Sunday, April 03, 2005

Mereka yg sudah meninggal

Ngga tau kenapa, kok akhir2 ini aku sering teringat orang2 dekatku yg sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama2nya ... Tapi aku jarang memikirkan mamaku, eyang2ku dan omku; yg paling sering menghiasi pikiranku adalah teman2ku yg sudah meninggal. Aku sendiri ngga tau kenapa, mungkin krn aku merasa pernah dekat dengan mereka dan aku ngga tau gimana rasanya kalau sudah meninggal itu. Mereka masih semuda aku, mengapa Tuhan sudah memanggil mereka? Adilkah Tuhan itu dengan berbuat demikian?

Bagiku hidup itu indah. Kadang membosankan, kadang menegangkan, kadang menyedihkan, kadang memuakkan, dan kadang membuatku begitu bahagia. Suatu kombinasi yg pas bukan? Lantas bagaimana bila orang2 muda seperti teman2ku itu meninggal dunia di usia muda mereka, disaat teman2 yg lain sibuk membangun hidupnya dan mencari jati diri mereka? Apa ya maksud Tuhan dengan memanggil mereka?

Bagiku meninggal adalah akhir dari perjumpaan kita dengan orang2 di dunia ini. Mereka akan menuju alam yg lain, dimana mereka akan bertemu dengan orang2 lain yg sudah meninggal pula. Aku ngga tau spt apa alamnya, yg jelas berbeda dng yg di dunia ini. Rasanya bila ada kerabat atau teman yg meninggal, kita yg ditinggalkan akan sedih dan kehilangan. Jelas kehilangan krn kita tidak tahu kapan akan bertemu kembali dng mereka. Jelas sedih krn mungkin orang yg meninggal itu sangat berarti bagi kita, baik dan perhatian pada kita, atau kita punya kesalahan yg belum termaafkan satu sama lain dng si orang tsb. Orang yg sudah meninggal akan diingat kebaik2annya, mudah2an yg buruk2 akan dilupakan bahkan didoakan agar diampuni kesalahannya dan masuk ke surga. Sekali lagi meninggal itu sulit, krn di saat itulah timbul judgement dari orang2 di sekitar kita pada diri kita. Bila kita baik selama hidup di dunia ini, penilaian mrk akan baik dan yg diingat2 adalah kebaikan2 kita. Tapi apabila kita pernah membuat aib, berbuat jahat, berbuat hal2 yg memalukan lainnya, tentu yg akan dibicarakan orang adalah keburukan kita tersebut.

Aku pun turut mendoakan sahabatku Johanes Victor Manumpil yg meninggal karena penyakit lupus. Tubuhku lemas begitu mendapat kabar dari temanku di Jakarta kalau Joe sudah tiada. Kami cukup dekat dulu di SMA, bahkan setelah lulus SMA pun masih sering berhubungan. Biarpun ia sibuk di Bandung dng kuliah NHI-nya, dia masih sempat menelpon aku di Bekasi. Rasanya begitu banyak hal yg sudah kita share bersama, biarpun aku merasa dia pernah "menolak"ku, tapi aku tidak merasa sakit hati padanya. Itukah kekuatan persahabatan? Tapi aku tidak menyesal pernah mengaguminya. He was a wonderful friend to me and always be.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home