Saturday, April 23, 2005

Siapa yg Lebih Beruntung

Bila aku sedang bercakap2 dengan teman2ku, via chatting atau pesan2 email, seperti biasa, kadang kala kami terlibat obrolan yg isinya temanku itu bilang kalau dia iri kepadaku, atau dia bilang aku beruntung sekali (daripada dia?). Kalau temanku bilang seperti itu, aku biasanya hanya tersenyum (emoticons smile mode on), biarpun dalam hati beribu sanggahan terhadap pujian temanku itu muncul, tapi aku lelah untuk berdebat. Biarlah orang lain menganggap aku beruntung, bukankah itu suatu karunia? Merasa beruntung, biarpun kenyataannya sungguh biasa2 saja, tak lebih dan tak kurang dari sesama teman2ku yg lainnya? (biarpun kalau dibanding dng orang2 yg tidak mampu, yg hidup di bawah kolong jembatan, dan kesusahan spt di perumahan kumuh Jakarta, jelas aku lebih beruntung "di satu sisi" yaitu bisa hidup layak dan tak kekurangan sandang, pangan dan papan - biarpun apt masih ngontrak). Dan dibanding orang2 kelas atas di Jakarta, yg hidupnya tidak pernah "tidur" barang sedetik pun krn otaknya terus berjalan memikirkan strategy bisnisnya, atau karena mereka selalu sibuk mengumpulkan materi, mengejar popularitas dan menghambur2kan uangnya untuk hal2 yg kurang perlu, jelas aku lebih beruntung. Karena aku bisa tidur nyenyak tiap malam tanpa harus takut bisnisku merugi dan aku tidak mengejar materi di dunia ini spt cara mereka mengumpulkan duit. Jadi aku lebih bebas stress daripada mereka).

***

Silvy bilang kepadaku,

"Waduh May, aku iri melihat foto2 kamu sekeluarga di Disneyland. Rasanya kepingin sekali ke sana jadinya. Mudah2an nanti ada yg mau menyeponsori aku lagi ya?"

Aku lagi2 tersenyum ... kali ini senyum pahit. Bayangkan saja, temanku Silvy, adalah sekretaris orang nomor satu di lembaga perbankan Indonesia yg baru2 ini dibubarkan. Kamu bisa bayangkan donk, gajinya berapa, dan bahkan aku mendengar kalau setelah kantornya dibubarkan, para pegawai di sana ramai2 jalan ke luar negri, menghambur2kan uang pesangon mereka yg jumlahnya bikin aku merinding (ternyata Indonesia itu kaya ya?).

Pernah aku berbincang2 dengan dia, dulu, dan lagi2 dia iri kepadaku. Dia bilang aku beruntung bisa tinggal di negri orang, sementara dia masih terpuruk di Jakarta2 saja. Waktu itu aku menghiburnya, aku bilang:

"Ah , sama aja kok, biarpun aku sudah ke Amerika, tapi aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di pulau Bali"

Kali itu dia yg tertawa ... mentertawakan kepolosanku, dan kebodohanku mungkin. Masak iya orang Indonesia belum pernah ke Bali? Eh, aku jujur kok, aku memang belum pernah liburan ke Bali, karena aku ngga punya uang untuk dihambur2kan untuk kesenanganku belaka. Aku bekerja so far, untuk menghidupi anak2ku, dan aku perlu banyak menabung buat rencana2 kami dan untuk anak2 ku kelak. Kebetulan saja sih sebelum sempat liburan ke Bali, aku sudah hengkang ke Amerika duluan.

Aku teringat saat aku lihat foto2nya di Friendster, dengan latar belakang jalan2 khas Eropa. Pastinya foto itu diambil saat dia dan rekan2 kantornya liburan ke luar negri ketika kantornya dibubarkan. Katanya sih ada yg membayari or bahasa kerennya "menyeponsori" perjalanan mereka. Jadi dia lebih beruntung donk daripada aku, yg pergi kemana2 harus merogoh kocekku sendiri dalam2 (sampai recehan2nya pun kepake buat membayar biayanya), sementara dia, tinggal duduk manis saja di pesawat tanpa pusing memikirkan biaya akomodasinya. So, siapa yg lebih beruntung dalam hal ini?

***
Seorang sahabat pernah berkata kepadaku,
"May, kamu beruntung banget bisa hidup di luar Indonesia yg kacau balau ini, macet dimana2, persaingan super ketat, polusi, kolusi, KKN ... memuakkan sekali."
Aku tersenyum .. kali ini manis sekali. Tapi lagi2 aku mengeluarkan kata2 untuk menghibur dia,
"Ah ngga juga kok Min, di sini memang enak, semua serba teratur, tapi kalau masalah persaingan ya sama, ketat juga. Kerjaan susah. dan terutama yg aku hadapi adalah masalah RASISME. Karena wajahku mirip dengan ras hispanik, maka bertambahlah perlakuan rasis terhadapaku, yg dianggap sebagai warga kelas sekian2 di negara ini."
Aku yakin ia pasti mengiyakan ucapanku. Biarpun aku tahu di lain kesempatan, ia akan mengulang lagi perkataan bahwa "aku beruntung" lebih daripada dia.
"Kamu beruntung May, punya suami keren, cakep, tinggal di negri semaju Amerika, dan punya kesempatan tinggal di rumah mengurus anak2mu, dibanding aku, tiap hari banting tulang jadi buruh, dikerjai dan diperbudak atasan, dianggap remeh karena bukan berasal dari ras yg sama dengan mereka, dan yg pasti sampai di rumah aku sudah capek sekali mau ngurusin anakku dan suamiku ... "
Aku ingat dia mengucapkan kalimat2 itu kepadaku, hal yg sama dengan yg pernah dia ucapkan kepadaku. Lalu akupun berkata, kali ini agak tajam dan lebih dalam daripada kata2 yg biasa aku ucapkan,
"Kamu jangan begitu Min, harusnya kamu bersyukur bisa diterima bekerja di institusi asing, yg gaji kamu jauh lebih besar daripada pekerja lain yg setara dengan kamu. Kamu diantar jemput pulang pergi, ngga usah repot mikirin pergi dapat omprengan atau ngga, pulang ntar naik apaan biar cepet sampe rumah. Kamu juga beruntung bisa pulang teng-go ... sementara orang lain sibuk mencari lemburan atau sengaja lembur biar pulangnya ngga terjebak macet. Masih banyak hal2 yg bisa kamu syukuri dari keadaan kamu sekarang ini, terlepas dari apa yg kamu banding2kan terhadap keadaanku."
Sekali lagi ia mengiyakan ucapanku.
Satu kalimat lagi aku tambahkan yg mungkin telak melegakan perasaannya,
"Biarpun suami kamu biasa2 aja bila kamu bandingkan dng suamiku, harusnya kamu bersyukur dia ayah yg baik bagi anakmu, dan setia sama kamu, daripada suamiku yg pernah berselingkuh ..."
Kali ini ia terdiam, aku rasa ia membenarkan ucapanku.
Bukan karena ia sahabatku maka aku tak bosan2nya menguatkan hatinya dan menghiburnya apabila timbul rasa iri akan keadaan orang lain yg "lebih" daripada dirinya. Menurut aku, tidak ada yg lebih dan tidak ada yg kurang, semuanya berbanding seimbang kecuali orang tersebut memang tidak mau berusaha dalam hidupnya dan tidak memiliki skala prioritas dalam meraih sesuatu. Dan tentu saja, tidak tahu bagaimana caranya mensyukuri apa yg telah ia raih, apa yg telah ia dapatkan, atau apa yg telah gagal ia lakukan di masa lalu. Menurutku semuanya patut disyukuri. Itu mungkin kunci senyumku selama ini bila mendengar teman2ku berkeluh kesah dan membanding2kan keadaan mereka denganku.
Syukurilah .... Baik dan buruknya hidupmu. Karena semua itu adalah karunia. Rumput tetangga memang selalu kelihatan jauh lebih hijau daripada rumput di halaman kita sendiri ... (tapi kita kan ngga merumput aka makan rumput, so why bother?????)

2 Comments:

Blogger ika said...

Hmmm.. emang rumput tetangga selalu lebih hijauuuuuu.... kadang2 manusia kan suka begitu May... yang dilihat ya diri sendiri.. aku kok gini dia kok bisa gitu...:D. Dia lupa semua orang kan punya "salib untuk dipanggul" ya ngga??

8:57 PM  
Blogger maya said...

iyak, betul banget ibu yg satu ini !!! MERDEKA!!! :))

11:23 PM  

Post a Comment

<< Home