Scene 1
Bocah kecil itu mendekatiku, mengelus punggung tanganku dng lembut. Aku yg sedang terpaku menikmati indahnya sang surya yg perlahan mulai merayap menghilang dari cakrawala, terhenyak.
"Mama, tolong aku pakaikan sepatuku," katanya.
Aku pun tersenyum memandang ke arahnya, wajahnya yg polos sama sekali tak menyiratkan beban hidupnya. Kulitnya yg kecoklatan, sekarang bersih dan sehat, beda sekali dengan dia yg dulu saat pertama kali kami ajak bergabung di Yayasan kami.
Dia bukan buah rahimku, tapi dia "anakku".
"
Oh OK dear," kataku, sesekali berbahasa Inggris.
"
You have to be hurry, ayahmu pasti akan segera datang," tambahku, dan dia tersenyum sambil matanya memancarkan binar2 ceria, terbayang olehnya akan segera bertemu dng ayah kandungnya, seorang pemulung yg mencari nafkah di daerah jantung ibu kota Jakarta.
"
Yes, Mama ... sampai jumpa besok," ujarnya.
Dan aku pun beranjak dari bangku kesayanganku, menggandeng tangan nya dan mengajaknya ke teras depan bangunan tua Yayasan Kami, dimana teman2nya yg lain masih ada yg duduk2 atau bermain bersenda gurau sambil menanti dijemput orang tuanya.
Rata2 mereka anak yg tidak mampu, orang tua, atau hanya ibu atau hanya ayahnya, harus bekerja sebagai pemulung di pelosok belantara ibu kota, dan kami mendirikan satu tempat penampungan yg khusus dijadikan shelter bagi mrk, anak2 itu, saat orang tuanya bekerja. Suatu tempat dimana mrk bisa mendapatkan apa yg menjadi hak mereka sbg anak2. Suatu tempat dimana mrk bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman2 baru yg tidak bisa mrk dapatkan selama ini. Suatu tempat di mana mrk bisa terhindar dari perampokan besar2an thd masa kecil mrk.
Scene 2
"Coba deh May, di adegan Egy memutuskan hubungan kasihnya dengan Ega, kamu ekspresikan tiga kata: "I love you" dalam berbagai emosi. Ini penting sekali dan merupakan kekuatan dari bagian cerita secara keseluruhan, dan dlm scene itu hanya ada dua dialog: "I want to break up", dan "I love you".Demikian Zeke, seorang sutradara muda, seorang temanku, yg sedang mengarahkan actingku, di sebuah syuting film, suatu hari.
"Hmm ...," aku menjawab dng memutar otak, serius, membayangkan kira2 ekspresi apa yg akan aku lakukan di depan camera. Ah, mengalir aja deh, ikuti instinctku. Sejak lama aku menyukai drama dan seni peran. Bahkan sejak SMP aku ikut mendalami ekstrakurikuler drama di sekolah. Tak aku sangka akan sangat berguna bagi hidupku, biarpun agak terlambat.
Aku seorang aktris. Bukan aktris kacangan spt layaknya pemain2 sinetron di layar gelas yg menjamur akhir2 ini, yg tidak punya karakter dan ciri khas yg kuat shg mrk timbul tenggelam, terapung2, terlempar dan tercabik2, bagaikan kapal di laut lepas yg kehilangan arah. Aku hanya mau bermain di film2 bermutu, yg sesuai penilaianku bisa memajukan perfilm-an di Indonesia. Yg menurut aku bisa memberikan kesempatan bagi warga Indonesia tuk mengasah instinct mrk sbg penonton yg kritis dan mencintai film produksi sendiri.
Soal honor? Besar tentu, dan perlu. Karena aku memerlukannya untuk membiayai operasional di yayasan kami.
Dunia keartisan yg aku hadapi dan di sisi lain kehidupanku di dunia sosial yg dekat dng konotoasi kumuh, tentu lah sangat bertolak belakang. Tapi aku memandang jurang pemisah itu sbg suatu tantangan, mengapa tidak bisa dijembatani dan bukannya makin diperlebar?
Scene 3
Umurku bisa jadi sudah bertambah 17 tahun dari aku yg sekarang ini. Tapi justru hidupku dimulai dari titik ini. Hidup ku sendiri, hidup yg aku tentukan sendiri. Dimana anak2 kandungku sudah tidak memerlukan aku 100% lagi, dan aku tidak melihat pengaruh suamiku di impianku tersebut. Aku, hanya aku.
Ketakutanku yg terbesar adalah menjadi kaya, dan aku yakin aku tak akan pernah kaya harta. Pernah aku terlibat pembicaraan dengan beberapa teman, dimana kami menghayalkan apa yg akan kami lakukan bila mendapat lotre satu juta dollar. Jawaban mereka tentu saja standar hedonisme. Jalan2, hura2, beli rumah mobil barang2 mewah. Sementara aku?
"Wah kalau gue sptnya akan sumbangkan uang itu untuk yayasan yg memerlukan. Soalnya buat gue, uang kaget ya mesti dihabiskan untuk hal2 yg bermanfaat buat sesama. Kalau gue keep sendiri, bisa gila kali gue ya?"Mrk tertegun, bisa jadi mrk langsung menilai aku sok suci, sok religius, sok dermawan.
Padahal? Aku bukanlah seorang yg fanatik pada suatu agama. Aku bukan orang suci, tentu saja, dan aku bukan lah orang yg rutin mendermakan uangku. Keadaan kami serba susah dan pas2an. Seringkali dng kondisi suamiku yg kurang inisiatif dan kurang kreatif, dan keterbatasan2ku dlm memanage waktu, kami melakukan kesalahan dan kebodohan2 dlm hal financial kami. Tapi ya sudahlah, kami tetap bersyukur anak2 bisa makan teratur, kami punya tempat tinggal yg layak dan kami bisa menyekolahkan anak2 kami. Tapi justru itulah yg membuat aku bercita2 untuk mendermakan uang kaget itu seluruhnya kpd mrk yg membutuhkan, krn kami merasa kami sudah puas dng kondisi kami yg sekarang ini. Kami merasa terpacu dng kesusahan ini dan itulah yg tetap membuat kami rajin bekerja dan berusaha. Ketidakkreatifan? Itu hanya salah satu kekurangan kami, dibalik kelebihan2 kami lainnya. Antara lain ya kelebihan tuk bisa selalu mengambil hikmah dari kejadian2 yg kami alami. Learning to see any blessing in disguise dari setiap cobaan yg kami temui.
Kekerasan dlm hidup yg aku alami hingga detik ini, membuatku sadar dan makin menyukuri karunia-Nya, my creator, my God. Ternyata aku sangat beruntung. Ternyata masih banyak yg lebih menderita daripada aku. Impianku, menjadi tua bersama "anak2ku", mendirikan yayasan, menjadi artis tuk mensupport yayasan kami, dan menjadi lilin yg bersinar terang di malam yg kelam, mudah2an tidak terlalu muluk.
Tertanda: Aku, 17 tahun lagi, di suatu tempat di sudut kota Jakarta, Indonesia.