Wednesday, April 20, 2005

Laki laki dan Bra

Tadi sore, akhirnya, setelah sekian lama aku merengek2 kepada suamiku, minta dibelikan baju dalam perempuan a.k.a. bra baru, dengan alasan badanku sudah mulai mengurus sekarang, sehingga bra2 maternity yg aku pakai semenjak hamil dan melahirkan anak keduaku sudah kebesaran semua. Rasanya ngga nyaman sekali dan ketiakku suka sakit tergesek2 bra yg kebesaran itu. Belum lagi bagian belakang bra yg suka naik sampai ke ujung punggung, cukup menggangguku, padahal harusnya kan sampai di tengah2 punggung saja? Tadinya suamiku menawarkan aku membeli bra di Victoria Secret, suatu counter pakaian dalam yg WAH dan terkenal baik brand dan koleksinya yg cantik2, sexy dan tentu saja harganya juga bagus. Tunggu punya tunggu, temanku yg kebetulan bekerja di salah satu counter Victoria Secret, yg berjanji mau memberikan jatah employee discount-nya buatku, ngga ada waktu juga hingga kini untuk pergi belanja bra bersama2 dengan aku. Maklum lah, aku sibuk, apalagi dia. Sementara kebutuhan akan bra baru semakin mendesak, akhirnya aku memutuskan membeli di salah satu toko favorit ku, ROSS Dress for less, yg bagiku merupakan "surga belanja" dan "tempat menggali harta karun" ... maksudnya, kalau kita sedang mujur atau sabar memilih dan teliti mengorek2 diantara barang2 yg bejibun itu, bisa jadi kita akan mendapatkan very good bargain. Barang bagus, bermerk, harga ala kaki lima. Itulah sebabnya aku paling suka pergi ke ROSS biarpun hanya sekali sebulan saja (jangan sering2, bisa bokek nanti).

Sesampainya di ROSS, aku pun memisahkan diri dari suami dan anak2ku, aku langsung menuju ke rak pakaian dalam, sementara suami dan anak2ku pergi ke rak mainan dan buku. Tanpa membuang waktu, aku pun langsung bergerak memilah2 bra dari ujung rak yg satu ke ujung yg lain. Dari baris yg atas, sampai yg bawah. Biarpun sudah ada tanda yg memisahkan masing2 ukuran, bukan jaminan ukuran yg kita inginkan ada di lokasi tersebut. Namanya juga ROSS. Acak adul, tapi mengasyikkan. Pertama2 aku tertarik pada sebuah bra, keluaran Calvin Klein, warnanya hitam dan putih, dan ketika aku intip nomornya: Voila! ukuranku ... Kandidat nomer satu masuk ke dlm keranjang belanjaanku. Kemudian aku bergerak lagi, memilah2 lagi, dan menemukan satu lagi bra bermerk Calvin Klein, yg rasanya nyaman bila dipakai, ditilik dari jenis bahannya dan modelnya. Aku intip lagi nomernya, yes! nomerku. Masuk lagi ke dalam keranjang belanjaanku kandidat bra nomer dua. Sehelai bra putih dari bahan renda menarik perhatianku, keluaran Tommy Hilfiger. Hmmm, bagus juga nih, pikirku. Tapi setelah aku korek2 seluruh rak, aku tidak menemukan ukuranku untuk model tersebut. Agak kecewa aku jadinya, tapi perburuan jalan terus. Sampai akhirnya aku menemukan sembilan kandidat bra yg sesuai dng ukuranku, dan satu bra yg menurutku unik, tapi bukan ukuranku. Yah siapa tahu ternyata cukup, pikirku dalam hati. Lalu beranjaklah aku ke kamar ganti setelah sebelumnya aku menelpon suamiku, memberi tahu dia kalau aku mau mencoba dulu dan pastinya agak lama berada di kamar ganti.

Di dalam kamar ganti, aku mematut2 diriku dengan kandidat bra pertama yg aku pilih. Ah, terlalu ketat, modelnya juga aku kurang suka. Maka tidak lolos sensorlah kandidat bra yg pertama aku coba itu. Demikian pula dengan kandidat bra nomor dua dan tiga, terlalu ketat di badan, padahal nomornya sama. Hanya memang merknya berbeda. Itulah sebabnya penting sekali mencoba dahulu sebelum membeli, karena biarpun ukurannya sama, ternyata bila merk-nya berbeda akan berpengaruh juga terhadap kenyamanannya bila dipakai dibadan. Aku jatuh cinta pada bra Calvin Klein hitam putih tadi, dan setelah aku coba, benar2 luar biasa. Langsung tanpa ragu lagi aku memutuskan memasukkannya ke dalam list "to buy" ku. Juga terhadap bra putih berenda2 yg manis sekali dan nyaman aku pakai. Dan setelah mencoba kesembilan kandidat tersebut, aku memutuskan membeli lima buah bra yg paling nyaman dan pas di badanku.

Ah, rasanya susah sekali dan ribet sekali ya, padahal cuma beli bra doank? Itulah perempuan. Biarpun aku termasuk perempuan yg ngga terlalu concern terhadap penampilan, tapi untuk urusan bra dan baju dalam adalah hal yg primer buatku. Masak cantik2 tapi bra-nya butut? Kan malu? Lalu aku berpikir, memilih bra buat perempuan itu rasanya sama dengan memilih laki2.

Kenapa bisa begitu?

Begini, untuk memilih bra2 yg sesui dng ukuran dan nyaman di badan kita, kita perlu waktu yg cukup lama untuk memilih dan mencoba bukan? Bila kita suka pada satu model bra, jatuh cinta sekali, bisa saja kita kecewa bila ternyata ukuran kita tidak tersedia atau habis. Kebayang kan gondok dan sakit hatinya .... Atau, bila sudah menemukan model yg disuka, nomer yg dimaui, ternyata sewaktu dicoba hasilnya kurang memuaskan? Kurang terlihat sexy atau jatuhnya jelek di badan kita? Kecewa bukan? Tentu saja. Satu pemikiran lagi, bila kita sudah mencoba bra yg kita inginkan, model yg kita cintai sepenuh hati (tau kan rasanya kalo dah ngebet pengen beli barang?) dan ukuran yg sesuai dengan badan kita, tiba2 setelah kita pakai perdana ada yg membuat kita kurang nyaman memakai bra tersebut? Yg akhirnya kita mencampakkan bra kesayangan itu begitu saja di sudut lemari (sambil menggerutu kesal: "Uda mahal2 gue beli, eh gak enak lagi dipakenya, padahal gue dah nyoba lho?"

Demikian pula dengan laki2, untuk menemukan laki2 yg sesuai dengan yg kita ingikan, susah2 gampang, dan dalam kasus ini aku ibaratkan bagaikan seorang perempuan sedang memilih2 bra di ROSS dress for less. Misalnya sudah ketemu pria yg diidam2kan, belum tentu kan dia naksir sama kamu? Kalau sudah ngebet pengen kenal lebih jauh sama seorang pria tampan, eh taunya dia sudah merit atau uda punya pacar? Kesel kan? Atau sudah nunggu lama banget berjomblo2 ria, sampai akhirnya datang pria yg menurut kamu lumayan lah buat dijadikan kecengan, eh taunya diajak ngomong ngga nyambung? Atau sudah dapat pria yg sesuai, cocok diajak bertukar pikiran dan seiman, taunya hobby selingkuh? Atau laki-laki yg tampan dan berwibawa, bau harum parfum bermerk semerbak dari badannya, baju2 trendy yg dipakainya, belum lagi bawaannya mobil sekelas BMW, menambah rangkaian nilai plus di mata para perempuan, tapi ternyata dia tidak mau terikat oleh perkawinan, hanya mau berteman saja atau bersahabat, atau teman tapi intim? Ugh! Atau bila kamu setelah sekian lama mencari, menemukan satu kandidat pria yg pantas dipacari, tapi ternyata dia berasal dari suku dan agama yg berbeda dng kamu, shg impossible bagimu untuk menjalin hubungan lebih lanjut?
Ck ck ck .. susah ya jadi perempuan ...

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Udah nggak kerja...demennya ngrampok suami,....minta belanja Be Ha aja di Victoria Secret! Padahal kalo di Jakarta bisa ke Robinson & Ramayana! Eh! Ukuran yang kecil simpen, buat gue tuh!!(TANTE BORJU a.k.a siluman uler sawah)

8:19 PM  
Blogger maya said...

as i said, gue pake yg kecil sekarang, yg gede2 sih nganggur kalo lo perlu buat kupluk kepala :))

8:22 PM  

Post a Comment

<< Home