Bercerai, Semudah itukah?
"Gile lu May, dikit2 minta cerai ... kasihan anak2 loe, masih kecil2 ... bla bla bla brugh brugh brugh gedubragh!"
Gitu deh jawaban sahabat2ku kalau aku cerita tentang perselisihanku sama Roy yg ujung2nya aku selalu mengancam CERAI ajah! Rasanya semakin lama hubunganku dengan dia semakin jauh. Aku sudah lupa tuh yg namanya romantic dinner bareng, atau emang dulu kita ngga pernah makan malem berduaan doank? Iya juga sih, waktu kita pacaran ngga ada yg namanya tiap malem minggu jalan ke Jakarta buat sekedar menghabiskan malam berduaan aja. Nonton bioskop? Cuma sekali. Makan di cafe? Dua kali saja. Sisanya? Ngendon di rumah tanteku yg nun jauh di ujung sana. Alasannya? Ngga ada mobil.
Emang aku ini sematre apa sih????

Aku bukan perempuan yg melihat materi dari seorang pria. Hanya saja waktu itu aku diwajibkan untuk memuaskan keinginan tanteku terhadap kriteria calon pria yg akan dijadikan pacarku.
"Harus seiman", katanya.
Itu aja kok syaratnya. Tapi gara2 dibutakan oleh keimanan itu, aku lupa menilai hal2 yg lain yg ternyata tak kalah penting dari prioritas utama tadi.
Aku salah memilih? Bisa jadi.
Gitu deh jawaban sahabat2ku kalau aku cerita tentang perselisihanku sama Roy yg ujung2nya aku selalu mengancam CERAI ajah! Rasanya semakin lama hubunganku dengan dia semakin jauh. Aku sudah lupa tuh yg namanya romantic dinner bareng, atau emang dulu kita ngga pernah makan malem berduaan doank? Iya juga sih, waktu kita pacaran ngga ada yg namanya tiap malem minggu jalan ke Jakarta buat sekedar menghabiskan malam berduaan aja. Nonton bioskop? Cuma sekali. Makan di cafe? Dua kali saja. Sisanya? Ngendon di rumah tanteku yg nun jauh di ujung sana. Alasannya? Ngga ada mobil.
Emang aku ini sematre apa sih????

Aku bukan perempuan yg melihat materi dari seorang pria. Hanya saja waktu itu aku diwajibkan untuk memuaskan keinginan tanteku terhadap kriteria calon pria yg akan dijadikan pacarku.
"Harus seiman", katanya.
Itu aja kok syaratnya. Tapi gara2 dibutakan oleh keimanan itu, aku lupa menilai hal2 yg lain yg ternyata tak kalah penting dari prioritas utama tadi.
Aku salah memilih? Bisa jadi.
Bodohkah aku? Bisa jadi.
Aku salah karena terlalu mengikuti diktean orang lain daripada mengikuti kata hatiku sendiri. Aku salah karena tidak sabar menunggu datangnya my soul mate ( I do believe in soul mate ) dan ngga bisa menahan nafsu dan tidak tahu kontrasepsi tapi sok nyoba2.
Aku bodoh karena aku membutakan diriku dan cenderung tidak percaya pada kemampuanku sendiri dan menyetarakan levelku dengan pria seperti dia. Harusnya aku percaya diri dan sadar kalau I cannot rush things terutama jodohku.
Lengkap sudah penderitaanku saat Ibunya benci padaku setengah mampus. Belum lagi perselisihannya dengan kakak kandungku, membuat aku makin ngga tahu mau memihak pada siapa.
Kenapa aku berani menawarkan perceraian? Semudah itukah?
Karena aku sekarang sadar. Aku yakin akan kemampuanku sendiri bahwa aku bisa maju setelah lepas dari cengkramannya. Aku tidak perlu lagi memperlambat langkahku hanya untuk menunggu-nya mencapai garis finish. Aku bisa hidup dan menghidupi diriku sendiri WITH OR WITHOUT HIM.
Tapi apa perlu cerai segala?
Bercerai hanyalah memutuskan salah satu ikatan dari ribuan ikatan yg telah timbul sebagai dampak dari pernikahan. Apa bener bisa berpaling 100% dan melupakan laki2 itu dan maju terus pantang mundur menyongsong masa depan cerah ceria?
Aku rasa, tanpa perlu bercerai aku juga bisa menjadi diriku sendiri, makin memperkaya diriku, menjadi apa yg aku mau, melakukan apa yg aku suka dan mendengarkan kata hatiku ... Sebenernya sih bisa, cuma banyak hal yg mesti dikalahkan terlebih dahulu terutama egoku dan juga sifat terlalu perfeksionisku. Aku dan dia jelas berbeda, mengapa harus disatukan? Berbeda bukanlah dosa, tapi mengapa tidak saling mengisi dan mendukung satu sama lain? Sekali lagi mengapa perbedaan diantara kami tidak diselaraskan instead of disatukan.
Well my friends, that's what I'm doing right now :)
Aku salah karena terlalu mengikuti diktean orang lain daripada mengikuti kata hatiku sendiri. Aku salah karena tidak sabar menunggu datangnya my soul mate ( I do believe in soul mate ) dan ngga bisa menahan nafsu dan tidak tahu kontrasepsi tapi sok nyoba2.
Aku bodoh karena aku membutakan diriku dan cenderung tidak percaya pada kemampuanku sendiri dan menyetarakan levelku dengan pria seperti dia. Harusnya aku percaya diri dan sadar kalau I cannot rush things terutama jodohku.
Lengkap sudah penderitaanku saat Ibunya benci padaku setengah mampus. Belum lagi perselisihannya dengan kakak kandungku, membuat aku makin ngga tahu mau memihak pada siapa.
Kenapa aku berani menawarkan perceraian? Semudah itukah?
Karena aku sekarang sadar. Aku yakin akan kemampuanku sendiri bahwa aku bisa maju setelah lepas dari cengkramannya. Aku tidak perlu lagi memperlambat langkahku hanya untuk menunggu-nya mencapai garis finish. Aku bisa hidup dan menghidupi diriku sendiri WITH OR WITHOUT HIM.
Tapi apa perlu cerai segala?
Bercerai hanyalah memutuskan salah satu ikatan dari ribuan ikatan yg telah timbul sebagai dampak dari pernikahan. Apa bener bisa berpaling 100% dan melupakan laki2 itu dan maju terus pantang mundur menyongsong masa depan cerah ceria?
Aku rasa, tanpa perlu bercerai aku juga bisa menjadi diriku sendiri, makin memperkaya diriku, menjadi apa yg aku mau, melakukan apa yg aku suka dan mendengarkan kata hatiku ... Sebenernya sih bisa, cuma banyak hal yg mesti dikalahkan terlebih dahulu terutama egoku dan juga sifat terlalu perfeksionisku. Aku dan dia jelas berbeda, mengapa harus disatukan? Berbeda bukanlah dosa, tapi mengapa tidak saling mengisi dan mendukung satu sama lain? Sekali lagi mengapa perbedaan diantara kami tidak diselaraskan instead of disatukan.
Well my friends, that's what I'm doing right now :)


1 Comments:
jangan, jangan, jangan cere de'....kecuali elo udah dapet gebetan baru...(MARK WAHLBERG)
Post a Comment
<< Home