Nasionalisme Banci, Mengapa Cenderung Mendewakan Amerika?
Terus terang aku posting tulisan ini dengan perasaan sangat sangat kesal. Selain krn perubahan hormonal yg aku alami krn kehamilan ketiga ini, juga krn aku sedang mengalami sendiri di apartemen mungilku ini krisis nasionalisme yg dialami oleh sebuah keluarga asal Indonesia yg baru saja menjejakkan kaki di negri impian ini. Aku kenal sang istri, sudah lama. Aku kira ia cukup terpelajar dan berpikiran maju. Ternyata manusia seteliti aku bisa juga salah menilai. Akhir2 ini aku lelah sekali mendengar obrolan tentang "Amerika lebih begini daripada Indonesia", yg tentu saja dilontarkan oleh mereka. Sebagai pendengar yg baik dan terus terang saja aku memilih santai saja dan tidak menanggapi secara serius krn aku LELAH dng mereka yg terus2an memuji Amerika begini begitu ketimbang Indonesia, krn pada kenyataannya mereka baru berapa kali 24 jam saja menikmati indahnya fasilitas dari pemerintah Amerika. Mereka juga mendapat fasilitas LANGSUNG ENAK berupa fasilitas penginapan gratis dari aku dan suamiku, krn katanya, mrk berbujet pas2an dan ingin ngirit2 dulu selama di sini. Katanya juga mrk mau cari sendiri biaya kuliah suaminya dng bekerja keras banting tulang di malam hari. Semua informasi mrk dapat LANGSUNG ENAK dariku dan kawan2, trus kalo mau daftar ini itu tinggal tanya, gak usah susah2 cari informasi. Kadang sebagai manusia normal, aku merasa ngga adil, kok dulu waktu aku begitu rasanya sulit sekali. Kok mereka bisa lewat jalan tol?
Balik lagi ke nasionalisme banci mereka, yg aku tau mrk di Indonesia berasal dari keluarga yg cukup terpandang, punya duit tentunya, kerjaan OK, dan bisa tinggal layak tak kurang satu apapun, kok bisa2nya mempertaruhkan semua yg mereka punya hanya untuk jadi pekerja kasar di negri orang. Terus terang saja, aku tak pernah bilang kalau aku lebih suka tinggal di Amerika dibanding di Indonesia. Buatku dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Memang di Indonesia aku harus kerja keras, tapi aku merasa di sanalah aku bisa menjadi diriku sendiri, bebas dari rasisme dan yg penting bisa bekerja. Amerika memang bagaikan surga buat pendatang, yg punya duit tapinya. Bila coba2 nekad jadi ilegal, tau sendiri lah akibatnya. Tiada ampun dan ancaman deportasi senantiasa mengintai kita. Tapi mengapa banyak yg memilih cara spt ini ya? Aku tidak pernah membanding2kan negaraku dng Amerika, krn aku tau biarpun negaraku miskin dan sarat hujatan, di sanalah aku mendapatkan semua yg ada pada diriku saat ini. Begitu besar hutangku pada negara yg katanya bermental tempe itu. Bila hidup tidak melemparku ke negri ini, tentu dng senang hati aku jalani hari2 ku di Jakarta, sebuah kota sumpek yg menjanjikan sejuta impian, bila kita mau berusaha dan punya koneksi tentunya. Aku tidak pernah bilang aku suka tinggal di sini, krn aku berprinsip "di sini senang di sana senang". Bila Tuhan melemparku kembali ke tanah airku, dengan senang hati aku terima dan aku coba menyusun hidup baruku di sana. Mengapa tidak? Lebih baik aku jadi gembel di negri sendiri daripada disia2 di negri orang.
Tunggulah sampai mrk merasakan sendiri pahitnya jadi pendatang di Amerika, tuk saat ini silahkan mereguk manisnya madu "Selamat Datang" ..... who cares with the next.
Balik lagi ke nasionalisme banci mereka, yg aku tau mrk di Indonesia berasal dari keluarga yg cukup terpandang, punya duit tentunya, kerjaan OK, dan bisa tinggal layak tak kurang satu apapun, kok bisa2nya mempertaruhkan semua yg mereka punya hanya untuk jadi pekerja kasar di negri orang. Terus terang saja, aku tak pernah bilang kalau aku lebih suka tinggal di Amerika dibanding di Indonesia. Buatku dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Memang di Indonesia aku harus kerja keras, tapi aku merasa di sanalah aku bisa menjadi diriku sendiri, bebas dari rasisme dan yg penting bisa bekerja. Amerika memang bagaikan surga buat pendatang, yg punya duit tapinya. Bila coba2 nekad jadi ilegal, tau sendiri lah akibatnya. Tiada ampun dan ancaman deportasi senantiasa mengintai kita. Tapi mengapa banyak yg memilih cara spt ini ya? Aku tidak pernah membanding2kan negaraku dng Amerika, krn aku tau biarpun negaraku miskin dan sarat hujatan, di sanalah aku mendapatkan semua yg ada pada diriku saat ini. Begitu besar hutangku pada negara yg katanya bermental tempe itu. Bila hidup tidak melemparku ke negri ini, tentu dng senang hati aku jalani hari2 ku di Jakarta, sebuah kota sumpek yg menjanjikan sejuta impian, bila kita mau berusaha dan punya koneksi tentunya. Aku tidak pernah bilang aku suka tinggal di sini, krn aku berprinsip "di sini senang di sana senang". Bila Tuhan melemparku kembali ke tanah airku, dengan senang hati aku terima dan aku coba menyusun hidup baruku di sana. Mengapa tidak? Lebih baik aku jadi gembel di negri sendiri daripada disia2 di negri orang.
Tunggulah sampai mrk merasakan sendiri pahitnya jadi pendatang di Amerika, tuk saat ini silahkan mereguk manisnya madu "Selamat Datang" ..... who cares with the next.


1 Comments:
Ahemmmmmmmmmmmmmmm!!!!...hiakakakakkakakks.........sing sabar yo nduk! Persahabatan itu adoh mambu kembang cedhak mambu tahek! muach! Love n Pis! JO-no (ojo ngono tho!).
Post a Comment
<< Home