Wednesday, April 13, 2005

Diomelin, emang enak?

Suatu malam, aku teringat akan foto2 masa kanak2ku yg dikirimkan oleh ipar kesayanganku kepadaku via email. Katanya,

"Supaya loe bisa bernostalgia dengan wajah lama loe ... "

Aku cuma ngakak waktu itu. Terus aku ingat akan foto2 itu kembali, dan kebetulan aku punya teman ngobrol yg berasal dari masa kecil yg sama, nun jauh di desa terpencil di timur pulau Jawa tersebut. Seperti biasa kami sering bertukar kabar, saling nunjukin foto dan cerita2, mendengarkan satu sama lain atau tepatnya mendengarkan si A berbicara sementara yg lain kebanyakan pasifnya karena keterbatasan kemampuan berinternet dari tempat mereka berdomisili. Aku sih sering ngobrol sama mereka karena memang aku cocok dengan si A, bahkan baik juga dengan si B, si C, dan si D yg notabene baru kenal (tapi dulu sih sering liat di sekolah) setelah digabung oleh si A dalam satu lingkaran hubungan per-emailan yg tak putus2nya itu. Memang sih aku lihat si A yg selalu aktif bicara sementara lainnya sekali sekali saja, tapi aku suka mendengarkan cerita2nya, dan sesekali aku berkomentar tanda aku perhatian padanya. Demikian pula dia selalu memberikan jawaban dan respons atas cerita2ku, dan atas curhat2ku kepadanya. What a good friend, aku pikir. Hingga suatu saat ... gara2 foto2 lama yg kukirimkan kepada mereka via email.

"Lain kali kalau ngirim attachment dicek dulu donk ... gara2 foto kamu size-nya terlalu besar, system di rumahku jebol! Suamiku sampai marah2"

Image hosted by Photobucket.com

Rasanya mukaku bagaikan ditonjok pakai balok es! (KO untuk kedua kalinya aku saat itu). Belum selesai dikecewakan teman yg satu, tiba saatnya jatuh untuk kedua kalinya. Tapi aku bangun lagi.

Aku membayangkan betapa marah suaminya ketika tahu gara2 ketololan teman istrinya yang mengirimkan gambar berukuran raksasa ke email mereka, sehingga berhari2 mereka tidak bisa membuka internet ataupun email2 mereka. Duh! Sungguh aku ngga bermaksud demikian. Saat aku melampirkan foto2 itu di emailku, komputerku baik2 saja. Cepat seperti biasa, jadi aku tidak merasa curiga sedikitpun terhadap ukuran gambar2 tersebut. Hanya aku perhatikan kok format gambarnya masih .bmp, bukan .jpeg seperti biasanya.

Aku hanya kaget akan reaksi yg sungguh dahsyat akibat dari attachment foto2 lamaku itu terhadap komputer temanku. Dan aku bisa membayangkan betapa marah dan kata2 apa yg dilontarkan suaminya mengomentari kebodohanku.

Aku malu.

Ternyata ngga enak ya diomelin orang? Aku sampai berkali2 minta maaf, saking ngga tau mau ngomong apa lagi kepadanya. Kata suamiku, menghiburku,

"Komputer teman-mu aja yg kurang OK, masak dikirimin attachment yg bukan virus kok sampai segitunya."

Aku agak lega mendengarnya.

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

kali komputernya pentium I dan memorynya juga terbatas, maklum atu hayyyyy...dan forget it lah, besok2 temenmu juga dah baek lagi....

8:03 PM  

Post a Comment

<< Home