Thursday, May 12, 2005

Maya IDOL

Image hosted by Photobucket.com
Bukannya aku berganti occupation jadi nyonyah Billy Idol lho? Ogah lah ya hehehe, tapi krn aku punya cerita menarik sebagai berikut:

Ngomong2 masalah komentar, ada temen kantor gw ikutan funky mom, dia itu selalu mengidolakan "Mamah Igenk" karena menurut dia, mamah igenk itu seorang ibu yg hampir sempurna, ibu rumah tangga yang ngurus rumah, suami, dan anak sendirian, tanpa pembantu. Udah gitu katanya, wajahnya mamah igenk ini kemayu banget. Trus tadi pagi dia ngeliat blog elo yang chavelli itu, dia langsung ke tempat gw, dengan mukanya yang lugu,bengong melongo gitu, dia ngomong,
"Ca, kok mamah igenk jadi begitu sich tampangnya?
Kenapa ama rambutnya? Kok cepak gitu?,
badannya gendut karena abis ngelahirin kali yaa?
Dia frustasi yaa ca karena kelamaan tinggal disana?
Waduhh kok maya jadi gitu sich???
gw ga jadi dech ach ngidolain dia, kenapa sich dia jadi gitu?
Gw ngikik aja denger komentarnya dia, sampe ga bisa jelasin kenapa loe berubahkatanya sekarang.
Ayooo Bunda maya, jawab pertanyaannya.... hehehhehehehe

***

Kalau kamu bertanya2, siapa sih Mamah Igenk itu? Jawabnya: Aku, dulu. Memang aku pernah iseng2 membantu memoderatori salah satu milis ibu2 muda di Jakarta, yg waktu itu cukup mendapat respons positive dari para milisters dan dari situ pula aku mendapat banyak teman virtual yg bahkan masih berhubungan baik denganku hingga kini. Banyak sekali jasa milis itu terhadap kehidupanku, dulu dan kini. Sayang, karena ada pertimbangan dan kekecewaan dalam diriku yg membuatku mundur dari sana. Selain aku merasa sudah tidak mampu lagi berusaha seorang diri, juga aku merasa aku sudah menciptakan suatu image yg "salah" mengenai diriku sendiri di mata orang lain, terutama orang lain yg tidak aku kenal baik dan hanya tahu aku sebagai seorang "Mamah Igenk" dan bukannya mengenal aku sebagai seorang "Maya".

Sebagai seorang moderator, aku berusaha menjalankan tugasku sebaik2nya, dan karena saat itu aku sedang senang2nya dengan masalah parenting, ngga heran kalau aku berusaha ikut aktif mendiskusikan setiap masalah2 yg dihadapi para member, sehingga terkesan aku itu selalu tahu semua jawaban akan permasalahan mereka dan saran2ku dapat diandalkan mereka dalam menyelesaikan problem2nya. Padahal sungguh bukan itu maksudku.

Aku takut bila terlanjur tercipta image yg demikian tentang diriku, maka aku tak lebih dari seorang CELEBRITIS, yg dijadikan idola oleh masyarakat tanpa mereka mau mengenalku lebih dekat sebagai seorang teman. Aku tidak mau mendiktekan kepada mereka, apa yg harus mereka lakukan. Sungguh bukan itu maksudku. Aku hanya ingin memancing minat milister yg lain untuk ikut urun rembug dan sharing bersama kami, tapi sayang justru yg terjadi adalah sebaliknya, di luar kuasaku sebagai moderator dan manusia biasa.

***

Ketika aku mendapat input tentang cerita di atas dari seorang temanku, aku tersenyum getir. Ternyata yg aku takutkan terjadi juga dan aku sudah bisa menduganya. Tapi aku merasa, tak sia2 aku keluar dari milis yg aku cintai itu, krn semakin cepat aku keluar, semakin cepat hal2 yg aku takutkan bisa diatasi dan mudah2an tidak terjadi. Aku ingin aku dianggap sebagai moderator dan teman mereka, bukan moderator yg ditakuti dan diidolakan luarnya saja. Sehingga biarpun aku berbuat hal2 yg aneh sesuai dng keinginan bebasku, mereka tidak akan kaget atau mencaci maki aku hanya krn mereka tidak tahu aku yg sesungguhnya atau dengan kata lain mereka TAHU aku tapi tidak MENGENALKU.

Itulah bedanya antara teman dan fans. Teman tahu apa yg terjadi pada diriku, pahit manisnya dan perjalanan hidupku, krn kami saling bertukar kabar dan cerita. Biarpun terputus hubungan, bila suatu saat tersambung lagi, kami tidak akan segan saling curhat dan bercerita, menceritakan kisah hidup kita yg sempat terpotong. Beda dengan fans, yg hanya tahu bahwa aku adalah seorang sosok idola yg selalu baik, selalu benar, selalu dikagumi dan selalu cantik. Bila tiba saatnya aku terlihat buruk, aneh dan sudah tidak populer lagi, maka aku akan dicampakkan; dicopot gelar "IDOL"-nya.
***
Jujur saja, aku tidak menyalahkan fansku untuk bersikap spt itu terhadap perubahan2 yg terjadi pada diriku saat ini. Karena buatku saat ini, aku bukan lagi "Mamah Igenk"; aku bahkan sudah lama tidak memakai nick itu setelah keluar dari milis tersebut. Aku ya aku, namaku Maya, seorang perempuan berumur 28 th, ibu dari dua anak dan istri dari seorang pria yg beruntung mendapatkan aku ... yg punya kehendak bebas untuk berbuat apa yg diinginkannya selama tidak merugikan dirinya sendiri dan keluarganya. Sekarang aku sudah menjadi "Mamah Igenk and Yoyo" ... sekarang aku lebih gemuk dibanding aku yg dulu, sekarang rambutku antik bin nyentrik ala rambut penabuh drum di band Blink 182, yg tentu saja tak ku sengaja melainkan memang setelah aku babat habis, rambutku tumbuh tegak ke atas dan tidak bisa ditidurkan biarpun sudah memakai jelly dan sejenisnya.
So what do you expect from me after the changes that I've done?
Masihkah kamu mengidolakan aku? atau masihkah kamu mau berteman denganku? Hanya karena aku berganti penampilan luarnya saja? Bila kamu adalah fansku, sungguh aku tidak menyalahkan pemikiran kamu kalau kamu sekarang membenci aku dan penampilan baruku. Bila kamu temanku, sungguh picik bila kamu memusuhi aku HANYA gara2 perubahan yg aku alami ini ... Mengapa? Karena seharusnya kamu tahu apa yg telah terjadi padaku selama ini, suka duka dan perubahan yg aku alami. Seharusnya kamu bisa memahami kehendak bebasku .. tapi aku sadar bahwa aku tidak bisa memaksamu untuk selalu setuju kepadaku dan selalu memaklumi keadaanku, wahai temanku. Maafkan aku sudah berkata bahwa sikap memusuhi aku adalah picik ... Sungguh aku berharap bila kau tak suka pada apa yg aku lakukan, katakanlah sejujurnya, wahai temanku ... supaya tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita.
You know, inside myself I've never changed. I am still the same person like the one whom you first met in the past ...
Will you accept me as I am like I do accept you
for who you are, my friend?
Image hosted by Photobucket.com
Aku bukanlah seorang sosok yg pantas dianggap sebagai seorang Kelly Clarkson dan kamu sebagai Simon Powell, Paula Abdul atau Randy Jackson-nya .. biarpun kamu bebas menilai aku semau kamu, tapi ingatlah bahwa aku tidak sedang berlaga untuk sebuah gelar pun di hadapanmu ...

Sahabat Sejati

Image hosted by Photobucket.com
Dialog antara seorang teman dan aku ...

"Siapa sih sahabat sejatimu, May? Kalau aku sih jujur aja, selama ini menempatkan Vero sebagai sahabat sejatiku. Bayangkan saja, sejak kecil kami sudah bersama2 ... "

Mataku nanar menerawang jauh ... sahabat sejati? Rasanya aku tak punya ...

Masa kecilku kuhabiskan di sebuah kota kecil nun jauh di ujung timur pulau Jawa, yg cukup berkesan dan menyenangkan bila ditilik dari sudut aku kenal banyak cowok imut yg ganteng dan bahkan sudah naksir beberapa cowok kecil yg rasanya pantas jadi kandidat pria cosmo bila mereka besar nanti. Atau bisa dibilang pahit, krn aku sudah tidak punya bapak lagi sejak kapan tepatnya aku lupa. Yg jelas setiap saat aku tanya kemana bapakku, mama pasti bilang:
"Papamu sedang berlayar"
... yg menyebabkan aku malah bangga krn otak kecilku yg polos mengira bahwa ayahku seorang pelaut. Seorang pelaut yg gagah berdada bidang, berseragam putih bersih dan bercambang menutupi sebagian pipi dan dagunya. Itulah gambaran ayahku yg ada di benakku waktu itu. Sampai pada akhirnya aku lelah menanti sang pelaut yg tak kunjung berlabuh.
Ke manakah engkau, Papa?

Hidup hanya dengan memiliki seorang mama, masih lah hal yg aneh pada saat itu krn aku belum pernah menemukan temanku yg hanya memiliki mama saja atau papa saja. Aku minder. Tapi aku bangga pada mamaku yg cantik, luwes, pandai bergaul dan pandai berbahasa Inggris, bahkan aku ingat ia sempat menjalin hubungan dengan seorang bule asal Amerika, yg dulu aku sebut dng Mister Sam. Aku tidak peduli apakah Mister Sam akan menjadi ayahku suatu saat nanti, ataukah aku akan tetap tidak punya ayah selama2nya krn saat itu aku sibuk dengan urusanku sendiri: bermain dan berkhayal. Mungkin krn aku lahir di bawah zodiac cancer, aku memiliki talenta imajinasi yg sangat kuat. Bisa2 aku habiskan seharian mengkhayal dan menyusun ribuan cerita bagaikan skenario film dimana tentu saja aku sebagai pemeran utamanya. Sayang bila ternyata hidupku tidak lah seindah khayalanku itu .. mamaku meninggal dunia saat aku duduk di bangku kelas 3 SD. Aku kehilangan teman terbaikku ...

Hidupku sepi, aku pun makin menyendiri, minder dan larut dalam kesedihan. Herannya aku tak menitikkan air mata saat orang2 itu menutup lubang di tanah dimana mamaku disemayamkan untuk selama2nya. Lagi2 hanya imajinasiku yg menari2 menciptakan aneka cerita yg indah tuk menghibur lara di hatiku. Tanpa mama, aku kehilangan petunjuk. Seorang perempuan kecil yg liar, tumbuh tak terurus.

"Teman? "
Bagiku teman2 masa kecilku hanya numpang lewat saja. Aku pun berganti2 teman dekat, dari kelompok yg satu ke kelompok yg lainnya, yg kira2 mrk mau berteman denganku yg kecil dan pendiam ini, atau aku rela mengekor menjadi bayang2 teman yg populer di kalangan sekolahku saat itu, setia bagaikan dayangnya tanpa diberi kesempatan tuk menonjolkan diriku sendiri. Waktu sekolah menengah pertama, lagi2 aku kesulitan dalam berteman, krn terus terang hampir 90% murid di sekolah katholik itu berasal dari ras yg sama, dan aku termasuk dalam 10% ras yg berbeda dng mereka, yg kebetulan dianggap kurang level tuk bergaul dng mereka yg wangi2, cantik2 dan kaya harta. Beruntung masih ada yg mau berteman denganku, biarpun aku terus berganti2 bergaul dengan kelompok satu ke kelompok yang lain, yg masih mau menerima aku sbg teman mereka.

Setelah aku dipindahkan ke Bekasi, mulailah timbul rasa percaya diriku. Mungkin karena saat itu aku sudah bertumbuh menjadi setara dengan gadis2 remaja seumuranku, setelah sebelumnya aku direndahkan krn bentuk badanku yg super kecil, berdada rata dan tidak populer di kalangan teman2 sekolahku. Di kota baru ini tidak ada yg mengenal aku sehingga aku merasa, inilah saatnya aku mencari jati diriku.

Aku mulai berkawan dengan teman2 baru di sekolah menengah atas, yg thanks god berasal dari ras yg sama denganku, sehingga aku merasa sebagai salah satu ras mayoritas dan berani bersuara serta mulai menonjolkan diriku. Aku mulai merasa diterima oleh semua kelompok dan mulai populer di kalangan sekolahku, selain tentunya krn aku pandai bergaul juga krn prestasiku yg luar biasa di sana. Sayang krn aku baru di kota itu, rata2 teman baruku pun sudah memiliki sahabat sejatinya masing2, sehingga misi mencari sahabat sejati buatku tidak mencapai sasaran.

Selepas sekolah menengah, aku masuk ke akademi homogen, perempuan semua, dan lagi2 aku kesulitan menemukan sahabat sejatiku. Apalagi aku tinggal terkukung di rumah kerabatku, sehingga aku tidak bisa bebas mengikuti gaya hidup teman2ku, tidak bisa mengikuti kegiatan2 seru mereka di luar kampus krn aku harus turut membantu aktifitas di rumah kerabatku. Saat akhir minggu, teman2ku sibuk merencanakan akan dugem di mana, aku hanya bisa bilang "pass ajalah" krn aku harus kerja rodi beres2 rumah dan mencuci pakaian. Saat teman2ku bisa dugem di hari biasa, aku harus tidur manis di rumah krn memang aku dilarang keluar malam dan tidak boleh kos.
Rasanya masa mudaku hilang begitu aja ..
berlalu dengan membosankan.
Ngga heran kalau kemudian aku susah mendapatkan pacar. Hingga aku bisa awet bertahun2 menjalin cinta dengan seorang cowok yg sudah aku cintai sejak aku masih kecil. Biarpun jarak memisahkan kami, aku di Bekasi dan dia di Yogya, kami terus bersurat2an selama bertahun2 dan pertemuan muka hanya terjadi sekali selama kita berhubungan. Selanjutnya aku yg memutuskan hubungan krn kerabatku memintaku mencari pacar yg nyata ... real .. tidak hanya melalui surat2 saja. Nyata atau tidak nyata buatku hanya masalah kehadiran, absence. Sedangkan dalam menjalin hubungan pertemanan, perasaan lah yg bicara.

***

Kembali lagi ke sahabat sejati, buatku semua TEMAN ku adalah sahabat sejatiku. Bila engkau sudah memutuskan tuk berteman denganku, yakinlah kau sudah menjadi salah satu sahabat sejatiku. Aku sudah merasakan menjadi second degree or third degree friend, yg rasanya aku kurang istimewa di mata mereka, dan aku tak mau engkau merasa demikian. Buatku semua temanku adalah ISTIMEWA.
Image hosted by Photobucket.com

Buatku, hanya ada dua kubu: teman dan opponent. Sekali aku memutuskan menjadikanmu temanku, ibaratnya sekalipun engkau menamparku dimuka umum atas kesalahan yg kau tuduhkan kepadaku, suatu saat aku akan memaafkanmu dan menerimamu kembali sebagai temanku.

***

Kemudian temanku itu bertanya,

"Bagaimana dengan kamu May, siapa sahabat sejati kamu?"

Aku menjawabnya dengan senyum ...
Kau tau sendiri kan tanpa aku harus menjawabnya.

Friday, May 06, 2005

"American Baby"

Image hosted by Photobucket.com
Jangan salah mengira isi tulisanku kali ini adalah tulisan tentang "Million Dollar Baby", film pemenang piala Oscar yg diperankan oleh Clint Eastwood dan Hillary Swank yg sempat menguras air mata salah satu teman cowoku yg kelihatannya dari luar cukup "preman" bila ditilik dari penampilannya :p ... melainkan tentang bayi2 yg dilahirkan di negara United States of America yg notabene akan mendapatkan hak mereka sebagai warga negara Amerika secara otomatis biarpun mereka boleh memilih apakah akan menjadi warga negara Amerika, atau negara lain sesuai dng hak yg mereka miliki, kelak bila bayi2 itu berusia delapan belas tahun.

Image hosted by Photobucket.com

Sesuai dengan kondisiku, aku adalah seorang pendatang di negara ini yg berasal dari Indonesia, sebuah negri yg kaya dan cantik, selain kaya harta tentu saja tak lupa kaya akan KKN: korupsi, kolusi dan nepotisme. Kesenjangan sosial di negaraku sangat tinggi sekali, bukannya aku ber-hiperbola, tetapi inilah kenyataan yg harus aku akui. Si kaya akan semakin kaya, dan si miskin akan semakin tertindas dan menderita tanpa punya kesempatan mengecap hidup sebagai orang kaya. Mimpi kali ye? Kalau kamu ngga percaya, cobalah tengok kondisi negaraku pasca tsunami di akhir tahun 2004 lalu. Kehidupan di wilayah lain sepertinya tidak terpengaruh akan derita yg dihadapi oleh saudara2 di wilayah yg terkena musibah. Apalagi kehidupan di kota Jakarta; dugem jalan terus, hura2 tak pernah surut biarpun aku yakin mereka2 itu sudah ikut menyumbang dana bagi para korban musibah tsunami. Di jalan2 masih terlihat mobil2 mewah, di mall2 tak pernah sepi dengan para ABG atau orang2 yg menenteng tas tangan made by designer kondang yg harganya bisa jadi ratusan dollar amerika (sebutlah merk Coach, Gucci, Fendi dan konco2nya); itu belum termasuk sepatunya, jam tangan, bajunya, celananya, kaca mata hitamnya dan baju dalamnya? Plus perhiasan dan aksesoris trendy yg melekat di badan mereka? Belum lagi bedak, lipstick, make up dan parfum yg dipakainya? Bila ditotal jumlah harga barang2 yg dikenakan mereka saat itu, per orang, secara generalisasi, bisa mencapai sekitar 1,000 US dollar plus plus ... Hebat kan "orang Indonesia" itu?

Lebih hebat lagi para anak orang kaya Indonesia yg tinggal di Amerika, tidak semua tentunya, tapi bolehlah kali ini aku ungkapkan hal2 yg menjadi trend di kalangan orang kaya Indonesia yg kebetulan berdomisili sementara di negara ini, yaitu "trend melahirkan bayi di Amerika supaya si bayi dapat kewarganegaraan Amerika". Maka mereka pun berlomba2 untuk hamil dan melahirkan di sini, dengan dua pilihan: melahirkan dengan biaya sendiri atau asuransi pribadi, atau dengan cara memanfaatkan bantuan kemanusiaan bagi orang yg tidak mampu alias cari gratisan. Kalau yg pertama sih, aku ngga ambil pusing, krn aku yakin para pelajar di Amerika itu rata2 anak orang kaya, yg pastinya sanggup membayar cash biaya melahirkan yg jumlahnya antara 3,000 sampai puluhan ribu US dollar, atau membayar asuransi kesehatan ratusan dollar per bulannya; mereka yg tidak usah membanting tulang sehari2, tapi bisa merasakan bersekolah di kampus yg harga per quarternya bisa mencapai 6,000 USD; trus yg bisa makan sehari 3 kali yg mana sekali sehari bisa nikmatin makan di restoran mewah? Mereka yg bisa beli mobil mewah, bisa baru atau bekas, tanpa usah pusing mikirin kredit mereka bakalan ditolak krn mereka bisa bayar secara CASH? Ngga usah pusing2 mikirin beli bensin (bensin mahal euy!) krn tinggal menggesekkan aja kartu kredit mereka? Toh ntar akhir bulan dikirimin papah lagi uang saku bulanan tuk hidup sehari2.
How beautiful their life is.

Tak lupa gaya hidup ala anak orang kaya mereka pun lekat dalam pergaulan mereka sehari2. Obrolan tentang barang bermerk sekelas Gucci, Fendi dan Louis Vuitton menjadi topik menarik untuk diperbincangkan di telpon. Maklum, gak ada kerjaan; yg sekolah kan rata2 suaminya, sementara istri nebeng hura2 aja sembari menikmati segarnya udara Amerika yg tentu saja lebih segar bila dibanding Jakarta yg sumpek, panas dan berdebu. Shopping spree bersama pun jadi ajang hiburan yg menarik bagi mereka, selain tentunya arisan buat sekedar kongkow2 di cafe2 dan ketemu teman2 segank lainnya, dan mencoba masakan dari satu restoran ke restoran mewah lainnya. Liburan keliling Amerika? Siapa takut? Dari ujung ke ujung benua pun mereka jalani, anytime mereka ada waktu. Harga tiket pesawat dan hotel berbintang bagaikan membayar tiket KRL jurusan Depok aja. Bisa dua kali atau lebih dalam setahun dihabiskan untuk refreshing keluar state asalnya, seperti misalnya saat libur pergantian quarter. Memang sih cuma masalah waktu yg menjadi kendala mereka, karena urusan duit bukan mereka yg mikir. Bener ngga sih?

Katanya orang tua mereka di Indonesia kaya raya; buktinya bisa membiayai mereka (suami istri lho?) kuliah dan hidup di negara yg biaya hidupnya cukup mahal ini. Mereka juga lulusan universitas ter-borju (bukan ter-"baik" lho?) di Jakarta, yg dengan bangganya selalu diutarakan setiap saat berkenalan dan berbincang2 dengan teman yg baru dikenal mereka. Mereka bangga akan fakta bahwa mereka kenal banyak orang2 penting di tanah air; dari anak pejabat A, anak konglomerat B bahkan sampai anak pembalap Z.
Wuih, bikin orang kere seperti aku ini merinding dan rasanya kepingin lenyap ditelan bumi saking mindernya.

Sebenarnya aku ngga mempermasalahkan hal2 borju yg mereka lakukan nor omongan2 besar mereka yg kadang memerahkan kuping orang tak punya seperti aku dan suamiku ini. Kami yg harus berjuang dan bekerja keras untuk membiayai kuliah dan hidup kami sehari2. Kami yg harus menabung dan menghemat pengeluaran belanja bila ingin beli suatu barang. Kami yg sudah kere, tapi mengapa ada anak orang kaya yg tega2nya menipu dan menggunakan hak kami di negara ini, sehingga pada akhirnya kamilah yg kena getahnya. Pengalaman2 itulah yg membuat aku jijik pada mereka ... sudah kaya, tapi memanfaatkan hak2 orang tak punya ... tidak tahu malu!

Image hosted by Photobucket.com

Nyambung lagi ke American baby ya .... yg paling memalukan adalah si anak2 orang kaya di Indonesia tadi yg memanfaatkan fasilitas dari pemerintah Amerika yg dalam hal ini memberikan bantuan bagi keluarga yg tidak mampu, tanpa membedakan apakah mereka sungguh2 legal berada di negara ini atau cuma sementara, dalam hal biaya persalinan dan makanan bagi anak2 berusia 5 tahun ke bawah. Apa ngga malu kalo orang2 tersebut memanfaatkan fasilitas melahirkan gratisan, sementara tiap harinya menenteng tas2 mewah yg minimal harganya $500 itu kemana2? Yg mana tiap jalan2 pasti ganti tas (yg mahalan lho harganya, bukan tas tak bermerk dan butut spt punyaku itu) dan dari foto2 di album online-nya kamu bisa menghitung kira2 berapa banyak koleksi tas bermerk yg dia punya?

Selain itu mereka juga mengejar gengsi, supaya akta kelahiran si anak "made in America" atau biar si anak dianggap keren bila suatu saat kelak menuliskan tempat lahirnya sebagai salah satu kota di negara United States of America. Yg paling memprihatinkan adalah pemikiran bahwa dengan memiliki american baby, maka suatu saat nanti mereka sebagai orang tuanya bisa disponsori untuk menjadi warga negara Amerika pula.
Senaif itukah?
Sayangnya iya ... Dan yg paling membuatku prihatin adalah kenyataan yg terakhir tadi, yaitu menggantungkan harapan si orang tua pada si anak kelak; membebankan masa depan mereka pada si anak, yg berarti mewajibkan si anak untuk meng-klaim kewarganegaraan Amerikanya tanpa memberikan kesempatan si anak untuk memilih sendiri apa yg mereka mau sesuai dengan kehendak bebas mereka?
Image hosted by Photobucket.com

Itulah sebabnya aku hanya tertawa (antara geli dan jijik) bila aku dengar mereka menggosipkan aku; yg kere dan yg ngga punya barang2 bermerk spt yg mereka miliki itu. Ngapain aku merasa rendah dari mereka? Wong kita sama2 memanfaatkan fasilitas2 gratisan dari pemerintah Amerika kok. Bedanya cuma aku benar2 berada di kategori orang yg perlu "dibantu" sementara mereka tidak. Aku melahirkan anak keduaku di sini karena memang kami memutuskan untuk hamil lagi setelah kasus infeksi rahimku diobati oleh dokter di sini, yg mana bukan totalitas merupakan kemauanku pribadi kami untuk beranak lagi disini, melainkan sedikit dipengaruhi oleh saran dokter untuk mencoba hamil setelah kondisi yg aku alami itu. Punya anak lagi merupakan suatu tantangan buat kami, terutama dalam hal finansial, krn tentu saja kami harus menabung ekstra untuk masa depan mereka, dan juga tentunya untuk membiayai pengeluaran kami sehari2.
Sebenarnya aku takut punya anak lagi, apalagi aku harus mengurus sendirian tanpa ada yg membantu. Bayangkan saja sewaktu aku melahirkan anak keduaku, tak satupun sanak saudara yg menemani aku. Hanya teman2 dekat yg sudah begitu baik bersedia mengulurkan bantuan bagi kami. Habis mau import tenaga bantuan dari tanah air, kami ngga punya uang. Keluarga kami (aku dan suami sama2 orphan) juga ngga punya uang sebanyak itu dan bila ada pun aku yakin mereka akan pikir2 sejuta kali untuk menghamburkan nominal sebanyak itu hanya untuk tiket pulang pergi Jakarta - Amerika.
Hidup kami memang keras dan mandiri, tapi kami bangga karena kami tidak serendah mereka yg aku sebutkan di kriteria di atas tadi.
Sekelumit fakta ... Oh Indonesiaku ...
*** Foto2 courtesy of many sources from Images.Google.com
keyword: American Baby***

Aku dan Elastigirl

Image hosted by Photobucket.com


Gara2 nonton film "The Incredibles" baru2 ini, aku jadi ngefans pada sosok Elastigirl, si mamah dalam keluarga tersebut. Sebenernya film ini sudah cukup lama launching DVD-nya atau bahkan sudah tersedia di Blockbuster, jadi kalo cuma mau nyewa aja sih dari dulu2 bisa. Cuma karena aku emang jarang punya waktu buat nonton film yg berdurasi lebih dari satu jam, jadi aku kurang tertarik buat menyewa. Anakku yg pertama baru menunjukkan minatnya pada film ini setelah dia melihat iklan2 film ini di channel televisi Disney, dan memang dia langsung jatuh cinta saat dibelikan sama bapaknya dan ngga berhenti2 menyetel film ini di DVD. Mudah2an sih DVD player lungsuran kami ngga jadi rusak karenanya ... Mau ngga mau karena anakku menyetel film itu terus menerus, aku pun nimbrung nonton. Dari yg cuma sekilas2 aja, sampai yg ngga mau beranjak dari sofa gara2 penasaran dng lanjutan ceritanya.

***

Image hosted by Photobucket.com


Elastigirl atau yg nama aslinya Helen Parr, digambarkan adalah sosok heroic yg girly, keperempuan2an karena biarpun jago baku hantam dia tak lepas dari sisi sensualitasnya; sexy tapi jagoan. Yg akhirnya bisa ditebak, bersanding dengan si Mr. Incredibles, atau yg nama aslinya Bob Parr, di altar pernikahan yg membuahkan 3 orang anak (yg badung2 dan masing2 punya super power seperti enyak babenya). Elastigirl dulu dan kini tidak berbeda jauh, tetap terlihat cantik dan sexy, hanya saja kini penampilan rambutnya yg lebih pendek bermodel bob membuatnya nampak lebih dewasa. Setelah mereka pensiun menjadi superhero, Elastigirl menjabat sebagai ibu rumah tangga sementara Mr. Incredible bekerja di perusahaan asuransi untuk menghidupi keluarganya.


Image hosted by Photobucket.com


Itulah sebabnya aku ngefans berat sama Elastigirl, selain cantik, sexy dia punya banyak kesamaan denganku. Lihat aja, so far rambut palsu favoritku persis sama dengan model rambut si Elastigirl, padahal sumpah mati aku ngga kepikiran untuk mencontek habis model rambutnya pada saat browsing katalog wig di internet (aku sih jujur aja, cari wig yg kualitasnya bagus, modelnya keren, warnanya oke dan harganya lagi sale).


Image hosted by Photobucket.com

Dia dan aku sama2 ibu rumah tangga yg kerjanya ngurus anak di rumah. Dia pun sempat mengalami krisis kepercayaan diri, saat dirinya harus kembali menjadi superhero guna menyelamatkan suaminya yg sedang dalam bahaya. Apa bisa dia melakukan hal2 super yg pernah dia lakukan di masa lalu? Tapi ternyata dia bisa membuktikan bahwa dia bisa menjadi dirinya yg dulu, yg super dan cerdik, biarpun harus berpikir seribu kali terutama saat melibatkan anak2nya dalam misi penyelamatan Mr. Incredible.
Image hosted by Photobucket.com
Elastigirl adalah seorang ibu rumah tangga yg mesti ngurus anak2nya sendiri di rumah tanpa ada yg membantu, aku pun demikian.

Saat mengurus anak2 di rumah dia telaten sekali, terlihat saat nyuapin si Jack Jack misalnya, dan tegas saat menengahi perselisihan antara Dash dan Violet. Atau saat ia berdebat dengan Mr. Incredibles karena curiga suaminya pulang malem terus. Perasaannya sebagai perempuan sama tajamnya dengan aku sehingga dia bisa mencium gelagat yg kurang beres pada suaminya, biarpun bukan hal2 negatif yg dilakukan sang suami, tapi cukuplah suatu hal yg ditutup2i yg bisa mengundang kesalahpahaman, yg dalam hal ini adalah bahwa si Bob sudah keluar dari perusahaan asuransi dan bekerja sbg superhero bayaran, yg mana karena sudah berkomitmen dengan Helen bahwa Bob akan mengubur masa lalu superheroic mereka, maka Bob ngga berani bilang2 kalau dia balik lagi jadi superhero demi uang. Dusta atau rahaisa kecil pun bisa tercium oleh kami, para istri.

Emang sih aku juga ngalamin sendiri kalau ada hal2 yg disembunyikan suamiku dariku, pasti aku merasa ngga enak. Dan so far instinct-ku selalu benar dan terbukti.

Image hosted by Photobucket.com



Tapi Elastigirl bisa kembali ke bentuk badan semula seperti saat ia belum melahirkan anak2nya, kenapa kok aku susah banget ya mau nurunin berat badan barang sekilo aja?


Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Elastigirl berani mengambil keputusan dan bisa kembali menjadi dirinya yg dulu, kenapa aku ngga? Kenapa dia bisa ingat dng baik apa yg bisa dia lakukan di masa lalu dan masih percaya diri saat melakukan hal2 itu kembali? Misalnya saja saat ia harus mengemudikan pesawat terbang setelah sekian lama ngga nerbangin pesawat karena sibuk ngurusin anak? Aku kan dulu seorang yg periang, suka bergaul dan senang berhubungan dengan orang lain, seorang pekerja yg ulet dan handal, dan disukai banyak orang, mengapa sekarang aku mengurung diriku sendiri dan membelenggu keinginanku untuk maju serta membuang kesempatan untuk memperluas wawasanku bekerja sama dengan orang lain? Mengapa aku ngga berani? Mengapa aku selalu ketakutan? Mengapa aku tidak percaya diri?

Elastigirl biarpun sudah beranak tiga tapi tidak kehilangan sisi sensualitasnya sebagai perempuan baik itu di mata suaminya atau penonton yg melihat film tersebut, kenapa aku baru beranak dua saja sudah berpenampilan ala pembantu sehari2nya dengan alasan tidak punya waktu mengurus diri sendiri, atau bisa dibilang aku kehilangan sensualitas dan gairahku sebagai seorang perempuan yg "menarik"?

***
Image hosted by Photobucket.com

Semua yg ada pada diri Elastigirl membuat aku berpikir, kalau dia bisa mengapa aku tidak, terlepas dari apakah dia adalah sosok kartun dan aku adalah manusia nyata. Semangatnya telah menggugah aku untuk menjadi perempuan yg bisa memajukan dirinya dan menggali apa yg aku punya; biarpun sekarang aku sudah jadi emak2 merangkap pembantu karena stuck di rumah terus, karena keadaan dan komitmen berdua suami. Biarpun aku bukan superhero tapi aku merasa aku memiliki kekuatan super power di dalam diriku, untuk menjadi apa yg aku mau, mewujudkan apa yg aku inginkan tanpa terbatas oleh occupationku sekarang ini, sebagai seorang ibu dan seorang istri.
You go, Girl!
***Foto2 courtesy of many sources from image.google.com
keyword elastigirl***