Tentang ketidakikhlasan
Suatu malam ketika aku sedang sibuk berkutat di depan computer kesayanganku, tiba2 ada seorang teman memanggilku:
"Hai Ibu RT, apa kabar?"
aku terhenyak, ngga nyangka temanku akan memanggilku, setelah sekian lama ngga pernah ngobrol ataupun ketemuan di yahoo messenger. Awalnya kami berkenalan karena aku sering membaca blog dia. Pengalaman hidup yg telah membawanya berkelana dari satu negara ke negara lain, membuatku kagum dan tak bosan2nya ikut menikmati hasil liputannya yg tertuang dengan apik di dalam blognya. Dari sekedar say hi, sampai akhirnya aku sering kali mengunjungi blognya dan menuliskan komentarku untuk tulisan2nya. Aku merasa sudah menjadi temannya, biarpun hanya sekedar menorehkan kata di tag board atau blog comment-nya. Aku tak pernah absen membaca blognya hingga suatu saat aku harus pergi ke California untuk mengikuti ujian bahasa dan sekaligus mengajak anak2ku jalan2 ke disneyland. Sejak saat itu aku mulai jarang melihat blog teman2ku lagi, terutama blog dia. Dan memang kesalahan aku, semenjak aku merubah lay out blog anak2ku, aku lupa menyimpan alamat blog teman2ku di bookmark, sehingga aku kesulitan menemukan alamat mereka kembali.
Aku jawab, "Hai Bro, apa kabar? Di mana nih? Semoga baik2 aja ya .. bla bla bla ..."
Seperti biasa aku nyerocos tanpa titik koma, bagaikan kangen ketemu dengan teman baik yg sudah lama sekali tidak aku sapa. (Sungguh aku merasa dia tetap temanku, terlepas dari baik atau tidaknya). Tapi dia hanya menjawab datar, seperlunya, satu baris kalimat, dan satu baris kalimat lagi. Aku sendiri sampai lupa dia ngomong apa, saking lebih banyak aku yg mengetikkan pembicaraan baris demi baris. Yang aku ingat hanya tiba2 dia bicara satu baris kalimat yg cukup telak menohok mukaku:
"Kamu masih tinggal di alamat yg floriberta bla bla bla itu kan? Kok kemarin saya kirim kartu tapi tidak ada kabarnya sama sekali."
Datar dan tepat di sasaran. Aku malu. Malu sekali. Karena aku menerima kartu ucapan darinya, tapi aku lupa membalasnya. Aku lupa juga apakah aku sudah mengucapkan terima kasih di blog-nya, tapi aku yakin aku pasti sudah melakukan hal yg terakhir tadi. Tidak mungkin tidak. Aku bahkan lupa kutaruh di mana kartu darinya, yg cukup unik menurutku karena bergambarkan foto dirinya bersama anak2 dan orang2 khas dari benua dimana ia berada sekarang, disertai dengan satu lembar mata uang dari negara tersebut.
Aku pun beralasan, "Terima kok, aduh terima kasih ya, aku uda tulis kok di blog kamu kalau aku uda terima, dan aku jg uda ucapin terima kasih lho?"
Dia datar saja.
Aku pun mencoba memecahkan kebekuan, "Itu alamatnya kan yg di NY, kalau aku kirim ke alamat itu, bisa nyampe ngga ke kamu ya?"
Dia jawab, "Bisa kok ... (dan dia kasih lagi alamat dia yg di NY itu)".
Lagi2 datar, aku berusaha mencari alasan supaya bisa mengakhiri pembicaraan dengannya, karena aku merasa tidak nyaman dan tiba2 aku merasakan sesuatu yg menusuk hatiku. Sebenernya dia ikhlas ngga sih kirimin aku kartu tersebut? Melihat dari kartunya, aku yakin dia tidak hanya mengirimkannya khusus buatku saja, tapi pastinya ke ribuan teman2nya di dunia ini, karena kartu semacam itu harus dipesan dalam jumlah banyak kan? Mengapa lantas mengharapkan aku mengucapkan terima kasih kepadanya, setelah sekian lama kita ngga berjumpa? Bisa kan kirim kabar via email atau tulis di tag board blog-ku? Aku rasa, dia ngga pernah kok ngunjungin blog aku, sepertinya dia mau aku yg harus terus mengunjungi blog dia dan membaca cerita2nya. Aku merasa dipaksa.
Terus terang aku merasa ngga nyaman diperlakukan spt itu, rasanya perhatian dia meminta pamrih, balasan. Haruskah kita mengharapkan pamrih bila memberi sesuatu? Kau tahu sendirilah jawabannya ....
"Hai Ibu RT, apa kabar?"
aku terhenyak, ngga nyangka temanku akan memanggilku, setelah sekian lama ngga pernah ngobrol ataupun ketemuan di yahoo messenger. Awalnya kami berkenalan karena aku sering membaca blog dia. Pengalaman hidup yg telah membawanya berkelana dari satu negara ke negara lain, membuatku kagum dan tak bosan2nya ikut menikmati hasil liputannya yg tertuang dengan apik di dalam blognya. Dari sekedar say hi, sampai akhirnya aku sering kali mengunjungi blognya dan menuliskan komentarku untuk tulisan2nya. Aku merasa sudah menjadi temannya, biarpun hanya sekedar menorehkan kata di tag board atau blog comment-nya. Aku tak pernah absen membaca blognya hingga suatu saat aku harus pergi ke California untuk mengikuti ujian bahasa dan sekaligus mengajak anak2ku jalan2 ke disneyland. Sejak saat itu aku mulai jarang melihat blog teman2ku lagi, terutama blog dia. Dan memang kesalahan aku, semenjak aku merubah lay out blog anak2ku, aku lupa menyimpan alamat blog teman2ku di bookmark, sehingga aku kesulitan menemukan alamat mereka kembali.
Aku jawab, "Hai Bro, apa kabar? Di mana nih? Semoga baik2 aja ya .. bla bla bla ..."
Seperti biasa aku nyerocos tanpa titik koma, bagaikan kangen ketemu dengan teman baik yg sudah lama sekali tidak aku sapa. (Sungguh aku merasa dia tetap temanku, terlepas dari baik atau tidaknya). Tapi dia hanya menjawab datar, seperlunya, satu baris kalimat, dan satu baris kalimat lagi. Aku sendiri sampai lupa dia ngomong apa, saking lebih banyak aku yg mengetikkan pembicaraan baris demi baris. Yang aku ingat hanya tiba2 dia bicara satu baris kalimat yg cukup telak menohok mukaku:
"Kamu masih tinggal di alamat yg floriberta bla bla bla itu kan? Kok kemarin saya kirim kartu tapi tidak ada kabarnya sama sekali."
Datar dan tepat di sasaran. Aku malu. Malu sekali. Karena aku menerima kartu ucapan darinya, tapi aku lupa membalasnya. Aku lupa juga apakah aku sudah mengucapkan terima kasih di blog-nya, tapi aku yakin aku pasti sudah melakukan hal yg terakhir tadi. Tidak mungkin tidak. Aku bahkan lupa kutaruh di mana kartu darinya, yg cukup unik menurutku karena bergambarkan foto dirinya bersama anak2 dan orang2 khas dari benua dimana ia berada sekarang, disertai dengan satu lembar mata uang dari negara tersebut.
Aku pun beralasan, "Terima kok, aduh terima kasih ya, aku uda tulis kok di blog kamu kalau aku uda terima, dan aku jg uda ucapin terima kasih lho?"
Dia datar saja.
Aku pun mencoba memecahkan kebekuan, "Itu alamatnya kan yg di NY, kalau aku kirim ke alamat itu, bisa nyampe ngga ke kamu ya?"
Dia jawab, "Bisa kok ... (dan dia kasih lagi alamat dia yg di NY itu)".
Lagi2 datar, aku berusaha mencari alasan supaya bisa mengakhiri pembicaraan dengannya, karena aku merasa tidak nyaman dan tiba2 aku merasakan sesuatu yg menusuk hatiku. Sebenernya dia ikhlas ngga sih kirimin aku kartu tersebut? Melihat dari kartunya, aku yakin dia tidak hanya mengirimkannya khusus buatku saja, tapi pastinya ke ribuan teman2nya di dunia ini, karena kartu semacam itu harus dipesan dalam jumlah banyak kan? Mengapa lantas mengharapkan aku mengucapkan terima kasih kepadanya, setelah sekian lama kita ngga berjumpa? Bisa kan kirim kabar via email atau tulis di tag board blog-ku? Aku rasa, dia ngga pernah kok ngunjungin blog aku, sepertinya dia mau aku yg harus terus mengunjungi blog dia dan membaca cerita2nya. Aku merasa dipaksa.
Terus terang aku merasa ngga nyaman diperlakukan spt itu, rasanya perhatian dia meminta pamrih, balasan. Haruskah kita mengharapkan pamrih bila memberi sesuatu? Kau tahu sendirilah jawabannya ....


0 Comments:
Post a Comment
<< Home