"American Baby"

Jangan salah mengira isi tulisanku kali ini adalah tulisan tentang "Million Dollar Baby", film pemenang piala Oscar yg diperankan oleh Clint Eastwood dan Hillary Swank yg sempat menguras air mata salah satu teman cowoku yg kelihatannya dari luar cukup "preman" bila ditilik dari penampilannya :p ... melainkan tentang bayi2 yg dilahirkan di negara United States of America yg notabene akan mendapatkan hak mereka sebagai warga negara Amerika secara otomatis biarpun mereka boleh memilih apakah akan menjadi warga negara Amerika, atau negara lain sesuai dng hak yg mereka miliki, kelak bila bayi2 itu berusia delapan belas tahun.

Sesuai dengan kondisiku, aku adalah seorang pendatang di negara ini yg berasal dari Indonesia, sebuah negri yg kaya dan cantik, selain kaya harta tentu saja tak lupa kaya akan KKN: korupsi, kolusi dan nepotisme. Kesenjangan sosial di negaraku sangat tinggi sekali, bukannya aku ber-hiperbola, tetapi inilah kenyataan yg harus aku akui. Si kaya akan semakin kaya, dan si miskin akan semakin tertindas dan menderita tanpa punya kesempatan mengecap hidup sebagai orang kaya. Mimpi kali ye? Kalau kamu ngga percaya, cobalah tengok kondisi negaraku pasca tsunami di akhir tahun 2004 lalu. Kehidupan di wilayah lain sepertinya tidak terpengaruh akan derita yg dihadapi oleh saudara2 di wilayah yg terkena musibah. Apalagi kehidupan di kota Jakarta; dugem jalan terus, hura2 tak pernah surut biarpun aku yakin mereka2 itu sudah ikut menyumbang dana bagi para korban musibah tsunami. Di jalan2 masih terlihat mobil2 mewah, di mall2 tak pernah sepi dengan para ABG atau orang2 yg menenteng tas tangan made by designer kondang yg harganya bisa jadi ratusan dollar amerika (sebutlah merk Coach, Gucci, Fendi dan konco2nya); itu belum termasuk sepatunya, jam tangan, bajunya, celananya, kaca mata hitamnya dan baju dalamnya? Plus perhiasan dan aksesoris trendy yg melekat di badan mereka? Belum lagi bedak, lipstick, make up dan parfum yg dipakainya? Bila ditotal jumlah harga barang2 yg dikenakan mereka saat itu, per orang, secara generalisasi, bisa mencapai sekitar 1,000 US dollar plus plus ... Hebat kan "orang Indonesia" itu?
Lebih hebat lagi para anak orang kaya Indonesia yg tinggal di Amerika, tidak semua tentunya, tapi bolehlah kali ini aku ungkapkan hal2 yg menjadi trend di kalangan orang kaya Indonesia yg kebetulan berdomisili sementara di negara ini, yaitu "trend melahirkan bayi di Amerika supaya si bayi dapat kewarganegaraan Amerika". Maka mereka pun berlomba2 untuk hamil dan melahirkan di sini, dengan dua pilihan: melahirkan dengan biaya sendiri atau asuransi pribadi, atau dengan cara memanfaatkan bantuan kemanusiaan bagi orang yg tidak mampu alias cari gratisan. Kalau yg pertama sih, aku ngga ambil pusing, krn aku yakin para pelajar di Amerika itu rata2 anak orang kaya, yg pastinya sanggup membayar cash biaya melahirkan yg jumlahnya antara 3,000 sampai puluhan ribu US dollar, atau membayar asuransi kesehatan ratusan dollar per bulannya; mereka yg tidak usah membanting tulang sehari2, tapi bisa merasakan bersekolah di kampus yg harga per quarternya bisa mencapai 6,000 USD; trus yg bisa makan sehari 3 kali yg mana sekali sehari bisa nikmatin makan di restoran mewah? Mereka yg bisa beli mobil mewah, bisa baru atau bekas, tanpa usah pusing mikirin kredit mereka bakalan ditolak krn mereka bisa bayar secara CASH? Ngga usah pusing2 mikirin beli bensin (bensin mahal euy!) krn tinggal menggesekkan aja kartu kredit mereka? Toh ntar akhir bulan dikirimin papah lagi uang saku bulanan tuk hidup sehari2.
How beautiful their life is.
Tak lupa gaya hidup ala anak orang kaya mereka pun lekat dalam pergaulan mereka sehari2. Obrolan tentang barang bermerk sekelas Gucci, Fendi dan Louis Vuitton menjadi topik menarik untuk diperbincangkan di telpon. Maklum, gak ada kerjaan; yg sekolah kan rata2 suaminya, sementara istri nebeng hura2 aja sembari menikmati segarnya udara Amerika yg tentu saja lebih segar bila dibanding Jakarta yg sumpek, panas dan berdebu. Shopping spree bersama pun jadi ajang hiburan yg menarik bagi mereka, selain tentunya arisan buat sekedar kongkow2 di cafe2 dan ketemu teman2 segank lainnya, dan mencoba masakan dari satu restoran ke restoran mewah lainnya. Liburan keliling Amerika? Siapa takut? Dari ujung ke ujung benua pun mereka jalani, anytime mereka ada waktu. Harga tiket pesawat dan hotel berbintang bagaikan membayar tiket KRL jurusan Depok aja. Bisa dua kali atau lebih dalam setahun dihabiskan untuk refreshing keluar state asalnya, seperti misalnya saat libur pergantian quarter. Memang sih cuma masalah waktu yg menjadi kendala mereka, karena urusan duit bukan mereka yg mikir. Bener ngga sih?
Katanya orang tua mereka di Indonesia kaya raya; buktinya bisa membiayai mereka (suami istri lho?) kuliah dan hidup di negara yg biaya hidupnya cukup mahal ini. Mereka juga lulusan universitas ter-borju (bukan ter-"baik" lho?) di Jakarta, yg dengan bangganya selalu diutarakan setiap saat berkenalan dan berbincang2 dengan teman yg baru dikenal mereka. Mereka bangga akan fakta bahwa mereka kenal banyak orang2 penting di tanah air; dari anak pejabat A, anak konglomerat B bahkan sampai anak pembalap Z.
Tak lupa gaya hidup ala anak orang kaya mereka pun lekat dalam pergaulan mereka sehari2. Obrolan tentang barang bermerk sekelas Gucci, Fendi dan Louis Vuitton menjadi topik menarik untuk diperbincangkan di telpon. Maklum, gak ada kerjaan; yg sekolah kan rata2 suaminya, sementara istri nebeng hura2 aja sembari menikmati segarnya udara Amerika yg tentu saja lebih segar bila dibanding Jakarta yg sumpek, panas dan berdebu. Shopping spree bersama pun jadi ajang hiburan yg menarik bagi mereka, selain tentunya arisan buat sekedar kongkow2 di cafe2 dan ketemu teman2 segank lainnya, dan mencoba masakan dari satu restoran ke restoran mewah lainnya. Liburan keliling Amerika? Siapa takut? Dari ujung ke ujung benua pun mereka jalani, anytime mereka ada waktu. Harga tiket pesawat dan hotel berbintang bagaikan membayar tiket KRL jurusan Depok aja. Bisa dua kali atau lebih dalam setahun dihabiskan untuk refreshing keluar state asalnya, seperti misalnya saat libur pergantian quarter. Memang sih cuma masalah waktu yg menjadi kendala mereka, karena urusan duit bukan mereka yg mikir. Bener ngga sih?
Katanya orang tua mereka di Indonesia kaya raya; buktinya bisa membiayai mereka (suami istri lho?) kuliah dan hidup di negara yg biaya hidupnya cukup mahal ini. Mereka juga lulusan universitas ter-borju (bukan ter-"baik" lho?) di Jakarta, yg dengan bangganya selalu diutarakan setiap saat berkenalan dan berbincang2 dengan teman yg baru dikenal mereka. Mereka bangga akan fakta bahwa mereka kenal banyak orang2 penting di tanah air; dari anak pejabat A, anak konglomerat B bahkan sampai anak pembalap Z.
Wuih, bikin orang kere seperti aku ini merinding dan rasanya kepingin lenyap ditelan bumi saking mindernya.
Sebenarnya aku ngga mempermasalahkan hal2 borju yg mereka lakukan nor omongan2 besar mereka yg kadang memerahkan kuping orang tak punya seperti aku dan suamiku ini. Kami yg harus berjuang dan bekerja keras untuk membiayai kuliah dan hidup kami sehari2. Kami yg harus menabung dan menghemat pengeluaran belanja bila ingin beli suatu barang. Kami yg sudah kere, tapi mengapa ada anak orang kaya yg tega2nya menipu dan menggunakan hak kami di negara ini, sehingga pada akhirnya kamilah yg kena getahnya. Pengalaman2 itulah yg membuat aku jijik pada mereka ... sudah kaya, tapi memanfaatkan hak2 orang tak punya ... tidak tahu malu!
Sebenarnya aku ngga mempermasalahkan hal2 borju yg mereka lakukan nor omongan2 besar mereka yg kadang memerahkan kuping orang tak punya seperti aku dan suamiku ini. Kami yg harus berjuang dan bekerja keras untuk membiayai kuliah dan hidup kami sehari2. Kami yg harus menabung dan menghemat pengeluaran belanja bila ingin beli suatu barang. Kami yg sudah kere, tapi mengapa ada anak orang kaya yg tega2nya menipu dan menggunakan hak kami di negara ini, sehingga pada akhirnya kamilah yg kena getahnya. Pengalaman2 itulah yg membuat aku jijik pada mereka ... sudah kaya, tapi memanfaatkan hak2 orang tak punya ... tidak tahu malu!

Nyambung lagi ke American baby ya .... yg paling memalukan adalah si anak2 orang kaya di Indonesia tadi yg memanfaatkan fasilitas dari pemerintah Amerika yg dalam hal ini memberikan bantuan bagi keluarga yg tidak mampu, tanpa membedakan apakah mereka sungguh2 legal berada di negara ini atau cuma sementara, dalam hal biaya persalinan dan makanan bagi anak2 berusia 5 tahun ke bawah. Apa ngga malu kalo orang2 tersebut memanfaatkan fasilitas melahirkan gratisan, sementara tiap harinya menenteng tas2 mewah yg minimal harganya $500 itu kemana2? Yg mana tiap jalan2 pasti ganti tas (yg mahalan lho harganya, bukan tas tak bermerk dan butut spt punyaku itu) dan dari foto2 di album online-nya kamu bisa menghitung kira2 berapa banyak koleksi tas bermerk yg dia punya?
Selain itu mereka juga mengejar gengsi, supaya akta kelahiran si anak "made in America" atau biar si anak dianggap keren bila suatu saat kelak menuliskan tempat lahirnya sebagai salah satu kota di negara United States of America. Yg paling memprihatinkan adalah pemikiran bahwa dengan memiliki american baby, maka suatu saat nanti mereka sebagai orang tuanya bisa disponsori untuk menjadi warga negara Amerika pula.
Senaif itukah?
Sayangnya iya ... Dan yg paling membuatku prihatin adalah kenyataan yg terakhir tadi, yaitu menggantungkan harapan si orang tua pada si anak kelak; membebankan masa depan mereka pada si anak, yg berarti mewajibkan si anak untuk meng-klaim kewarganegaraan Amerikanya tanpa memberikan kesempatan si anak untuk memilih sendiri apa yg mereka mau sesuai dengan kehendak bebas mereka?

Itulah sebabnya aku hanya tertawa (antara geli dan jijik) bila aku dengar mereka menggosipkan aku; yg kere dan yg ngga punya barang2 bermerk spt yg mereka miliki itu. Ngapain aku merasa rendah dari mereka? Wong kita sama2 memanfaatkan fasilitas2 gratisan dari pemerintah Amerika kok. Bedanya cuma aku benar2 berada di kategori orang yg perlu "dibantu" sementara mereka tidak. Aku melahirkan anak keduaku di sini karena memang kami memutuskan untuk hamil lagi setelah kasus infeksi rahimku diobati oleh dokter di sini, yg mana bukan totalitas merupakan kemauanku pribadi kami untuk beranak lagi disini, melainkan sedikit dipengaruhi oleh saran dokter untuk mencoba hamil setelah kondisi yg aku alami itu. Punya anak lagi merupakan suatu tantangan buat kami, terutama dalam hal finansial, krn tentu saja kami harus menabung ekstra untuk masa depan mereka, dan juga tentunya untuk membiayai pengeluaran kami sehari2.
Sebenarnya aku takut punya anak lagi, apalagi aku harus mengurus sendirian tanpa ada yg membantu. Bayangkan saja sewaktu aku melahirkan anak keduaku, tak satupun sanak saudara yg menemani aku. Hanya teman2 dekat yg sudah begitu baik bersedia mengulurkan bantuan bagi kami. Habis mau import tenaga bantuan dari tanah air, kami ngga punya uang. Keluarga kami (aku dan suami sama2 orphan) juga ngga punya uang sebanyak itu dan bila ada pun aku yakin mereka akan pikir2 sejuta kali untuk menghamburkan nominal sebanyak itu hanya untuk tiket pulang pergi Jakarta - Amerika.
Hidup kami memang keras dan mandiri, tapi kami bangga karena kami tidak serendah mereka yg aku sebutkan di kriteria di atas tadi.
Sekelumit fakta ... Oh Indonesiaku ...
*** Foto2 courtesy of many sources from Images.Google.com
keyword: American Baby***


3 Comments:
makanya orang berlomba2 bisa duduk di parlemen, atau kabinet, atau "cuma" jadi cukong pejabat... atauuu.. buat apa?? duitttt duitt... Banyak tuh yang tadinya kemana2 naik metromini, dalam waktu ngga sampai 2 tahun sim salabim udah petentang petenteng naik Audi.. Tau2 udah kirim anaknya yang masih SD ke Singapur (nanti SMP ke Aussie, SMA ke Amrik...dst). Yang masih di Indo, rela ngeluarin puluhan ribu USD untuk masukin anaknya ke JIS... Dan.. teteub aja malu2in...
Sabar deh elastigal...suatu saat Tuhan pasti membalas sakit hatimu terhadap org yg sepenaknya under-estimate dirimu. Kerja kerasmu pasti kelak dapat bintang koq. Salam Tempe dari negara TEMPE dan dari aku yang masi makan tempe(Jenni ANIS)
iya ya, ka - windul, harus sabar :))
Post a Comment
<< Home