sok nyoba2.

Aku bodoh karena aku membutakan diriku dan cenderung tidak percaya pada kemampuanku sendiri dan menyetarakan levelku dengan pria seperti dia. Harusnya aku percaya diri dan sadar kalau I cannot rush things terutama jodohku.

Lengkap sudah penderitaanku saat Ibunya benci padaku setengah mampus. Belum lagi perselisihannya dengan kakak kandungku, membuat aku makin ngga tahu mau memihak pada siapa.

Kenapa aku berani menawarkan perceraian? Semudah itukah?

Karena aku sekarang sadar. Aku yakin akan kemampuanku sendiri bahwa aku bisa maju setelah lepas dari cengkramannya. Aku tidak perlu lagi memperlambat langkahku hanya untuk menunggu-nya mencapai garis finish. Aku bisa hidup dan menghidupi diriku sendiri WITH OR WITHOUT HIM.

Tapi apa perlu cerai segala?

Bercerai hanyalah memutuskan salah satu ikatan dari ribuan ikatan yg telah timbul sebagai dampak dari pernikahan. Apa bener bisa berpaling 100% dan melupakan laki2 itu dan maju terus pantang mundur menyongsong masa depan cerah ceria?

Aku rasa, tanpa perlu bercerai aku juga bisa menjadi diriku sendiri, makin memperkaya diriku, menjadi apa yg aku mau, melakukan apa yg aku suka dan mendengarkan kata hatiku ... Sebenernya sih bisa, cuma banyak hal yg mesti dikalahkan terlebih dahulu terutama egoku dan juga sifat terlalu perfeksionisku. Aku dan dia jelas berbeda, mengapa harus disatukan? Berbeda bukanlah dosa, tapi mengapa tidak saling mengisi dan mendukung satu sama lain? Sekali lagi mengapa perbedaan diantara kami tidak diselaraskan instead of disatukan.

Well my friends, that's what I'm doing right now :)

Wednesday, April 13, 2005

Pria Idaman, Seperti Apa sih?

Image hosted by Photobucket.com


Barusan aku forward foto2 pria peserta reality show Mr. Romance di sebuah channel lokal ke mailing list tempat aku bertukar kata setiap harinya. Kebetulan aku salah satu fans acara ini, terlepas dari ke-aduhai-an body para pesertanya, aku lebih suka menikmati suguhan aneka tantangan yg harus dilakukan para peserta dan aku pun sibuk menilai sendiri apa2 yg sudah mereka lakukan. Sepertinya untuk memainkan emosi para penonton, sengaja diatur ada dua kubu, satu kubu positif yg digawangi oleh peserta bernama TJ, dan satunya kubu negatif yg diwakili oleh peserta bernama Tonny. Aku tentu saja lebih suka memihak TJ, karena menurut penilaianku, secara fisik dia OK, secara personality juga menarik dan keseluruhan nilai gabungan tersebut menimbulkan kesan yg mendalam dari diri seorang TJ. Dibandingkan dengan Tonny, yg menurutku wajahnya terlalu kelaki2an (semua yg serba terlalu sepertinya kurang oke ya?), body-nya yg terlalu kekar (maklum lah dia berprofesi sbg Personal Trainer) dan lagi tatapan matanya terlalu menakutkan bagi seorang perempuan biasa seperti aku (yg tidak mengharapkan apa2 dan tidak berfantasi terlalu tinggi dari seorang laki2). Jadinya malah mebuatku takut.

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Lucunya waktu aku forward foto2 tersebut ke mailbox ipar kesayanganku, yg langsung dibalas olehnya hanya dalam hitungan detik, katanya,

"Gue gak selera liat cowok2 berbody besar2 gitu ... "

Aku mikir, sama donk kalo gitu. Trus seleranya seperti apa donk?

Susah emang buat perempuan seperti aku, melihat gambar2 pria (yg katanya) sexy atau gambar2 seronok para pria yg membuka bajunya dan menunjukkan otot2 mereka yg menggembung bak popeye the sailor man ... sungguh buatku biasa2 saja.

Bohong kali lu May?

Bener kok. Buatku seorang pria itu dinilai sexy dari total nilai keseluruhan. Ngga cuma body-nya aja. Aku lebih suka berada di dekapan pria berbadan kerempeng, asal dia bisa membuatku merasa nyaman dan aman berada di sampingnya. Aku lebih suka dibelai2 emosiku dan diajak bicara berjam2, daripada begitu ketemu langsung berciuman dan beradegan seksual. Aku merasa lebih nyaman didekat pria yg bisa aku mengerti jalan pikirannya, bisa dimengerti tapi sulit ditebak rasanya lebih menatang bukan? dan yg membuatku terus bertanya2 tentang hidup ini serta memancing gairah keingintahuanku akan hal2 yg aku tidak tahu dalam hidup ini. Aku lebih suka pria yg bisa membuktikan pada dirinya sendiri sejauh mana dia berhasil menaklukkan hidup atas inisiatif dan kekuatannya sendiri, daripada pria yg mengandalkan nama besar orang lain dan bersembunyi di balik ketiak mereka. Aku suka pria yg kaya akan pemikiran2 yg kadang aku tidak pernah memikirkan hal2 tersebut karena aku anggap sepele, tapi ternyata bisa mengandung seribu satu pertanyaan dari hal tersebut; pria yg bisa membuatku semakin memperkaya diriku sendiri atas apa yg sudah aku punya selama ini?

Susah ya? Lagian sapa suruh nanya2 ke aku???

Foto2 courtessy of http://www.oxygen.com/MrRomance/

Diomelin, emang enak?

Suatu malam, aku teringat akan foto2 masa kanak2ku yg dikirimkan oleh ipar kesayanganku kepadaku via email. Katanya,

"Supaya loe bisa bernostalgia dengan wajah lama loe ... "

Aku cuma ngakak waktu itu. Terus aku ingat akan foto2 itu kembali, dan kebetulan aku punya teman ngobrol yg berasal dari masa kecil yg sama, nun jauh di desa terpencil di timur pulau Jawa tersebut. Seperti biasa kami sering bertukar kabar, saling nunjukin foto dan cerita2, mendengarkan satu sama lain atau tepatnya mendengarkan si A berbicara sementara yg lain kebanyakan pasifnya karena keterbatasan kemampuan berinternet dari tempat mereka berdomisili. Aku sih sering ngobrol sama mereka karena memang aku cocok dengan si A, bahkan baik juga dengan si B, si C, dan si D yg notabene baru kenal (tapi dulu sih sering liat di sekolah) setelah digabung oleh si A dalam satu lingkaran hubungan per-emailan yg tak putus2nya itu. Memang sih aku lihat si A yg selalu aktif bicara sementara lainnya sekali sekali saja, tapi aku suka mendengarkan cerita2nya, dan sesekali aku berkomentar tanda aku perhatian padanya. Demikian pula dia selalu memberikan jawaban dan respons atas cerita2ku, dan atas curhat2ku kepadanya. What a good friend, aku pikir. Hingga suatu saat ... gara2 foto2 lama yg kukirimkan kepada mereka via email.

"Lain kali kalau ngirim attachment dicek dulu donk ... gara2 foto kamu size-nya terlalu besar, system di rumahku jebol! Suamiku sampai marah2"

Image hosted by Photobucket.com

Rasanya mukaku bagaikan ditonjok pakai balok es! (KO untuk kedua kalinya aku saat itu). Belum selesai dikecewakan teman yg satu, tiba saatnya jatuh untuk kedua kalinya. Tapi aku bangun lagi.

Aku membayangkan betapa marah suaminya ketika tahu gara2 ketololan teman istrinya yang mengirimkan gambar berukuran raksasa ke email mereka, sehingga berhari2 mereka tidak bisa membuka internet ataupun email2 mereka. Duh! Sungguh aku ngga bermaksud demikian. Saat aku melampirkan foto2 itu di emailku, komputerku baik2 saja. Cepat seperti biasa, jadi aku tidak merasa curiga sedikitpun terhadap ukuran gambar2 tersebut. Hanya aku perhatikan kok format gambarnya masih .bmp, bukan .jpeg seperti biasanya.

Aku hanya kaget akan reaksi yg sungguh dahsyat akibat dari attachment foto2 lamaku itu terhadap komputer temanku. Dan aku bisa membayangkan betapa marah dan kata2 apa yg dilontarkan suaminya mengomentari kebodohanku.

Aku malu.

Ternyata ngga enak ya diomelin orang? Aku sampai berkali2 minta maaf, saking ngga tau mau ngomong apa lagi kepadanya. Kata suamiku, menghiburku,

"Komputer teman-mu aja yg kurang OK, masak dikirimin attachment yg bukan virus kok sampai segitunya."

Aku agak lega mendengarnya.

Tentang ketidakikhlasan

Suatu malam ketika aku sedang sibuk berkutat di depan computer kesayanganku, tiba2 ada seorang teman memanggilku:

"Hai Ibu RT, apa kabar?"

aku terhenyak, ngga nyangka temanku akan memanggilku, setelah sekian lama ngga pernah ngobrol ataupun ketemuan di yahoo messenger. Awalnya kami berkenalan karena aku sering membaca blog dia. Pengalaman hidup yg telah membawanya berkelana dari satu negara ke negara lain, membuatku kagum dan tak bosan2nya ikut menikmati hasil liputannya yg tertuang dengan apik di dalam blognya. Dari sekedar say hi, sampai akhirnya aku sering kali mengunjungi blognya dan menuliskan komentarku untuk tulisan2nya. Aku merasa sudah menjadi temannya, biarpun hanya sekedar menorehkan kata di tag board atau blog comment-nya. Aku tak pernah absen membaca blognya hingga suatu saat aku harus pergi ke California untuk mengikuti ujian bahasa dan sekaligus mengajak anak2ku jalan2 ke disneyland. Sejak saat itu aku mulai jarang melihat blog teman2ku lagi, terutama blog dia. Dan memang kesalahan aku, semenjak aku merubah lay out blog anak2ku, aku lupa menyimpan alamat blog teman2ku di bookmark, sehingga aku kesulitan menemukan alamat mereka kembali.

Aku jawab, "Hai Bro, apa kabar? Di mana nih? Semoga baik2 aja ya .. bla bla bla ..."

Seperti biasa aku nyerocos tanpa titik koma, bagaikan kangen ketemu dengan teman baik yg sudah lama sekali tidak aku sapa. (Sungguh aku merasa dia tetap temanku, terlepas dari baik atau tidaknya). Tapi dia hanya menjawab datar, seperlunya, satu baris kalimat, dan satu baris kalimat lagi. Aku sendiri sampai lupa dia ngomong apa, saking lebih banyak aku yg mengetikkan pembicaraan baris demi baris. Yang aku ingat hanya tiba2 dia bicara satu baris kalimat yg cukup telak menohok mukaku:

"Kamu masih tinggal di alamat yg floriberta bla bla bla itu kan? Kok kemarin saya kirim kartu tapi tidak ada kabarnya sama sekali."

Datar dan tepat di sasaran. Aku malu. Malu sekali. Karena aku menerima kartu ucapan darinya, tapi aku lupa membalasnya. Aku lupa juga apakah aku sudah mengucapkan terima kasih di blog-nya, tapi aku yakin aku pasti sudah melakukan hal yg terakhir tadi. Tidak mungkin tidak. Aku bahkan lupa kutaruh di mana kartu darinya, yg cukup unik menurutku karena bergambarkan foto dirinya bersama anak2 dan orang2 khas dari benua dimana ia berada sekarang, disertai dengan satu lembar mata uang dari negara tersebut.

Aku pun beralasan, "Terima kok, aduh terima kasih ya, aku uda tulis kok di blog kamu kalau aku uda terima, dan aku jg uda ucapin terima kasih lho?"

Dia datar saja.

Aku pun mencoba memecahkan kebekuan, "Itu alamatnya kan yg di NY, kalau aku kirim ke alamat itu, bisa nyampe ngga ke kamu ya?"

Dia jawab, "Bisa kok ... (dan dia kasih lagi alamat dia yg di NY itu)".

Lagi2 datar, aku berusaha mencari alasan supaya bisa mengakhiri pembicaraan dengannya, karena aku merasa tidak nyaman dan tiba2 aku merasakan sesuatu yg menusuk hatiku. Sebenernya dia ikhlas ngga sih kirimin aku kartu tersebut? Melihat dari kartunya, aku yakin dia tidak hanya mengirimkannya khusus buatku saja, tapi pastinya ke ribuan teman2nya di dunia ini, karena kartu semacam itu harus dipesan dalam jumlah banyak kan? Mengapa lantas mengharapkan aku mengucapkan terima kasih kepadanya, setelah sekian lama kita ngga berjumpa? Bisa kan kirim kabar via email atau tulis di tag board blog-ku? Aku rasa, dia ngga pernah kok ngunjungin blog aku, sepertinya dia mau aku yg harus terus mengunjungi blog dia dan membaca cerita2nya. Aku merasa dipaksa.

Terus terang aku merasa ngga nyaman diperlakukan spt itu, rasanya perhatian dia meminta pamrih, balasan. Haruskah kita mengharapkan pamrih bila memberi sesuatu? Kau tahu sendirilah jawabannya ....

Sunday, April 03, 2005

Mereka yg sudah meninggal

Ngga tau kenapa, kok akhir2 ini aku sering teringat orang2 dekatku yg sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama2nya ... Tapi aku jarang memikirkan mamaku, eyang2ku dan omku; yg paling sering menghiasi pikiranku adalah teman2ku yg sudah meninggal. Aku sendiri ngga tau kenapa, mungkin krn aku merasa pernah dekat dengan mereka dan aku ngga tau gimana rasanya kalau sudah meninggal itu. Mereka masih semuda aku, mengapa Tuhan sudah memanggil mereka? Adilkah Tuhan itu dengan berbuat demikian?

Bagiku hidup itu indah. Kadang membosankan, kadang menegangkan, kadang menyedihkan, kadang memuakkan, dan kadang membuatku begitu bahagia. Suatu kombinasi yg pas bukan? Lantas bagaimana bila orang2 muda seperti teman2ku itu meninggal dunia di usia muda mereka, disaat teman2 yg lain sibuk membangun hidupnya dan mencari jati diri mereka? Apa ya maksud Tuhan dengan memanggil mereka?

Bagiku meninggal adalah akhir dari perjumpaan kita dengan orang2 di dunia ini. Mereka akan menuju alam yg lain, dimana mereka akan bertemu dengan orang2 lain yg sudah meninggal pula. Aku ngga tau spt apa alamnya, yg jelas berbeda dng yg di dunia ini. Rasanya bila ada kerabat atau teman yg meninggal, kita yg ditinggalkan akan sedih dan kehilangan. Jelas kehilangan krn kita tidak tahu kapan akan bertemu kembali dng mereka. Jelas sedih krn mungkin orang yg meninggal itu sangat berarti bagi kita, baik dan perhatian pada kita, atau kita punya kesalahan yg belum termaafkan satu sama lain dng si orang tsb. Orang yg sudah meninggal akan diingat kebaik2annya, mudah2an yg buruk2 akan dilupakan bahkan didoakan agar diampuni kesalahannya dan masuk ke surga. Sekali lagi meninggal itu sulit, krn di saat itulah timbul judgement dari orang2 di sekitar kita pada diri kita. Bila kita baik selama hidup di dunia ini, penilaian mrk akan baik dan yg diingat2 adalah kebaikan2 kita. Tapi apabila kita pernah membuat aib, berbuat jahat, berbuat hal2 yg memalukan lainnya, tentu yg akan dibicarakan orang adalah keburukan kita tersebut.

Aku pun turut mendoakan sahabatku Johanes Victor Manumpil yg meninggal karena penyakit lupus. Tubuhku lemas begitu mendapat kabar dari temanku di Jakarta kalau Joe sudah tiada. Kami cukup dekat dulu di SMA, bahkan setelah lulus SMA pun masih sering berhubungan. Biarpun ia sibuk di Bandung dng kuliah NHI-nya, dia masih sempat menelpon aku di Bekasi. Rasanya begitu banyak hal yg sudah kita share bersama, biarpun aku merasa dia pernah "menolak"ku, tapi aku tidak merasa sakit hati padanya. Itukah kekuatan persahabatan? Tapi aku tidak menyesal pernah mengaguminya. He was a wonderful friend to me and always be.

Friday, April 01, 2005

Ahhhhh Hari Ini Anak Pertamaku Ulang Tahun ...

Ahhhhh ... rasanya plong dadaku ... berakhir sudah hari yg bersejarah untuk anak pertamaku, Nigel. Sudah sejak semalam aku bernostalgia dengan pikiranku, membayangkan masa lalu dimana dia masih di dalam rahimku, saat dia aku lahirkan dan aku rawat sebaik yg aku bisa. Rasanya aku sudah tua ya? Empat tahun bukan waktu yg sebentar untuk seorang anak bertumbuh menjadi sosok bocah laki2 cerdas dan ngangenin seperti dia. Dia yg sudah menjadi perisaiku, melawan keegoisanku, kebodohanku, rasa malasku, kebebalanku .... ahhhh ... kasihan anakku itu. Semasa dia menjadi satu2nya anakku, aku terlalu acuh padanya ... aku sibuk dengan duniaku, pekerjaanku ... atau mengerjakan sesuatu tanpa mengindahkan dia. Aku sibuk mengeluh lelah dan capai ... sementara dia dengan senyum manis dan semangatnya mengajakku bergabung dalam dunia kanak2nya ... tapi mengapa aku tampik uluran tangan kecilnya dan tetap berkutat dengan duniaku ya? Apakah karena aku egois? Apakah karena aku bukan ibu yg baik?

Image hosted by Photobucket.com

Ahhhhhhhhhhhhhhhhh bullshit itu semua!!!... Aku sayang anakku.

Kadang pikiranku melayang ke atas awan. Membayangkan semua cita2 dan impianku semasa muda. Menyesali semua yg telah terjadi dan aku kerap membanding2kan ... antara apa yg sudah aku punya saat ini dan apa yg pernah aku punya dan telah pergi. Pantaskah itu aku lakukan setelah aku memiliki dia? Bocah kecil lucuku yg lugu dan sering kali lebih "pintar" dan lebih disiplin daripada aku? Dia yg dengan sempurna mengcopy segala tingkah lakuku hingga suatu malam disaat aku sudah terkantuk2 disampingnya, ia beranjak ke arahku sambil mengecup pipiku dan berujar "I love you, good night"? ... atau dia yg dengan sigap memelukku dan berkata "Don't cry, Daddy will be back very soon" dikala aku pura2 menangisi suamiku yg pamit untuk membuang sampah sebentar di luar apartment kami?

Ahhh sungguh lucu dia ... sungguh kasihan dia ...