Thursday, May 12, 2005

Sahabat Sejati

Image hosted by Photobucket.com
Dialog antara seorang teman dan aku ...

"Siapa sih sahabat sejatimu, May? Kalau aku sih jujur aja, selama ini menempatkan Vero sebagai sahabat sejatiku. Bayangkan saja, sejak kecil kami sudah bersama2 ... "

Mataku nanar menerawang jauh ... sahabat sejati? Rasanya aku tak punya ...

Masa kecilku kuhabiskan di sebuah kota kecil nun jauh di ujung timur pulau Jawa, yg cukup berkesan dan menyenangkan bila ditilik dari sudut aku kenal banyak cowok imut yg ganteng dan bahkan sudah naksir beberapa cowok kecil yg rasanya pantas jadi kandidat pria cosmo bila mereka besar nanti. Atau bisa dibilang pahit, krn aku sudah tidak punya bapak lagi sejak kapan tepatnya aku lupa. Yg jelas setiap saat aku tanya kemana bapakku, mama pasti bilang:
"Papamu sedang berlayar"
... yg menyebabkan aku malah bangga krn otak kecilku yg polos mengira bahwa ayahku seorang pelaut. Seorang pelaut yg gagah berdada bidang, berseragam putih bersih dan bercambang menutupi sebagian pipi dan dagunya. Itulah gambaran ayahku yg ada di benakku waktu itu. Sampai pada akhirnya aku lelah menanti sang pelaut yg tak kunjung berlabuh.
Ke manakah engkau, Papa?

Hidup hanya dengan memiliki seorang mama, masih lah hal yg aneh pada saat itu krn aku belum pernah menemukan temanku yg hanya memiliki mama saja atau papa saja. Aku minder. Tapi aku bangga pada mamaku yg cantik, luwes, pandai bergaul dan pandai berbahasa Inggris, bahkan aku ingat ia sempat menjalin hubungan dengan seorang bule asal Amerika, yg dulu aku sebut dng Mister Sam. Aku tidak peduli apakah Mister Sam akan menjadi ayahku suatu saat nanti, ataukah aku akan tetap tidak punya ayah selama2nya krn saat itu aku sibuk dengan urusanku sendiri: bermain dan berkhayal. Mungkin krn aku lahir di bawah zodiac cancer, aku memiliki talenta imajinasi yg sangat kuat. Bisa2 aku habiskan seharian mengkhayal dan menyusun ribuan cerita bagaikan skenario film dimana tentu saja aku sebagai pemeran utamanya. Sayang bila ternyata hidupku tidak lah seindah khayalanku itu .. mamaku meninggal dunia saat aku duduk di bangku kelas 3 SD. Aku kehilangan teman terbaikku ...

Hidupku sepi, aku pun makin menyendiri, minder dan larut dalam kesedihan. Herannya aku tak menitikkan air mata saat orang2 itu menutup lubang di tanah dimana mamaku disemayamkan untuk selama2nya. Lagi2 hanya imajinasiku yg menari2 menciptakan aneka cerita yg indah tuk menghibur lara di hatiku. Tanpa mama, aku kehilangan petunjuk. Seorang perempuan kecil yg liar, tumbuh tak terurus.

"Teman? "
Bagiku teman2 masa kecilku hanya numpang lewat saja. Aku pun berganti2 teman dekat, dari kelompok yg satu ke kelompok yg lainnya, yg kira2 mrk mau berteman denganku yg kecil dan pendiam ini, atau aku rela mengekor menjadi bayang2 teman yg populer di kalangan sekolahku saat itu, setia bagaikan dayangnya tanpa diberi kesempatan tuk menonjolkan diriku sendiri. Waktu sekolah menengah pertama, lagi2 aku kesulitan dalam berteman, krn terus terang hampir 90% murid di sekolah katholik itu berasal dari ras yg sama, dan aku termasuk dalam 10% ras yg berbeda dng mereka, yg kebetulan dianggap kurang level tuk bergaul dng mereka yg wangi2, cantik2 dan kaya harta. Beruntung masih ada yg mau berteman denganku, biarpun aku terus berganti2 bergaul dengan kelompok satu ke kelompok yang lain, yg masih mau menerima aku sbg teman mereka.

Setelah aku dipindahkan ke Bekasi, mulailah timbul rasa percaya diriku. Mungkin karena saat itu aku sudah bertumbuh menjadi setara dengan gadis2 remaja seumuranku, setelah sebelumnya aku direndahkan krn bentuk badanku yg super kecil, berdada rata dan tidak populer di kalangan teman2 sekolahku. Di kota baru ini tidak ada yg mengenal aku sehingga aku merasa, inilah saatnya aku mencari jati diriku.

Aku mulai berkawan dengan teman2 baru di sekolah menengah atas, yg thanks god berasal dari ras yg sama denganku, sehingga aku merasa sebagai salah satu ras mayoritas dan berani bersuara serta mulai menonjolkan diriku. Aku mulai merasa diterima oleh semua kelompok dan mulai populer di kalangan sekolahku, selain tentunya krn aku pandai bergaul juga krn prestasiku yg luar biasa di sana. Sayang krn aku baru di kota itu, rata2 teman baruku pun sudah memiliki sahabat sejatinya masing2, sehingga misi mencari sahabat sejati buatku tidak mencapai sasaran.

Selepas sekolah menengah, aku masuk ke akademi homogen, perempuan semua, dan lagi2 aku kesulitan menemukan sahabat sejatiku. Apalagi aku tinggal terkukung di rumah kerabatku, sehingga aku tidak bisa bebas mengikuti gaya hidup teman2ku, tidak bisa mengikuti kegiatan2 seru mereka di luar kampus krn aku harus turut membantu aktifitas di rumah kerabatku. Saat akhir minggu, teman2ku sibuk merencanakan akan dugem di mana, aku hanya bisa bilang "pass ajalah" krn aku harus kerja rodi beres2 rumah dan mencuci pakaian. Saat teman2ku bisa dugem di hari biasa, aku harus tidur manis di rumah krn memang aku dilarang keluar malam dan tidak boleh kos.
Rasanya masa mudaku hilang begitu aja ..
berlalu dengan membosankan.
Ngga heran kalau kemudian aku susah mendapatkan pacar. Hingga aku bisa awet bertahun2 menjalin cinta dengan seorang cowok yg sudah aku cintai sejak aku masih kecil. Biarpun jarak memisahkan kami, aku di Bekasi dan dia di Yogya, kami terus bersurat2an selama bertahun2 dan pertemuan muka hanya terjadi sekali selama kita berhubungan. Selanjutnya aku yg memutuskan hubungan krn kerabatku memintaku mencari pacar yg nyata ... real .. tidak hanya melalui surat2 saja. Nyata atau tidak nyata buatku hanya masalah kehadiran, absence. Sedangkan dalam menjalin hubungan pertemanan, perasaan lah yg bicara.

***

Kembali lagi ke sahabat sejati, buatku semua TEMAN ku adalah sahabat sejatiku. Bila engkau sudah memutuskan tuk berteman denganku, yakinlah kau sudah menjadi salah satu sahabat sejatiku. Aku sudah merasakan menjadi second degree or third degree friend, yg rasanya aku kurang istimewa di mata mereka, dan aku tak mau engkau merasa demikian. Buatku semua temanku adalah ISTIMEWA.
Image hosted by Photobucket.com

Buatku, hanya ada dua kubu: teman dan opponent. Sekali aku memutuskan menjadikanmu temanku, ibaratnya sekalipun engkau menamparku dimuka umum atas kesalahan yg kau tuduhkan kepadaku, suatu saat aku akan memaafkanmu dan menerimamu kembali sebagai temanku.

***

Kemudian temanku itu bertanya,

"Bagaimana dengan kamu May, siapa sahabat sejati kamu?"

Aku menjawabnya dengan senyum ...
Kau tau sendiri kan tanpa aku harus menjawabnya.

3 Comments:

Blogger ika said...

dua hal yang jadi pertanyaan... Pendiam dan berbadan kecil berdada rata??? heuheueheueheueheu

9:19 AM  
Anonymous Anonymous said...

Ka, ge mo nambahin buat si AYAM: Kesian deh dia, udah pendiam, kecil, berdada ratak pulak! hiakakakkakks!!!!....Makanya kalo pas ABG disumpel pake kaen lap dada-nya biar gak rata! hiakakkakks! (ngakak teroz!)...

7:07 PM  
Blogger maya said...

saya tau si anonimus itu kamu winda!!!!! :))

11:11 PM  

Post a Comment

<< Home