"Elo kan gak kerja, May?"
Aku ingat sekali waktu aku, suamiku dan seorang teman kami sedang bercakap2 di suatu sore, sembari menunggu makanan pesanan kami tiba, di sebuah restoran yg biasa kami singgahi,
Suamiku bilang "Aku ada tugas kuliah nih, gak dikerjain sejak kemarin, harusnya sih kemarin sore due-nya, tapi aku cuek aja ..."
Aku pun menimpali, "Duh, aku juga belum ngerjain tugas nih ... due datenya malam nanti ... gimana donk, Yang?"
Temanku ikut urun bicara, "Elo kan gak kerja, May?"
Bingung ya? Gini kondisinya, aku sekarang memang tidak bekerja kantoran lagi. Udah lama malahan, dan fokus sebagai ibu rumah tangga, mengurus kedua anakku dan satu suami (masih satu kok hehehe). Kira2 awal bulan September lalu, aku ambil kuliah untuk memperdalam bahasa inggrisku, sekalian aku berencana bila telah selesai dua kuarter per kuliahan, aku akan ambil test dan score IELTS-ku. Siapa tahu hasilnya bagus, jadi bisa dipakai untuk tambahan dokumen buat nglamar2 kerjaan kantoran lagi. Nah, kebetulan suamiku kemudian mengambil satu kelas di winter quarter, jadi kita sama2 ambil kelas online di term itu. Karena suamiku kerja di luar rumah, jadi otomatis dia jarang pegang komputer, sehingga lebih tidak ada waktu buat ngerjain tugas2nya dibanding aku, yg seharian ngendon di rumah dan bisa buka internet setiap saat. Mungkin itu sebabnya temanku bilang gitu ... karena aku ngga kerja.
Tapi ketahuilah wahai temanku, kadang aku mikir, memang aku ngga kerja seperti kamu, atau teman2 lain yg kerja di luar rumah, teman2 lain yg kerja dengan mendapatkan insentif - gaji dalam bentuk mata uang dan bonus2 lainnya. Aku memang tidak seperti itu. Tapi tetap saja aku BEKERJA. biarpun gajinya berbentuk kepuasan batin dan keikhlasan menjalaninya. Capeknya? Jangan ditanya. Bosannya? Sama lah kaya kamu bosan kerja di kantor yg itu2 aja. Bedanya? Aku ngga bisa quit dan ganti kantor seperti kamu bila bosan dng kantor dan kerjaan kamu maka bisa seenaknya aja kasih surat pengunduran diri ke HRD dan cari kerjaan lain.
Aku sudah mengalami gimana sih kerja kantoran itu, dan aku juga beruntung sudah mengalami sendiri gimana rasanya jadi ibu rumah tangga secara penuh dengan dua anak kecil yg badung (tapi lucu2 ...), jadi aku bisa membuat perbandingan diantara keduanya, dan kalau aku boleh memilih aku pasti akan pilih KERJA DI KANTOR.
Kenapa kok gitu?
Di rumah terus sama anak2 memang enak banget, capek tapi dibawa senang. Hanya saja buatku yg sudah terbiasa kerja kantoran, ketemu banyak orang, bersosialisasi ngga hanya sama yg itu2 aja dan ketemu orang2 dari berbagai bangsa, rasanya ada penurunan kualitas dalam diri aku ketika aku hanya di rumah saja mengurus anak2. Biarpun kalau dibandingkan menjalankan management rumah tangga jauh lebih bikin pusing daripada management perkantoran yg paling hanya aku amalkan 60%-nya sesuai dng di bagian mana aku ditempatkan di perusahaan tersebut. Kalau management rumah tangga? 100% harus diterapkan, dan yg njalanin kan cuma dua orang dewasa beserta dua nak kanak nan badung tapi lucu itu :)
Suamiku bilang "Aku ada tugas kuliah nih, gak dikerjain sejak kemarin, harusnya sih kemarin sore due-nya, tapi aku cuek aja ..."
Aku pun menimpali, "Duh, aku juga belum ngerjain tugas nih ... due datenya malam nanti ... gimana donk, Yang?"
Temanku ikut urun bicara, "Elo kan gak kerja, May?"
Bingung ya? Gini kondisinya, aku sekarang memang tidak bekerja kantoran lagi. Udah lama malahan, dan fokus sebagai ibu rumah tangga, mengurus kedua anakku dan satu suami (masih satu kok hehehe). Kira2 awal bulan September lalu, aku ambil kuliah untuk memperdalam bahasa inggrisku, sekalian aku berencana bila telah selesai dua kuarter per kuliahan, aku akan ambil test dan score IELTS-ku. Siapa tahu hasilnya bagus, jadi bisa dipakai untuk tambahan dokumen buat nglamar2 kerjaan kantoran lagi. Nah, kebetulan suamiku kemudian mengambil satu kelas di winter quarter, jadi kita sama2 ambil kelas online di term itu. Karena suamiku kerja di luar rumah, jadi otomatis dia jarang pegang komputer, sehingga lebih tidak ada waktu buat ngerjain tugas2nya dibanding aku, yg seharian ngendon di rumah dan bisa buka internet setiap saat. Mungkin itu sebabnya temanku bilang gitu ... karena aku ngga kerja.
Tapi ketahuilah wahai temanku, kadang aku mikir, memang aku ngga kerja seperti kamu, atau teman2 lain yg kerja di luar rumah, teman2 lain yg kerja dengan mendapatkan insentif - gaji dalam bentuk mata uang dan bonus2 lainnya. Aku memang tidak seperti itu. Tapi tetap saja aku BEKERJA. biarpun gajinya berbentuk kepuasan batin dan keikhlasan menjalaninya. Capeknya? Jangan ditanya. Bosannya? Sama lah kaya kamu bosan kerja di kantor yg itu2 aja. Bedanya? Aku ngga bisa quit dan ganti kantor seperti kamu bila bosan dng kantor dan kerjaan kamu maka bisa seenaknya aja kasih surat pengunduran diri ke HRD dan cari kerjaan lain.
Aku sudah mengalami gimana sih kerja kantoran itu, dan aku juga beruntung sudah mengalami sendiri gimana rasanya jadi ibu rumah tangga secara penuh dengan dua anak kecil yg badung (tapi lucu2 ...), jadi aku bisa membuat perbandingan diantara keduanya, dan kalau aku boleh memilih aku pasti akan pilih KERJA DI KANTOR.
Kenapa kok gitu?
Di rumah terus sama anak2 memang enak banget, capek tapi dibawa senang. Hanya saja buatku yg sudah terbiasa kerja kantoran, ketemu banyak orang, bersosialisasi ngga hanya sama yg itu2 aja dan ketemu orang2 dari berbagai bangsa, rasanya ada penurunan kualitas dalam diri aku ketika aku hanya di rumah saja mengurus anak2. Biarpun kalau dibandingkan menjalankan management rumah tangga jauh lebih bikin pusing daripada management perkantoran yg paling hanya aku amalkan 60%-nya sesuai dng di bagian mana aku ditempatkan di perusahaan tersebut. Kalau management rumah tangga? 100% harus diterapkan, dan yg njalanin kan cuma dua orang dewasa beserta dua nak kanak nan badung tapi lucu itu :)

Sama seperti ketika bekerja kantoran, aku pun punya schedule tetap setiap harinya, bahkan tidak pernah berhenti biarpun sedang weekend sekalipun. Rutinitas sehari2 yg membosankan juga aku alami di rumah, sama spt waktu kerja kantoran, kadang rutinitas yg itu2 aja membuat kita kurang tertantang shg memutuskan untuk keluar dari kantor itu dan mencari kerja di tempat lain. Kalau aku, mana bisa quit dari tanggung jawab yg sedang aku pikul ini?
Emang ngapain aja sih lo May seharian itu?
Biasanya sih hari2 ku dimulai dengan membuka mataku yg masih melekat erat kelopaknya atas dan bawah, karena mau ngga mau aku harus nggendong bayiku keluar dari cribnya dan mulai menggantikan diapers dan memberinya susu. Setelah itu, nemenin dia main sampai tiba waktunya makan siang. Lalu anak pertamaku harus ke sekolah, emang sih tugas mengantar diambil alih bapaknya, tapi tetap aja aku pada saat yg bersamaan harus menyiapkan makan siang buat keluarga, yg kadang aku persiapkan sejak malamnya sehingga siang harinya tinggal manasin atau manggang aja. Setelah itu makan siang sama2, nidurin si kecil dan aku mandi. Bersih2 ruangan wajib dilakukan karena aku punya bayi yg super jahil. Bila ada barang imut yg ditemukannya tergeletak di karpet maka dng cepat akan dilahapnya masuk ke mulut. Jadi aku harus ekstra bersih dan mem-vacum karpet setiap hari. Cucian piring (hal yg paling aku benci seumur hidup karena tempat cuci piring ngga pernah sepi dari piring2 kotor) harus bersih. Kalau ngga cepat2 dicuci maka sisa makanannya bisa menimbulkan bau. Gak enak donk kalau dapurnya bau dan kotor? Mencuci baju aku lakukan seminggu sekali, karena aku harus keluar ruangan untuk menuju ke ruang cuci bersama. Agak malas juga karena mesti bolak balik, dan prefer ngerjain pas ada suami shg anak2 ada yg jagain. Trus lipet2 baju deh. Kalau ngga cepet dilipet resikonya numpuk, or mesti aduk2 tumpukan cucian bersih kalau mau cari baju idaman yg pengen dipake hari itu.
Ngurusin bayi kecilku agak2 menyita waktu karena dia menderita eczema yg cukup parah, sehingga aku tidak boleh alpa mengoleskan moisturizer super tebal ke seluruh permukaan kulitnya. Belum lagi masalah diapers, dikit2 ngganti karena kalau pipis sekali aja dia sudah ngek ngok (kaya biola rusak hehehe). Sekarang si kecil sangat manja karena harus ditimang2 sebelum tidur. Tapi aku lakukan saja, karena dulu anak pertamaku pun aku perlakukan demikian, supaya adil dan merata.
Kegiatan yg berhubungan dengan diriku pribadi baru bisa aku lakukan setelah anak2 tidur malam. Jadi aku biasanya berolah raga sekenanya, lalu menikmati makan malamku dan nongkrong di depan computer, mengutak-atik blogku, atau mengkoordinir blog dan account situs pertemanan eks teman2 ku di akademi, kadang chatting dengan teman2 di tanah air selain tentu saja ngobrol dengan sesama orang gila di ngupils :p Kebiasaanku yg satu ini sangat menyita waktuku sehingga bisa jadi sampai subuh aku masih terpaku didepan computer dengan asyiknya. Kadang kala aku nginternet sembari masak, supaya waktunya efisien. Kadang aku buat cake dan kue2 untuk sangu suamiku bekerja, sekaligus menyiapkan masakan utama untuk makan siang esok harinya, terutama kalau suamiku kerja aku harus masak agak banyak supaya ada sisa untuk dibawanya bekerja. Kadang aku membuat roti dan kue2 ekstra bila ada teman suamiku yg "special request" kepingin dibuatin kue2 khas Indonesia. Bila ada kesempatan mengerjakan sesuatu yg menghasilkan uang, spt misalnya membantu mengerjakan paper atau membuat kue2 pesanan teman, dengan senang hati aku lakukan sampai subuh menjelang.
Kadang aku sampai tidak ada waktu tenang untuk sekedar nangkring di atas kloset, atau untuk menggosok kakiku dan menggunting kuku, karena dua bocah itu selalu ada disampingku dan meminta perhatian penuhku. Aku sampai lupa kapan terakhir aku mengoleskan lotion di kulitku sehabis mandi, kapan terakhir aku mengoleskan krim di kakiku, kapan aku terakhir mencukur bulu mataku.
What a hectic life, tapi aku senang.
Pokoknya aku baru bisa menghela nafas lega setelah si kecil tidur malam, dan diikuti si kakak beranjak ke peraduannya.
Hikmah buatku setelah mengalami itu semua?
Aku jadi bisa menghargai profesi pembantu dan baby sitter serta tidak lagi meremehkan para ibu yg tinggal di rumah karena aku mengalami sendiri gimana capeknya ngurusin tetek bengek rumah tangga dari A sampe Z sendirian. Apalagi aku ngga dibayar kan? Kalau aku capek, sapa yg mau bantuin aku? Ngga ada. Jadi mau ngga mau ya harus aku kerjakan semuanya. Ngga mungkin aku tega minta bantuan suamiku kalau ngga bener2 kepaksa. Karena kita emang sudah membagi2 tugas, dia yg kerja di luar mencari uang, dan aku yg kerja di rumah mengurus rumah tangga. Tapi aku tidak pernah mengeluh, buat apa mengeluh karena toh aku mau mengeluh kepada siapa? Biarpun kadang kala bosan, aku jugamikir kalau bekerja kantoran pun pasti suatu saat akan mengalami kebosanan juga bukan?
Jadi aku dan suamiku sama2 bekerja . Suamiku di luar rumah, aku di dalam rumah.
So jangan bilang aku ngga kerja lho, bisa marah aku nanti.
Hikmah buatku setelah mengalami itu semua?
Aku jadi bisa menghargai profesi pembantu dan baby sitter serta tidak lagi meremehkan para ibu yg tinggal di rumah karena aku mengalami sendiri gimana capeknya ngurusin tetek bengek rumah tangga dari A sampe Z sendirian. Apalagi aku ngga dibayar kan? Kalau aku capek, sapa yg mau bantuin aku? Ngga ada. Jadi mau ngga mau ya harus aku kerjakan semuanya. Ngga mungkin aku tega minta bantuan suamiku kalau ngga bener2 kepaksa. Karena kita emang sudah membagi2 tugas, dia yg kerja di luar mencari uang, dan aku yg kerja di rumah mengurus rumah tangga. Tapi aku tidak pernah mengeluh, buat apa mengeluh karena toh aku mau mengeluh kepada siapa? Biarpun kadang kala bosan, aku jugamikir kalau bekerja kantoran pun pasti suatu saat akan mengalami kebosanan juga bukan?
Jadi aku dan suamiku sama2 bekerja . Suamiku di luar rumah, aku di dalam rumah.
So jangan bilang aku ngga kerja lho, bisa marah aku nanti.


2 Comments:
maya gak kerja! maya gak kerja! maya gak kerja!!!!....wakakakaks..udah marah belom??? MARAH Dwonk!(jowindi)
Hmmm ngga usah didengerin deh omongan orang kayak yang di atas itu...... capek klo dengerin omongan orang mah...
Post a Comment
<< Home