Saturday, November 05, 2005

A song for mama

You taught me everything
And everything you’ve given me
I always keep it inside
You’re the driving force in my life, yeah
There isn’t anything
Or anyone I can be
And it just wouldn’t feel right
If I didn’t have you by my side
You were there for me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You’ll always be you always will be the girl
In my life for all times

Chorus:
Mama, mama you know I love you
Oh you know I love you
Mama, mama you’re the queen of my heart
Your love is like
Tears from the stars
Mama, I just want you to know
Lovin’ you is like food to my soul

You’re always down for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong
Yes you didAnd you took up for me
When everyone was downin’ me
You always did understand
You gave me strength to go on
There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me
And say to me I can face anything
And no one else can do
What you have done for me
You’ll always be
You will always be the girl in my life

Tak terasa air mataku mengalir deras saat aku dengarkan alunan lagu lama yg dinyanyikan quartet Boyz II Men yg dulu merupakan salah satu lagu favoritku semasa SMA. Bedanya, dulu aku menangis krn aku teringat akan mamaku, betapa berartinya ia bagiku, dan aku menangis krn ia sudah lama tiada lagi ada disisiku, menghadap Tuhan yg maha pengasih yg tak rela melihatnya menderita di dunia ini.
Sementara malam ini aku menangis, karena aku lah MAMA itu ... seorang mama bagi tiga anak2ku ...

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku lulus SMA, kuliah, pacaran ... lalu kemudian aku hamil dan melahirkan putra pertamaku tanpa sempat merasakan keindahan alunan lagu ini ... baru malam ini aku merasakan kekuatan cinta yg dikumandangkan dng merdu; malam ini, ketika aku akan menjadi ibu untuk yg ketiga kalinya ....

Rasanya aku membayangkan ketiga putraku yg akan menyanyikan lagu itu kelak, di saat mereka sudah seusia para penyanyi grup tersebut, dan perasaanku bagaikan terkoyak2 oleh haru dan bahagia ... Tugasku hanyalah, bisakah aku membuat para putraku menyanyikan lagu tersebut untukku kelak?
Bagaimana bila aku gagal membuat anak2ku tetap mencintai aku dan mengingatku di usianya yg dewasa kelak?
Semuanya sudah aku lakukan demi mereka seawal mungkin ... mengalahkan semua egoisme diri dan cita2 pribadi, hanya demi mereka. Hanya agar mereka terurus dan bahagia. Hanya agar mereka bisa merasakan bimbingan tangan seorang ibu sejak mereka masih berupa bayi merah hingga saatnya Tuhan menentukan mereka harus mandiri ... Hanya doa yg bisa selalu aku panjatkan ke hadiratnya, agar aku diberi waktu untuk melihat anak2ku menjadi besar dan dewasa ... agar aku diberi kekuatan tuk menjaga dan membesarkan mereka sekuat tenaga yg aku punya, sedalam cinta yg aku punya, tanpa mengharapkan pamrih dari mereka ...
Aku ingin mereka mendapatkan apa yg tidak pernah aku dapatkan di masa kanak2ku ... aku ingin yg terbaik bagi mereka: keluarga yg hangat dan penuh cinta yg akan selalu menyambut mereka dng pelukan hangat dan rasa cinta. Aku ingin mereka belajar mencintai dan menghargai milik mereka yg paling berharga, yaitu keluarga kecil ini, dan dengan demikian aku berharap mereka bisa belajar tuk mencintai sesama dan memuliakan Tuhan Sang Penciptanya.
Tapi ketakutan itu tetap menghantuiku .. apakah mereka akan mengingatku kelak? Di saat mereka sudah mandiri dan pergi dari rengkuhan sayapku? Apakah mereka tetap mencintai aku seperti aku mencintai mereka tanpa batas dan tak putus2nya?
Namun aku sadar, aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Tapi apakah aku salah bila aku selalu ingin ada di hati mereka? Aku ingin mereka mencariku di saat mereka merasakan cinta dan kerinduan.
Bisakah aku membiarkan burung2 kecil itu pergi mengepakkan sayapnya keluar dari kehangatan sarangnya?
Anandaku, I just want you to know, that everytime I listen to this song, I always pretend as if you guys were singing it for me ... someday.

Wednesday, July 06, 2005

Nasionalisme Banci, Mengapa Cenderung Mendewakan Amerika?

Terus terang aku posting tulisan ini dengan perasaan sangat sangat kesal. Selain krn perubahan hormonal yg aku alami krn kehamilan ketiga ini, juga krn aku sedang mengalami sendiri di apartemen mungilku ini krisis nasionalisme yg dialami oleh sebuah keluarga asal Indonesia yg baru saja menjejakkan kaki di negri impian ini. Aku kenal sang istri, sudah lama. Aku kira ia cukup terpelajar dan berpikiran maju. Ternyata manusia seteliti aku bisa juga salah menilai. Akhir2 ini aku lelah sekali mendengar obrolan tentang "Amerika lebih begini daripada Indonesia", yg tentu saja dilontarkan oleh mereka. Sebagai pendengar yg baik dan terus terang saja aku memilih santai saja dan tidak menanggapi secara serius krn aku LELAH dng mereka yg terus2an memuji Amerika begini begitu ketimbang Indonesia, krn pada kenyataannya mereka baru berapa kali 24 jam saja menikmati indahnya fasilitas dari pemerintah Amerika. Mereka juga mendapat fasilitas LANGSUNG ENAK berupa fasilitas penginapan gratis dari aku dan suamiku, krn katanya, mrk berbujet pas2an dan ingin ngirit2 dulu selama di sini. Katanya juga mrk mau cari sendiri biaya kuliah suaminya dng bekerja keras banting tulang di malam hari. Semua informasi mrk dapat LANGSUNG ENAK dariku dan kawan2, trus kalo mau daftar ini itu tinggal tanya, gak usah susah2 cari informasi. Kadang sebagai manusia normal, aku merasa ngga adil, kok dulu waktu aku begitu rasanya sulit sekali. Kok mereka bisa lewat jalan tol?

Balik lagi ke nasionalisme banci mereka, yg aku tau mrk di Indonesia berasal dari keluarga yg cukup terpandang, punya duit tentunya, kerjaan OK, dan bisa tinggal layak tak kurang satu apapun, kok bisa2nya mempertaruhkan semua yg mereka punya hanya untuk jadi pekerja kasar di negri orang. Terus terang saja, aku tak pernah bilang kalau aku lebih suka tinggal di Amerika dibanding di Indonesia. Buatku dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Memang di Indonesia aku harus kerja keras, tapi aku merasa di sanalah aku bisa menjadi diriku sendiri, bebas dari rasisme dan yg penting bisa bekerja. Amerika memang bagaikan surga buat pendatang, yg punya duit tapinya. Bila coba2 nekad jadi ilegal, tau sendiri lah akibatnya. Tiada ampun dan ancaman deportasi senantiasa mengintai kita. Tapi mengapa banyak yg memilih cara spt ini ya? Aku tidak pernah membanding2kan negaraku dng Amerika, krn aku tau biarpun negaraku miskin dan sarat hujatan, di sanalah aku mendapatkan semua yg ada pada diriku saat ini. Begitu besar hutangku pada negara yg katanya bermental tempe itu. Bila hidup tidak melemparku ke negri ini, tentu dng senang hati aku jalani hari2 ku di Jakarta, sebuah kota sumpek yg menjanjikan sejuta impian, bila kita mau berusaha dan punya koneksi tentunya. Aku tidak pernah bilang aku suka tinggal di sini, krn aku berprinsip "di sini senang di sana senang". Bila Tuhan melemparku kembali ke tanah airku, dengan senang hati aku terima dan aku coba menyusun hidup baruku di sana. Mengapa tidak? Lebih baik aku jadi gembel di negri sendiri daripada disia2 di negri orang.

Tunggulah sampai mrk merasakan sendiri pahitnya jadi pendatang di Amerika, tuk saat ini silahkan mereguk manisnya madu "Selamat Datang" ..... who cares with the next.

Thursday, June 09, 2005

Aku, 17 tahun lagi

Scene 1

Bocah kecil itu mendekatiku, mengelus punggung tanganku dng lembut. Aku yg sedang terpaku menikmati indahnya sang surya yg perlahan mulai merayap menghilang dari cakrawala, terhenyak.

"Mama, tolong aku pakaikan sepatuku," katanya.

Aku pun tersenyum memandang ke arahnya, wajahnya yg polos sama sekali tak menyiratkan beban hidupnya. Kulitnya yg kecoklatan, sekarang bersih dan sehat, beda sekali dengan dia yg dulu saat pertama kali kami ajak bergabung di Yayasan kami.

Dia bukan buah rahimku, tapi dia "anakku".

"Oh OK dear," kataku, sesekali berbahasa Inggris.

"You have to be hurry, ayahmu pasti akan segera datang," tambahku, dan dia tersenyum sambil matanya memancarkan binar2 ceria, terbayang olehnya akan segera bertemu dng ayah kandungnya, seorang pemulung yg mencari nafkah di daerah jantung ibu kota Jakarta.

"Yes, Mama ... sampai jumpa besok," ujarnya.

Dan aku pun beranjak dari bangku kesayanganku, menggandeng tangan nya dan mengajaknya ke teras depan bangunan tua Yayasan Kami, dimana teman2nya yg lain masih ada yg duduk2 atau bermain bersenda gurau sambil menanti dijemput orang tuanya.

Rata2 mereka anak yg tidak mampu, orang tua, atau hanya ibu atau hanya ayahnya, harus bekerja sebagai pemulung di pelosok belantara ibu kota, dan kami mendirikan satu tempat penampungan yg khusus dijadikan shelter bagi mrk, anak2 itu, saat orang tuanya bekerja. Suatu tempat dimana mrk bisa mendapatkan apa yg menjadi hak mereka sbg anak2. Suatu tempat dimana mrk bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman2 baru yg tidak bisa mrk dapatkan selama ini. Suatu tempat di mana mrk bisa terhindar dari perampokan besar2an thd masa kecil mrk.

Scene 2

"Coba deh May, di adegan Egy memutuskan hubungan kasihnya dengan Ega, kamu ekspresikan tiga kata: "I love you" dalam berbagai emosi. Ini penting sekali dan merupakan kekuatan dari bagian cerita secara keseluruhan, dan dlm scene itu hanya ada dua dialog: "I want to break up", dan "I love you".

Demikian Zeke, seorang sutradara muda, seorang temanku, yg sedang mengarahkan actingku, di sebuah syuting film, suatu hari.

"Hmm ...," aku menjawab dng memutar otak, serius, membayangkan kira2 ekspresi apa yg akan aku lakukan di depan camera. Ah, mengalir aja deh, ikuti instinctku. Sejak lama aku menyukai drama dan seni peran. Bahkan sejak SMP aku ikut mendalami ekstrakurikuler drama di sekolah. Tak aku sangka akan sangat berguna bagi hidupku, biarpun agak terlambat.

Aku seorang aktris. Bukan aktris kacangan spt layaknya pemain2 sinetron di layar gelas yg menjamur akhir2 ini, yg tidak punya karakter dan ciri khas yg kuat shg mrk timbul tenggelam, terapung2, terlempar dan tercabik2, bagaikan kapal di laut lepas yg kehilangan arah. Aku hanya mau bermain di film2 bermutu, yg sesuai penilaianku bisa memajukan perfilm-an di Indonesia. Yg menurut aku bisa memberikan kesempatan bagi warga Indonesia tuk mengasah instinct mrk sbg penonton yg kritis dan mencintai film produksi sendiri.

Soal honor? Besar tentu, dan perlu. Karena aku memerlukannya untuk membiayai operasional di yayasan kami.

Dunia keartisan yg aku hadapi dan di sisi lain kehidupanku di dunia sosial yg dekat dng konotoasi kumuh, tentu lah sangat bertolak belakang. Tapi aku memandang jurang pemisah itu sbg suatu tantangan, mengapa tidak bisa dijembatani dan bukannya makin diperlebar?

Scene 3

Umurku bisa jadi sudah bertambah 17 tahun dari aku yg sekarang ini. Tapi justru hidupku dimulai dari titik ini. Hidup ku sendiri, hidup yg aku tentukan sendiri. Dimana anak2 kandungku sudah tidak memerlukan aku 100% lagi, dan aku tidak melihat pengaruh suamiku di impianku tersebut. Aku, hanya aku.

Ketakutanku yg terbesar adalah menjadi kaya, dan aku yakin aku tak akan pernah kaya harta. Pernah aku terlibat pembicaraan dengan beberapa teman, dimana kami menghayalkan apa yg akan kami lakukan bila mendapat lotre satu juta dollar. Jawaban mereka tentu saja standar hedonisme. Jalan2, hura2, beli rumah mobil barang2 mewah. Sementara aku?

"Wah kalau gue sptnya akan sumbangkan uang itu untuk yayasan yg memerlukan. Soalnya buat gue, uang kaget ya mesti dihabiskan untuk hal2 yg bermanfaat buat sesama. Kalau gue keep sendiri, bisa gila kali gue ya?"

Mrk tertegun, bisa jadi mrk langsung menilai aku sok suci, sok religius, sok dermawan. Padahal? Aku bukanlah seorang yg fanatik pada suatu agama. Aku bukan orang suci, tentu saja, dan aku bukan lah orang yg rutin mendermakan uangku. Keadaan kami serba susah dan pas2an. Seringkali dng kondisi suamiku yg kurang inisiatif dan kurang kreatif, dan keterbatasan2ku dlm memanage waktu, kami melakukan kesalahan dan kebodohan2 dlm hal financial kami. Tapi ya sudahlah, kami tetap bersyukur anak2 bisa makan teratur, kami punya tempat tinggal yg layak dan kami bisa menyekolahkan anak2 kami. Tapi justru itulah yg membuat aku bercita2 untuk mendermakan uang kaget itu seluruhnya kpd mrk yg membutuhkan, krn kami merasa kami sudah puas dng kondisi kami yg sekarang ini. Kami merasa terpacu dng kesusahan ini dan itulah yg tetap membuat kami rajin bekerja dan berusaha. Ketidakkreatifan? Itu hanya salah satu kekurangan kami, dibalik kelebihan2 kami lainnya. Antara lain ya kelebihan tuk bisa selalu mengambil hikmah dari kejadian2 yg kami alami. Learning to see any blessing in disguise dari setiap cobaan yg kami temui.

Kekerasan dlm hidup yg aku alami hingga detik ini, membuatku sadar dan makin menyukuri karunia-Nya, my creator, my God. Ternyata aku sangat beruntung. Ternyata masih banyak yg lebih menderita daripada aku. Impianku, menjadi tua bersama "anak2ku", mendirikan yayasan, menjadi artis tuk mensupport yayasan kami, dan menjadi lilin yg bersinar terang di malam yg kelam, mudah2an tidak terlalu muluk.

Tertanda: Aku, 17 tahun lagi, di suatu tempat di sudut kota Jakarta, Indonesia.

Thursday, May 12, 2005

Maya IDOL

Image hosted by Photobucket.com
Bukannya aku berganti occupation jadi nyonyah Billy Idol lho? Ogah lah ya hehehe, tapi krn aku punya cerita menarik sebagai berikut:

Ngomong2 masalah komentar, ada temen kantor gw ikutan funky mom, dia itu selalu mengidolakan "Mamah Igenk" karena menurut dia, mamah igenk itu seorang ibu yg hampir sempurna, ibu rumah tangga yang ngurus rumah, suami, dan anak sendirian, tanpa pembantu. Udah gitu katanya, wajahnya mamah igenk ini kemayu banget. Trus tadi pagi dia ngeliat blog elo yang chavelli itu, dia langsung ke tempat gw, dengan mukanya yang lugu,bengong melongo gitu, dia ngomong,
"Ca, kok mamah igenk jadi begitu sich tampangnya?
Kenapa ama rambutnya? Kok cepak gitu?,
badannya gendut karena abis ngelahirin kali yaa?
Dia frustasi yaa ca karena kelamaan tinggal disana?
Waduhh kok maya jadi gitu sich???
gw ga jadi dech ach ngidolain dia, kenapa sich dia jadi gitu?
Gw ngikik aja denger komentarnya dia, sampe ga bisa jelasin kenapa loe berubahkatanya sekarang.
Ayooo Bunda maya, jawab pertanyaannya.... hehehhehehehe

***

Kalau kamu bertanya2, siapa sih Mamah Igenk itu? Jawabnya: Aku, dulu. Memang aku pernah iseng2 membantu memoderatori salah satu milis ibu2 muda di Jakarta, yg waktu itu cukup mendapat respons positive dari para milisters dan dari situ pula aku mendapat banyak teman virtual yg bahkan masih berhubungan baik denganku hingga kini. Banyak sekali jasa milis itu terhadap kehidupanku, dulu dan kini. Sayang, karena ada pertimbangan dan kekecewaan dalam diriku yg membuatku mundur dari sana. Selain aku merasa sudah tidak mampu lagi berusaha seorang diri, juga aku merasa aku sudah menciptakan suatu image yg "salah" mengenai diriku sendiri di mata orang lain, terutama orang lain yg tidak aku kenal baik dan hanya tahu aku sebagai seorang "Mamah Igenk" dan bukannya mengenal aku sebagai seorang "Maya".

Sebagai seorang moderator, aku berusaha menjalankan tugasku sebaik2nya, dan karena saat itu aku sedang senang2nya dengan masalah parenting, ngga heran kalau aku berusaha ikut aktif mendiskusikan setiap masalah2 yg dihadapi para member, sehingga terkesan aku itu selalu tahu semua jawaban akan permasalahan mereka dan saran2ku dapat diandalkan mereka dalam menyelesaikan problem2nya. Padahal sungguh bukan itu maksudku.

Aku takut bila terlanjur tercipta image yg demikian tentang diriku, maka aku tak lebih dari seorang CELEBRITIS, yg dijadikan idola oleh masyarakat tanpa mereka mau mengenalku lebih dekat sebagai seorang teman. Aku tidak mau mendiktekan kepada mereka, apa yg harus mereka lakukan. Sungguh bukan itu maksudku. Aku hanya ingin memancing minat milister yg lain untuk ikut urun rembug dan sharing bersama kami, tapi sayang justru yg terjadi adalah sebaliknya, di luar kuasaku sebagai moderator dan manusia biasa.

***

Ketika aku mendapat input tentang cerita di atas dari seorang temanku, aku tersenyum getir. Ternyata yg aku takutkan terjadi juga dan aku sudah bisa menduganya. Tapi aku merasa, tak sia2 aku keluar dari milis yg aku cintai itu, krn semakin cepat aku keluar, semakin cepat hal2 yg aku takutkan bisa diatasi dan mudah2an tidak terjadi. Aku ingin aku dianggap sebagai moderator dan teman mereka, bukan moderator yg ditakuti dan diidolakan luarnya saja. Sehingga biarpun aku berbuat hal2 yg aneh sesuai dng keinginan bebasku, mereka tidak akan kaget atau mencaci maki aku hanya krn mereka tidak tahu aku yg sesungguhnya atau dengan kata lain mereka TAHU aku tapi tidak MENGENALKU.

Itulah bedanya antara teman dan fans. Teman tahu apa yg terjadi pada diriku, pahit manisnya dan perjalanan hidupku, krn kami saling bertukar kabar dan cerita. Biarpun terputus hubungan, bila suatu saat tersambung lagi, kami tidak akan segan saling curhat dan bercerita, menceritakan kisah hidup kita yg sempat terpotong. Beda dengan fans, yg hanya tahu bahwa aku adalah seorang sosok idola yg selalu baik, selalu benar, selalu dikagumi dan selalu cantik. Bila tiba saatnya aku terlihat buruk, aneh dan sudah tidak populer lagi, maka aku akan dicampakkan; dicopot gelar "IDOL"-nya.
***
Jujur saja, aku tidak menyalahkan fansku untuk bersikap spt itu terhadap perubahan2 yg terjadi pada diriku saat ini. Karena buatku saat ini, aku bukan lagi "Mamah Igenk"; aku bahkan sudah lama tidak memakai nick itu setelah keluar dari milis tersebut. Aku ya aku, namaku Maya, seorang perempuan berumur 28 th, ibu dari dua anak dan istri dari seorang pria yg beruntung mendapatkan aku ... yg punya kehendak bebas untuk berbuat apa yg diinginkannya selama tidak merugikan dirinya sendiri dan keluarganya. Sekarang aku sudah menjadi "Mamah Igenk and Yoyo" ... sekarang aku lebih gemuk dibanding aku yg dulu, sekarang rambutku antik bin nyentrik ala rambut penabuh drum di band Blink 182, yg tentu saja tak ku sengaja melainkan memang setelah aku babat habis, rambutku tumbuh tegak ke atas dan tidak bisa ditidurkan biarpun sudah memakai jelly dan sejenisnya.
So what do you expect from me after the changes that I've done?
Masihkah kamu mengidolakan aku? atau masihkah kamu mau berteman denganku? Hanya karena aku berganti penampilan luarnya saja? Bila kamu adalah fansku, sungguh aku tidak menyalahkan pemikiran kamu kalau kamu sekarang membenci aku dan penampilan baruku. Bila kamu temanku, sungguh picik bila kamu memusuhi aku HANYA gara2 perubahan yg aku alami ini ... Mengapa? Karena seharusnya kamu tahu apa yg telah terjadi padaku selama ini, suka duka dan perubahan yg aku alami. Seharusnya kamu bisa memahami kehendak bebasku .. tapi aku sadar bahwa aku tidak bisa memaksamu untuk selalu setuju kepadaku dan selalu memaklumi keadaanku, wahai temanku. Maafkan aku sudah berkata bahwa sikap memusuhi aku adalah picik ... Sungguh aku berharap bila kau tak suka pada apa yg aku lakukan, katakanlah sejujurnya, wahai temanku ... supaya tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita.
You know, inside myself I've never changed. I am still the same person like the one whom you first met in the past ...
Will you accept me as I am like I do accept you
for who you are, my friend?
Image hosted by Photobucket.com
Aku bukanlah seorang sosok yg pantas dianggap sebagai seorang Kelly Clarkson dan kamu sebagai Simon Powell, Paula Abdul atau Randy Jackson-nya .. biarpun kamu bebas menilai aku semau kamu, tapi ingatlah bahwa aku tidak sedang berlaga untuk sebuah gelar pun di hadapanmu ...

Sahabat Sejati

Image hosted by Photobucket.com
Dialog antara seorang teman dan aku ...

"Siapa sih sahabat sejatimu, May? Kalau aku sih jujur aja, selama ini menempatkan Vero sebagai sahabat sejatiku. Bayangkan saja, sejak kecil kami sudah bersama2 ... "

Mataku nanar menerawang jauh ... sahabat sejati? Rasanya aku tak punya ...

Masa kecilku kuhabiskan di sebuah kota kecil nun jauh di ujung timur pulau Jawa, yg cukup berkesan dan menyenangkan bila ditilik dari sudut aku kenal banyak cowok imut yg ganteng dan bahkan sudah naksir beberapa cowok kecil yg rasanya pantas jadi kandidat pria cosmo bila mereka besar nanti. Atau bisa dibilang pahit, krn aku sudah tidak punya bapak lagi sejak kapan tepatnya aku lupa. Yg jelas setiap saat aku tanya kemana bapakku, mama pasti bilang:
"Papamu sedang berlayar"
... yg menyebabkan aku malah bangga krn otak kecilku yg polos mengira bahwa ayahku seorang pelaut. Seorang pelaut yg gagah berdada bidang, berseragam putih bersih dan bercambang menutupi sebagian pipi dan dagunya. Itulah gambaran ayahku yg ada di benakku waktu itu. Sampai pada akhirnya aku lelah menanti sang pelaut yg tak kunjung berlabuh.
Ke manakah engkau, Papa?

Hidup hanya dengan memiliki seorang mama, masih lah hal yg aneh pada saat itu krn aku belum pernah menemukan temanku yg hanya memiliki mama saja atau papa saja. Aku minder. Tapi aku bangga pada mamaku yg cantik, luwes, pandai bergaul dan pandai berbahasa Inggris, bahkan aku ingat ia sempat menjalin hubungan dengan seorang bule asal Amerika, yg dulu aku sebut dng Mister Sam. Aku tidak peduli apakah Mister Sam akan menjadi ayahku suatu saat nanti, ataukah aku akan tetap tidak punya ayah selama2nya krn saat itu aku sibuk dengan urusanku sendiri: bermain dan berkhayal. Mungkin krn aku lahir di bawah zodiac cancer, aku memiliki talenta imajinasi yg sangat kuat. Bisa2 aku habiskan seharian mengkhayal dan menyusun ribuan cerita bagaikan skenario film dimana tentu saja aku sebagai pemeran utamanya. Sayang bila ternyata hidupku tidak lah seindah khayalanku itu .. mamaku meninggal dunia saat aku duduk di bangku kelas 3 SD. Aku kehilangan teman terbaikku ...

Hidupku sepi, aku pun makin menyendiri, minder dan larut dalam kesedihan. Herannya aku tak menitikkan air mata saat orang2 itu menutup lubang di tanah dimana mamaku disemayamkan untuk selama2nya. Lagi2 hanya imajinasiku yg menari2 menciptakan aneka cerita yg indah tuk menghibur lara di hatiku. Tanpa mama, aku kehilangan petunjuk. Seorang perempuan kecil yg liar, tumbuh tak terurus.

"Teman? "
Bagiku teman2 masa kecilku hanya numpang lewat saja. Aku pun berganti2 teman dekat, dari kelompok yg satu ke kelompok yg lainnya, yg kira2 mrk mau berteman denganku yg kecil dan pendiam ini, atau aku rela mengekor menjadi bayang2 teman yg populer di kalangan sekolahku saat itu, setia bagaikan dayangnya tanpa diberi kesempatan tuk menonjolkan diriku sendiri. Waktu sekolah menengah pertama, lagi2 aku kesulitan dalam berteman, krn terus terang hampir 90% murid di sekolah katholik itu berasal dari ras yg sama, dan aku termasuk dalam 10% ras yg berbeda dng mereka, yg kebetulan dianggap kurang level tuk bergaul dng mereka yg wangi2, cantik2 dan kaya harta. Beruntung masih ada yg mau berteman denganku, biarpun aku terus berganti2 bergaul dengan kelompok satu ke kelompok yang lain, yg masih mau menerima aku sbg teman mereka.

Setelah aku dipindahkan ke Bekasi, mulailah timbul rasa percaya diriku. Mungkin karena saat itu aku sudah bertumbuh menjadi setara dengan gadis2 remaja seumuranku, setelah sebelumnya aku direndahkan krn bentuk badanku yg super kecil, berdada rata dan tidak populer di kalangan teman2 sekolahku. Di kota baru ini tidak ada yg mengenal aku sehingga aku merasa, inilah saatnya aku mencari jati diriku.

Aku mulai berkawan dengan teman2 baru di sekolah menengah atas, yg thanks god berasal dari ras yg sama denganku, sehingga aku merasa sebagai salah satu ras mayoritas dan berani bersuara serta mulai menonjolkan diriku. Aku mulai merasa diterima oleh semua kelompok dan mulai populer di kalangan sekolahku, selain tentunya krn aku pandai bergaul juga krn prestasiku yg luar biasa di sana. Sayang krn aku baru di kota itu, rata2 teman baruku pun sudah memiliki sahabat sejatinya masing2, sehingga misi mencari sahabat sejati buatku tidak mencapai sasaran.

Selepas sekolah menengah, aku masuk ke akademi homogen, perempuan semua, dan lagi2 aku kesulitan menemukan sahabat sejatiku. Apalagi aku tinggal terkukung di rumah kerabatku, sehingga aku tidak bisa bebas mengikuti gaya hidup teman2ku, tidak bisa mengikuti kegiatan2 seru mereka di luar kampus krn aku harus turut membantu aktifitas di rumah kerabatku. Saat akhir minggu, teman2ku sibuk merencanakan akan dugem di mana, aku hanya bisa bilang "pass ajalah" krn aku harus kerja rodi beres2 rumah dan mencuci pakaian. Saat teman2ku bisa dugem di hari biasa, aku harus tidur manis di rumah krn memang aku dilarang keluar malam dan tidak boleh kos.
Rasanya masa mudaku hilang begitu aja ..
berlalu dengan membosankan.
Ngga heran kalau kemudian aku susah mendapatkan pacar. Hingga aku bisa awet bertahun2 menjalin cinta dengan seorang cowok yg sudah aku cintai sejak aku masih kecil. Biarpun jarak memisahkan kami, aku di Bekasi dan dia di Yogya, kami terus bersurat2an selama bertahun2 dan pertemuan muka hanya terjadi sekali selama kita berhubungan. Selanjutnya aku yg memutuskan hubungan krn kerabatku memintaku mencari pacar yg nyata ... real .. tidak hanya melalui surat2 saja. Nyata atau tidak nyata buatku hanya masalah kehadiran, absence. Sedangkan dalam menjalin hubungan pertemanan, perasaan lah yg bicara.

***

Kembali lagi ke sahabat sejati, buatku semua TEMAN ku adalah sahabat sejatiku. Bila engkau sudah memutuskan tuk berteman denganku, yakinlah kau sudah menjadi salah satu sahabat sejatiku. Aku sudah merasakan menjadi second degree or third degree friend, yg rasanya aku kurang istimewa di mata mereka, dan aku tak mau engkau merasa demikian. Buatku semua temanku adalah ISTIMEWA.
Image hosted by Photobucket.com

Buatku, hanya ada dua kubu: teman dan opponent. Sekali aku memutuskan menjadikanmu temanku, ibaratnya sekalipun engkau menamparku dimuka umum atas kesalahan yg kau tuduhkan kepadaku, suatu saat aku akan memaafkanmu dan menerimamu kembali sebagai temanku.

***

Kemudian temanku itu bertanya,

"Bagaimana dengan kamu May, siapa sahabat sejati kamu?"

Aku menjawabnya dengan senyum ...
Kau tau sendiri kan tanpa aku harus menjawabnya.

Friday, May 06, 2005

"American Baby"

Image hosted by Photobucket.com
Jangan salah mengira isi tulisanku kali ini adalah tulisan tentang "Million Dollar Baby", film pemenang piala Oscar yg diperankan oleh Clint Eastwood dan Hillary Swank yg sempat menguras air mata salah satu teman cowoku yg kelihatannya dari luar cukup "preman" bila ditilik dari penampilannya :p ... melainkan tentang bayi2 yg dilahirkan di negara United States of America yg notabene akan mendapatkan hak mereka sebagai warga negara Amerika secara otomatis biarpun mereka boleh memilih apakah akan menjadi warga negara Amerika, atau negara lain sesuai dng hak yg mereka miliki, kelak bila bayi2 itu berusia delapan belas tahun.

Image hosted by Photobucket.com

Sesuai dengan kondisiku, aku adalah seorang pendatang di negara ini yg berasal dari Indonesia, sebuah negri yg kaya dan cantik, selain kaya harta tentu saja tak lupa kaya akan KKN: korupsi, kolusi dan nepotisme. Kesenjangan sosial di negaraku sangat tinggi sekali, bukannya aku ber-hiperbola, tetapi inilah kenyataan yg harus aku akui. Si kaya akan semakin kaya, dan si miskin akan semakin tertindas dan menderita tanpa punya kesempatan mengecap hidup sebagai orang kaya. Mimpi kali ye? Kalau kamu ngga percaya, cobalah tengok kondisi negaraku pasca tsunami di akhir tahun 2004 lalu. Kehidupan di wilayah lain sepertinya tidak terpengaruh akan derita yg dihadapi oleh saudara2 di wilayah yg terkena musibah. Apalagi kehidupan di kota Jakarta; dugem jalan terus, hura2 tak pernah surut biarpun aku yakin mereka2 itu sudah ikut menyumbang dana bagi para korban musibah tsunami. Di jalan2 masih terlihat mobil2 mewah, di mall2 tak pernah sepi dengan para ABG atau orang2 yg menenteng tas tangan made by designer kondang yg harganya bisa jadi ratusan dollar amerika (sebutlah merk Coach, Gucci, Fendi dan konco2nya); itu belum termasuk sepatunya, jam tangan, bajunya, celananya, kaca mata hitamnya dan baju dalamnya? Plus perhiasan dan aksesoris trendy yg melekat di badan mereka? Belum lagi bedak, lipstick, make up dan parfum yg dipakainya? Bila ditotal jumlah harga barang2 yg dikenakan mereka saat itu, per orang, secara generalisasi, bisa mencapai sekitar 1,000 US dollar plus plus ... Hebat kan "orang Indonesia" itu?

Lebih hebat lagi para anak orang kaya Indonesia yg tinggal di Amerika, tidak semua tentunya, tapi bolehlah kali ini aku ungkapkan hal2 yg menjadi trend di kalangan orang kaya Indonesia yg kebetulan berdomisili sementara di negara ini, yaitu "trend melahirkan bayi di Amerika supaya si bayi dapat kewarganegaraan Amerika". Maka mereka pun berlomba2 untuk hamil dan melahirkan di sini, dengan dua pilihan: melahirkan dengan biaya sendiri atau asuransi pribadi, atau dengan cara memanfaatkan bantuan kemanusiaan bagi orang yg tidak mampu alias cari gratisan. Kalau yg pertama sih, aku ngga ambil pusing, krn aku yakin para pelajar di Amerika itu rata2 anak orang kaya, yg pastinya sanggup membayar cash biaya melahirkan yg jumlahnya antara 3,000 sampai puluhan ribu US dollar, atau membayar asuransi kesehatan ratusan dollar per bulannya; mereka yg tidak usah membanting tulang sehari2, tapi bisa merasakan bersekolah di kampus yg harga per quarternya bisa mencapai 6,000 USD; trus yg bisa makan sehari 3 kali yg mana sekali sehari bisa nikmatin makan di restoran mewah? Mereka yg bisa beli mobil mewah, bisa baru atau bekas, tanpa usah pusing mikirin kredit mereka bakalan ditolak krn mereka bisa bayar secara CASH? Ngga usah pusing2 mikirin beli bensin (bensin mahal euy!) krn tinggal menggesekkan aja kartu kredit mereka? Toh ntar akhir bulan dikirimin papah lagi uang saku bulanan tuk hidup sehari2.
How beautiful their life is.

Tak lupa gaya hidup ala anak orang kaya mereka pun lekat dalam pergaulan mereka sehari2. Obrolan tentang barang bermerk sekelas Gucci, Fendi dan Louis Vuitton menjadi topik menarik untuk diperbincangkan di telpon. Maklum, gak ada kerjaan; yg sekolah kan rata2 suaminya, sementara istri nebeng hura2 aja sembari menikmati segarnya udara Amerika yg tentu saja lebih segar bila dibanding Jakarta yg sumpek, panas dan berdebu. Shopping spree bersama pun jadi ajang hiburan yg menarik bagi mereka, selain tentunya arisan buat sekedar kongkow2 di cafe2 dan ketemu teman2 segank lainnya, dan mencoba masakan dari satu restoran ke restoran mewah lainnya. Liburan keliling Amerika? Siapa takut? Dari ujung ke ujung benua pun mereka jalani, anytime mereka ada waktu. Harga tiket pesawat dan hotel berbintang bagaikan membayar tiket KRL jurusan Depok aja. Bisa dua kali atau lebih dalam setahun dihabiskan untuk refreshing keluar state asalnya, seperti misalnya saat libur pergantian quarter. Memang sih cuma masalah waktu yg menjadi kendala mereka, karena urusan duit bukan mereka yg mikir. Bener ngga sih?

Katanya orang tua mereka di Indonesia kaya raya; buktinya bisa membiayai mereka (suami istri lho?) kuliah dan hidup di negara yg biaya hidupnya cukup mahal ini. Mereka juga lulusan universitas ter-borju (bukan ter-"baik" lho?) di Jakarta, yg dengan bangganya selalu diutarakan setiap saat berkenalan dan berbincang2 dengan teman yg baru dikenal mereka. Mereka bangga akan fakta bahwa mereka kenal banyak orang2 penting di tanah air; dari anak pejabat A, anak konglomerat B bahkan sampai anak pembalap Z.
Wuih, bikin orang kere seperti aku ini merinding dan rasanya kepingin lenyap ditelan bumi saking mindernya.

Sebenarnya aku ngga mempermasalahkan hal2 borju yg mereka lakukan nor omongan2 besar mereka yg kadang memerahkan kuping orang tak punya seperti aku dan suamiku ini. Kami yg harus berjuang dan bekerja keras untuk membiayai kuliah dan hidup kami sehari2. Kami yg harus menabung dan menghemat pengeluaran belanja bila ingin beli suatu barang. Kami yg sudah kere, tapi mengapa ada anak orang kaya yg tega2nya menipu dan menggunakan hak kami di negara ini, sehingga pada akhirnya kamilah yg kena getahnya. Pengalaman2 itulah yg membuat aku jijik pada mereka ... sudah kaya, tapi memanfaatkan hak2 orang tak punya ... tidak tahu malu!

Image hosted by Photobucket.com

Nyambung lagi ke American baby ya .... yg paling memalukan adalah si anak2 orang kaya di Indonesia tadi yg memanfaatkan fasilitas dari pemerintah Amerika yg dalam hal ini memberikan bantuan bagi keluarga yg tidak mampu, tanpa membedakan apakah mereka sungguh2 legal berada di negara ini atau cuma sementara, dalam hal biaya persalinan dan makanan bagi anak2 berusia 5 tahun ke bawah. Apa ngga malu kalo orang2 tersebut memanfaatkan fasilitas melahirkan gratisan, sementara tiap harinya menenteng tas2 mewah yg minimal harganya $500 itu kemana2? Yg mana tiap jalan2 pasti ganti tas (yg mahalan lho harganya, bukan tas tak bermerk dan butut spt punyaku itu) dan dari foto2 di album online-nya kamu bisa menghitung kira2 berapa banyak koleksi tas bermerk yg dia punya?

Selain itu mereka juga mengejar gengsi, supaya akta kelahiran si anak "made in America" atau biar si anak dianggap keren bila suatu saat kelak menuliskan tempat lahirnya sebagai salah satu kota di negara United States of America. Yg paling memprihatinkan adalah pemikiran bahwa dengan memiliki american baby, maka suatu saat nanti mereka sebagai orang tuanya bisa disponsori untuk menjadi warga negara Amerika pula.
Senaif itukah?
Sayangnya iya ... Dan yg paling membuatku prihatin adalah kenyataan yg terakhir tadi, yaitu menggantungkan harapan si orang tua pada si anak kelak; membebankan masa depan mereka pada si anak, yg berarti mewajibkan si anak untuk meng-klaim kewarganegaraan Amerikanya tanpa memberikan kesempatan si anak untuk memilih sendiri apa yg mereka mau sesuai dengan kehendak bebas mereka?
Image hosted by Photobucket.com

Itulah sebabnya aku hanya tertawa (antara geli dan jijik) bila aku dengar mereka menggosipkan aku; yg kere dan yg ngga punya barang2 bermerk spt yg mereka miliki itu. Ngapain aku merasa rendah dari mereka? Wong kita sama2 memanfaatkan fasilitas2 gratisan dari pemerintah Amerika kok. Bedanya cuma aku benar2 berada di kategori orang yg perlu "dibantu" sementara mereka tidak. Aku melahirkan anak keduaku di sini karena memang kami memutuskan untuk hamil lagi setelah kasus infeksi rahimku diobati oleh dokter di sini, yg mana bukan totalitas merupakan kemauanku pribadi kami untuk beranak lagi disini, melainkan sedikit dipengaruhi oleh saran dokter untuk mencoba hamil setelah kondisi yg aku alami itu. Punya anak lagi merupakan suatu tantangan buat kami, terutama dalam hal finansial, krn tentu saja kami harus menabung ekstra untuk masa depan mereka, dan juga tentunya untuk membiayai pengeluaran kami sehari2.
Sebenarnya aku takut punya anak lagi, apalagi aku harus mengurus sendirian tanpa ada yg membantu. Bayangkan saja sewaktu aku melahirkan anak keduaku, tak satupun sanak saudara yg menemani aku. Hanya teman2 dekat yg sudah begitu baik bersedia mengulurkan bantuan bagi kami. Habis mau import tenaga bantuan dari tanah air, kami ngga punya uang. Keluarga kami (aku dan suami sama2 orphan) juga ngga punya uang sebanyak itu dan bila ada pun aku yakin mereka akan pikir2 sejuta kali untuk menghamburkan nominal sebanyak itu hanya untuk tiket pulang pergi Jakarta - Amerika.
Hidup kami memang keras dan mandiri, tapi kami bangga karena kami tidak serendah mereka yg aku sebutkan di kriteria di atas tadi.
Sekelumit fakta ... Oh Indonesiaku ...
*** Foto2 courtesy of many sources from Images.Google.com
keyword: American Baby***

Aku dan Elastigirl

Image hosted by Photobucket.com


Gara2 nonton film "The Incredibles" baru2 ini, aku jadi ngefans pada sosok Elastigirl, si mamah dalam keluarga tersebut. Sebenernya film ini sudah cukup lama launching DVD-nya atau bahkan sudah tersedia di Blockbuster, jadi kalo cuma mau nyewa aja sih dari dulu2 bisa. Cuma karena aku emang jarang punya waktu buat nonton film yg berdurasi lebih dari satu jam, jadi aku kurang tertarik buat menyewa. Anakku yg pertama baru menunjukkan minatnya pada film ini setelah dia melihat iklan2 film ini di channel televisi Disney, dan memang dia langsung jatuh cinta saat dibelikan sama bapaknya dan ngga berhenti2 menyetel film ini di DVD. Mudah2an sih DVD player lungsuran kami ngga jadi rusak karenanya ... Mau ngga mau karena anakku menyetel film itu terus menerus, aku pun nimbrung nonton. Dari yg cuma sekilas2 aja, sampai yg ngga mau beranjak dari sofa gara2 penasaran dng lanjutan ceritanya.

***

Image hosted by Photobucket.com


Elastigirl atau yg nama aslinya Helen Parr, digambarkan adalah sosok heroic yg girly, keperempuan2an karena biarpun jago baku hantam dia tak lepas dari sisi sensualitasnya; sexy tapi jagoan. Yg akhirnya bisa ditebak, bersanding dengan si Mr. Incredibles, atau yg nama aslinya Bob Parr, di altar pernikahan yg membuahkan 3 orang anak (yg badung2 dan masing2 punya super power seperti enyak babenya). Elastigirl dulu dan kini tidak berbeda jauh, tetap terlihat cantik dan sexy, hanya saja kini penampilan rambutnya yg lebih pendek bermodel bob membuatnya nampak lebih dewasa. Setelah mereka pensiun menjadi superhero, Elastigirl menjabat sebagai ibu rumah tangga sementara Mr. Incredible bekerja di perusahaan asuransi untuk menghidupi keluarganya.


Image hosted by Photobucket.com


Itulah sebabnya aku ngefans berat sama Elastigirl, selain cantik, sexy dia punya banyak kesamaan denganku. Lihat aja, so far rambut palsu favoritku persis sama dengan model rambut si Elastigirl, padahal sumpah mati aku ngga kepikiran untuk mencontek habis model rambutnya pada saat browsing katalog wig di internet (aku sih jujur aja, cari wig yg kualitasnya bagus, modelnya keren, warnanya oke dan harganya lagi sale).


Image hosted by Photobucket.com

Dia dan aku sama2 ibu rumah tangga yg kerjanya ngurus anak di rumah. Dia pun sempat mengalami krisis kepercayaan diri, saat dirinya harus kembali menjadi superhero guna menyelamatkan suaminya yg sedang dalam bahaya. Apa bisa dia melakukan hal2 super yg pernah dia lakukan di masa lalu? Tapi ternyata dia bisa membuktikan bahwa dia bisa menjadi dirinya yg dulu, yg super dan cerdik, biarpun harus berpikir seribu kali terutama saat melibatkan anak2nya dalam misi penyelamatan Mr. Incredible.
Image hosted by Photobucket.com
Elastigirl adalah seorang ibu rumah tangga yg mesti ngurus anak2nya sendiri di rumah tanpa ada yg membantu, aku pun demikian.

Saat mengurus anak2 di rumah dia telaten sekali, terlihat saat nyuapin si Jack Jack misalnya, dan tegas saat menengahi perselisihan antara Dash dan Violet. Atau saat ia berdebat dengan Mr. Incredibles karena curiga suaminya pulang malem terus. Perasaannya sebagai perempuan sama tajamnya dengan aku sehingga dia bisa mencium gelagat yg kurang beres pada suaminya, biarpun bukan hal2 negatif yg dilakukan sang suami, tapi cukuplah suatu hal yg ditutup2i yg bisa mengundang kesalahpahaman, yg dalam hal ini adalah bahwa si Bob sudah keluar dari perusahaan asuransi dan bekerja sbg superhero bayaran, yg mana karena sudah berkomitmen dengan Helen bahwa Bob akan mengubur masa lalu superheroic mereka, maka Bob ngga berani bilang2 kalau dia balik lagi jadi superhero demi uang. Dusta atau rahaisa kecil pun bisa tercium oleh kami, para istri.

Emang sih aku juga ngalamin sendiri kalau ada hal2 yg disembunyikan suamiku dariku, pasti aku merasa ngga enak. Dan so far instinct-ku selalu benar dan terbukti.

Image hosted by Photobucket.com



Tapi Elastigirl bisa kembali ke bentuk badan semula seperti saat ia belum melahirkan anak2nya, kenapa kok aku susah banget ya mau nurunin berat badan barang sekilo aja?


Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Elastigirl berani mengambil keputusan dan bisa kembali menjadi dirinya yg dulu, kenapa aku ngga? Kenapa dia bisa ingat dng baik apa yg bisa dia lakukan di masa lalu dan masih percaya diri saat melakukan hal2 itu kembali? Misalnya saja saat ia harus mengemudikan pesawat terbang setelah sekian lama ngga nerbangin pesawat karena sibuk ngurusin anak? Aku kan dulu seorang yg periang, suka bergaul dan senang berhubungan dengan orang lain, seorang pekerja yg ulet dan handal, dan disukai banyak orang, mengapa sekarang aku mengurung diriku sendiri dan membelenggu keinginanku untuk maju serta membuang kesempatan untuk memperluas wawasanku bekerja sama dengan orang lain? Mengapa aku ngga berani? Mengapa aku selalu ketakutan? Mengapa aku tidak percaya diri?

Elastigirl biarpun sudah beranak tiga tapi tidak kehilangan sisi sensualitasnya sebagai perempuan baik itu di mata suaminya atau penonton yg melihat film tersebut, kenapa aku baru beranak dua saja sudah berpenampilan ala pembantu sehari2nya dengan alasan tidak punya waktu mengurus diri sendiri, atau bisa dibilang aku kehilangan sensualitas dan gairahku sebagai seorang perempuan yg "menarik"?

***
Image hosted by Photobucket.com

Semua yg ada pada diri Elastigirl membuat aku berpikir, kalau dia bisa mengapa aku tidak, terlepas dari apakah dia adalah sosok kartun dan aku adalah manusia nyata. Semangatnya telah menggugah aku untuk menjadi perempuan yg bisa memajukan dirinya dan menggali apa yg aku punya; biarpun sekarang aku sudah jadi emak2 merangkap pembantu karena stuck di rumah terus, karena keadaan dan komitmen berdua suami. Biarpun aku bukan superhero tapi aku merasa aku memiliki kekuatan super power di dalam diriku, untuk menjadi apa yg aku mau, mewujudkan apa yg aku inginkan tanpa terbatas oleh occupationku sekarang ini, sebagai seorang ibu dan seorang istri.
You go, Girl!
***Foto2 courtesy of many sources from image.google.com
keyword elastigirl***

Monday, April 25, 2005

Divorce Court Judge Mablean Ephriam, ESQ

Image hosted by Photobucket.com

"When Michael met Carissa, he thought she was a complete knockout. He loved showing her off but when she became pregnant and gained 100lbs., he began calling her names. He gained weight as well, but believed it was okay for a man to be large. Carissa was sick of his treatment and how she felt physically, so she decided to make a change and go on a diet. Unfortunately, Michael never changed his attitude towards her, so Carissa packed up his belongings and told him to get out!"

***

Image hosted by Photobucket.com

Begitulah sekilas cerita hari ini tentang pasangan yg mengajukan cerai di pengadilan dng Judge Mablean Ephriam, ESQ sebagai hakimnya dan direkam sebagai sebuah acara televisi yg cukup memikat mengikuti jalannya persidangan yg kadang alot, menggemaskan dan kadang mengharukan. Episode tadi siang yg aku tonton adalah tentang seorang pria, Michael, yg digugat cerai istrinya selama 7 tahun, Carissa, dengan alasan bahwa Michael "meninggalkannya" setelah ia gain weight saat hamil anak Michael, dan setelah melahirkan sang anak, Michael pun masih melecehkan bentuk badan Carissa yg memang bertambah berat 100 pounds dibanding saat Carissa masih perawan dulu dan belum punya anak. Bila dilihat dari penampilannya, Carissa, biarpun terlihat gemuk, tapi masih menyisakan kecantikan dari raut wajahnya, bukti kejayaannya di masa lalu. Sedangkan Michael, masih terlihat tampan rupawan, tegap dan berbody tegap aduhai terjaga dengan baik, biarpun ia mengaku kalau ia juga bertambah berat setelah menikah dengan Carissa.

Dari pembicaraan yg aku dengar, jelas2 Michael menganggap Carissa, dalam hal ini adalah istri, sebagai TROPHY, yg hanya pantas bersandang di sampingnya sbg pria, bila dalam keadaan yg rupawan. Bila sudah jelek dan kusam, lantas dicampakkan. Ia sendiri mengakui bila ia tidak lagi tertarik pada istrinya yg gemuk itu, dan beralih ke perempuan lain. Ia bilang ia tidak suka perempuan jelek yg gemuk dan tidak bisa menjaga badannya.

Sungguh kasihan ya si Michael itu? Aku yakin umurnya sudah mencapai 30 tahun, tapi mengapa masih berpikir layaknya seorang remaja saja? Yang membuat aku makin ngga mengerti, kenapa kalau dia ngga suka liat istrinya gemuk lantas ngga nyaranin istrinya ikutan program diet atau yg sejenisnya, kan banyak banget di Amerika ini? Toh yg dikandung itu anak dia sendiri, bukan anak orang lain?

Agak geram aku melihat gaya pria necis tersebut di layar televisi. Dan memang jelas tergambar dari kata2 yg dia ucapkan kalau dia itu type2 pria yg masih termakan teman. Kalau teman dia bilang A ya dia ikut A. Lucu ya? Uda nikah kok masih lebih berat teman dari pada istri. Dia mengaku malu waktu temannya bilang istrinya overweight. Dia ingin teman2nya memuji istrinya as a hot mama sehingga egonya sebagai laki2 bisa terpuaskan. What the hell?

Judge Mablean pun terlihat geram terhadap si Michael ini, kok tega2nya ninggalin anaknya, darah dagingnya sendiri, sejak si Marcus (nama anaknya) berusia 3 tahun, sampai sekarang pun ia belum pernah menjenguk Marcus lagi. Seenggak2nya kalo ngga mau sama mamanya, dia harus tetap bertanggung jawab kepada anaknya donk?

Waktu ditanya berapa penghasilan bulanan si Michael ini, dia jawab "twelve hundreds dollar per month" ... yikes! aku jadi mikir,

"Gile nih cowok dah kere, eh kekanak2an lagi .. uda ah, mbak, tinggalin aja"

Tapi aku agak ngenes juga pas si Carissa bilang kalo dia jg gak kerja ... waduh, what's wrong with that people sih? Padahal penampilannya necis2, keren2, punya anak, masak iya gak niat kerja dng gaji yg lebih dari itu, terutama buat menghidupi si Marcus dan menabung buat masa depan Marcus kelak?

Di saat terakhir acara, Judge Mablean mempertemukan Michael dng anaknya, Marcus di ruang kerja pribadi Judge. Mengharukan, Michael yg tadinya kelihatan menggemaskan (minta ditabogh!!!), luluh dalam tangis dan tak mampu berkata apa2. Dia hanya minta maaf krn tidak bisa hadir di sisi Marcus selama ini. Dan ketika Judge bilang pada Marcus, apakah ada yg ingin disampaikan pada ayahnya, si kecil itu bilang: "I love you" ....

Bayangkan saja, perbuatan ayahnya yg telah mentelantarkannya selama 4 tahun dibalas dengan kata cinta oleh seorang anak sekecil Marcus itu.

***
Sebagai seorang istri, Carissa juga terlihat kurang pandai memanfaatkan keadaan, terlihat dari saat ia ditinggal suaminya, ia tidak bekerja, tapi mengandalkan bantuan dari gereja untuk hidup sehari2. Terlihat ketidakmandiriannya dalam hidup, dan juga ketika Michael menambahkan selama mereka menikah Carissa tidak pernah memasak untuknya (biarpun ditegaskan kalau emang Carissa ngga bisa masak sejak gadis, tapi seenggak2nya kenapa ngga nyoba sih?), terus katanya Carissa juga tidak pernah bersih2 rumah. Lha terus ngapain donk tuh perempuan di rumah sehari2nya? Tidur? Memang kita ngga bisa nyalahin si Michael atau Carissa, mereka harus begini harus begitu. That's their life!

Yg membuat aku berpikir dalam adalah, ternyata masih ada orang yg lebih bodoh daripada aku dan suamiku dalam membina rumah tangga. Ternyata masih ada pria yg lebih kekanak2an daripada suamiku yg selama ini aku tuntut untuk "lebih dewasa dan bertanggung jawab sebagai seorang laki2 dan suami, serta seorang ayah" bila bersikap. Tapi aku sadar, suamiku adalah seorang dengan pribadi yg baik, dan berharap agar semakin hari kepribadiannya terbentuk lebih baik lagi dan berusaha memaafkan hal2 menyakitkan yg pernah ia lakukan padaku di masa lalu. Semoga aku bisa, aku kan lebih beruntung daripada Carissa ...

"I lose weight because I've tried very hard to lose it
and didnot gave up so fast,
but most of all, I lose weight because I wanted to,
for the sake of myself, not for anyone else".


***

Ide cerita dan foto courtessy of: http://divorcecourt.com/

Saturday, April 23, 2005

Siapa yg Lebih Beruntung

Bila aku sedang bercakap2 dengan teman2ku, via chatting atau pesan2 email, seperti biasa, kadang kala kami terlibat obrolan yg isinya temanku itu bilang kalau dia iri kepadaku, atau dia bilang aku beruntung sekali (daripada dia?). Kalau temanku bilang seperti itu, aku biasanya hanya tersenyum (emoticons smile mode on), biarpun dalam hati beribu sanggahan terhadap pujian temanku itu muncul, tapi aku lelah untuk berdebat. Biarlah orang lain menganggap aku beruntung, bukankah itu suatu karunia? Merasa beruntung, biarpun kenyataannya sungguh biasa2 saja, tak lebih dan tak kurang dari sesama teman2ku yg lainnya? (biarpun kalau dibanding dng orang2 yg tidak mampu, yg hidup di bawah kolong jembatan, dan kesusahan spt di perumahan kumuh Jakarta, jelas aku lebih beruntung "di satu sisi" yaitu bisa hidup layak dan tak kekurangan sandang, pangan dan papan - biarpun apt masih ngontrak). Dan dibanding orang2 kelas atas di Jakarta, yg hidupnya tidak pernah "tidur" barang sedetik pun krn otaknya terus berjalan memikirkan strategy bisnisnya, atau karena mereka selalu sibuk mengumpulkan materi, mengejar popularitas dan menghambur2kan uangnya untuk hal2 yg kurang perlu, jelas aku lebih beruntung. Karena aku bisa tidur nyenyak tiap malam tanpa harus takut bisnisku merugi dan aku tidak mengejar materi di dunia ini spt cara mereka mengumpulkan duit. Jadi aku lebih bebas stress daripada mereka).

***

Silvy bilang kepadaku,

"Waduh May, aku iri melihat foto2 kamu sekeluarga di Disneyland. Rasanya kepingin sekali ke sana jadinya. Mudah2an nanti ada yg mau menyeponsori aku lagi ya?"

Aku lagi2 tersenyum ... kali ini senyum pahit. Bayangkan saja, temanku Silvy, adalah sekretaris orang nomor satu di lembaga perbankan Indonesia yg baru2 ini dibubarkan. Kamu bisa bayangkan donk, gajinya berapa, dan bahkan aku mendengar kalau setelah kantornya dibubarkan, para pegawai di sana ramai2 jalan ke luar negri, menghambur2kan uang pesangon mereka yg jumlahnya bikin aku merinding (ternyata Indonesia itu kaya ya?).

Pernah aku berbincang2 dengan dia, dulu, dan lagi2 dia iri kepadaku. Dia bilang aku beruntung bisa tinggal di negri orang, sementara dia masih terpuruk di Jakarta2 saja. Waktu itu aku menghiburnya, aku bilang:

"Ah , sama aja kok, biarpun aku sudah ke Amerika, tapi aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di pulau Bali"

Kali itu dia yg tertawa ... mentertawakan kepolosanku, dan kebodohanku mungkin. Masak iya orang Indonesia belum pernah ke Bali? Eh, aku jujur kok, aku memang belum pernah liburan ke Bali, karena aku ngga punya uang untuk dihambur2kan untuk kesenanganku belaka. Aku bekerja so far, untuk menghidupi anak2ku, dan aku perlu banyak menabung buat rencana2 kami dan untuk anak2 ku kelak. Kebetulan saja sih sebelum sempat liburan ke Bali, aku sudah hengkang ke Amerika duluan.

Aku teringat saat aku lihat foto2nya di Friendster, dengan latar belakang jalan2 khas Eropa. Pastinya foto itu diambil saat dia dan rekan2 kantornya liburan ke luar negri ketika kantornya dibubarkan. Katanya sih ada yg membayari or bahasa kerennya "menyeponsori" perjalanan mereka. Jadi dia lebih beruntung donk daripada aku, yg pergi kemana2 harus merogoh kocekku sendiri dalam2 (sampai recehan2nya pun kepake buat membayar biayanya), sementara dia, tinggal duduk manis saja di pesawat tanpa pusing memikirkan biaya akomodasinya. So, siapa yg lebih beruntung dalam hal ini?

***
Seorang sahabat pernah berkata kepadaku,
"May, kamu beruntung banget bisa hidup di luar Indonesia yg kacau balau ini, macet dimana2, persaingan super ketat, polusi, kolusi, KKN ... memuakkan sekali."
Aku tersenyum .. kali ini manis sekali. Tapi lagi2 aku mengeluarkan kata2 untuk menghibur dia,
"Ah ngga juga kok Min, di sini memang enak, semua serba teratur, tapi kalau masalah persaingan ya sama, ketat juga. Kerjaan susah. dan terutama yg aku hadapi adalah masalah RASISME. Karena wajahku mirip dengan ras hispanik, maka bertambahlah perlakuan rasis terhadapaku, yg dianggap sebagai warga kelas sekian2 di negara ini."
Aku yakin ia pasti mengiyakan ucapanku. Biarpun aku tahu di lain kesempatan, ia akan mengulang lagi perkataan bahwa "aku beruntung" lebih daripada dia.
"Kamu beruntung May, punya suami keren, cakep, tinggal di negri semaju Amerika, dan punya kesempatan tinggal di rumah mengurus anak2mu, dibanding aku, tiap hari banting tulang jadi buruh, dikerjai dan diperbudak atasan, dianggap remeh karena bukan berasal dari ras yg sama dengan mereka, dan yg pasti sampai di rumah aku sudah capek sekali mau ngurusin anakku dan suamiku ... "
Aku ingat dia mengucapkan kalimat2 itu kepadaku, hal yg sama dengan yg pernah dia ucapkan kepadaku. Lalu akupun berkata, kali ini agak tajam dan lebih dalam daripada kata2 yg biasa aku ucapkan,
"Kamu jangan begitu Min, harusnya kamu bersyukur bisa diterima bekerja di institusi asing, yg gaji kamu jauh lebih besar daripada pekerja lain yg setara dengan kamu. Kamu diantar jemput pulang pergi, ngga usah repot mikirin pergi dapat omprengan atau ngga, pulang ntar naik apaan biar cepet sampe rumah. Kamu juga beruntung bisa pulang teng-go ... sementara orang lain sibuk mencari lemburan atau sengaja lembur biar pulangnya ngga terjebak macet. Masih banyak hal2 yg bisa kamu syukuri dari keadaan kamu sekarang ini, terlepas dari apa yg kamu banding2kan terhadap keadaanku."
Sekali lagi ia mengiyakan ucapanku.
Satu kalimat lagi aku tambahkan yg mungkin telak melegakan perasaannya,
"Biarpun suami kamu biasa2 aja bila kamu bandingkan dng suamiku, harusnya kamu bersyukur dia ayah yg baik bagi anakmu, dan setia sama kamu, daripada suamiku yg pernah berselingkuh ..."
Kali ini ia terdiam, aku rasa ia membenarkan ucapanku.
Bukan karena ia sahabatku maka aku tak bosan2nya menguatkan hatinya dan menghiburnya apabila timbul rasa iri akan keadaan orang lain yg "lebih" daripada dirinya. Menurut aku, tidak ada yg lebih dan tidak ada yg kurang, semuanya berbanding seimbang kecuali orang tersebut memang tidak mau berusaha dalam hidupnya dan tidak memiliki skala prioritas dalam meraih sesuatu. Dan tentu saja, tidak tahu bagaimana caranya mensyukuri apa yg telah ia raih, apa yg telah ia dapatkan, atau apa yg telah gagal ia lakukan di masa lalu. Menurutku semuanya patut disyukuri. Itu mungkin kunci senyumku selama ini bila mendengar teman2ku berkeluh kesah dan membanding2kan keadaan mereka denganku.
Syukurilah .... Baik dan buruknya hidupmu. Karena semua itu adalah karunia. Rumput tetangga memang selalu kelihatan jauh lebih hijau daripada rumput di halaman kita sendiri ... (tapi kita kan ngga merumput aka makan rumput, so why bother?????)